nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Ungkap Prostitusi Anak di Aceh, Polisi Menduga Masih Banyak Lokasi Praktik Lain

Khalis Surry, Jurnalis · Senin 19 Maret 2018 20:51 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2018 03 19 340 1875063 ungkap-prostitusi-anak-di-aceh-polisi-menduga-masih-banyak-lokasi-praktik-lain-MwDQTs9jzL.jpg Ilustrasi pengungkapan prostitusi anak. (Foto: Shutterstock)

BANDA ACEH – Satuan Reserse Kriminal Polres Kabupaten Aceh Barat mengungkap praktik prostitusi yang selama ini terjadi di wilayah tersebut. Kasus prostitusi anak itu terjadi di kawasan Gang Buntu, Jalan Baringin Maju, Desa Seuneubok, Kecamatan Johan Pahlawan, Kabupaten Aceh Bara, Provinsi Aceh, Jumat 16 Maret 2018.

Atas pengungkapan kasus tersebut, polisi menangkap dua mucikari yang merupakan pasangan suami-istri berinisial H (41) dan EY (35). Kemudian polisi mengamankan seorang bocah yang masih duduk di bangku sekolah menengah pertama berinsial R (15) yang dijadikan korban oleh para pelaku. Kini kedua pelaku dan korban berada di Markas Polres Aceh Barat untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut.

Kasat Reskrim Polres Aceh Barat AKP Fitriadi mengatakan, pelaku tidak hanya menjajakan anak di bawah umur, tetapi juga para perempuan yang berstatus janda. Pelaku memasang tarif untuk janda itu Rp300 ribu untuk sekali berkencan.

"Ini diketahui saat dilakukan pemeriksaan terhadap keduanya. Tersangka mengaku untuk yang janda ditarifkan Rp300 ribu untuk sekali kencan. Si mucikari mendapat keuntungan Rp100 ribu," kata Fitriadi saat dikonfirmasi wartawan, Senin (19/3/2018).

Sementara untuk anak di bawah umur, kata dia, para pelaku memasang tarif hingga Rp400 ribu dan si anak akan mendapat Rp300 ribu, kemudian selebihnya dianggap upah penggunaan lapak.

Kendati demikian, tersangka mengaku tidak memaksa perempuan mana pun untuk dijadikan pekerja seks komersial (PSK). Menurut tersangka, para korban datang kepadanya dengan keinginan sendiri.

"Mereka yang datang meminta pekerjaan, dan ditawarkan kerja ini (PSK), mereka langsung mau," ungkap Fitriadi.

Sementara itu, lanjut dia, polisi menduga masih banyak lokasi lain di wilayah Aceh Barat yang dijadikan praktik prostitusi. Berdasarkan hasil pemeriksaan terhadap pasutri yang menjadi tersangka itu, polisi tengah melakukan pemetaan terhadap sejumlah lokasi yang diduga kerap digunakan untuk prostitusi.

"Menurut tersangka masih ada sejumlah tempat lain. Kita masih mendalami kasus ini dan akan melakukan upaya penggerebekan melalui strategi yang disusun tim nanti," jelasnya.

Ia menerangkan, bocah berinisial R (15) yang diamankan polisi tersebut diketahui telah "bermain" sebanyak 16 kali dengan sejumlah pria hidung belang. Polisi pun masih melakukan pengembangan untuk mengetahui "pelanggan" yang pernah berhubungan dengan R.

"Praktik ini sudah dilakukan H dan EY hampir setahun, alasannya karena ekonomi, keduanya juga pengangguran," ucap Fitriadi.

Akibat perbuatannya, kedua pelaku dijerat dengan Pasal 76 juncto Pasal 88 Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perubahan atas UU 23/2003 tentang Perlindungan Anak, dengan ancaman 10 tahun penjara dan denda Rp200 juta.

(han)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini