Menteri Yohana Ajak Mahasiswa Jadi Agen HeForShe

Demon Fajri, Okezone · Rabu 21 Maret 2018 19:59 WIB
https: img.okezone.com content 2018 03 21 65 1876101 menteri-yohana-ajak-mahasiswa-jadi-agen-heforshe-KgKlwbogHW.JPG Foto: Demon Fajri/Okezone

BENGKULU - Penghapusan diskriminasi terhadap perempuan merupakan salah satu tujuan dalam pembangunan berkelanjutan atau Suistainable Development Goal (SDGs) ke 5, kesetaraan gender.

Pembangunan global tidak akan berhasil jika perempuan tidak mendapat kesempatan yang sama untuk terlibat dan ikut berperan didalamnya. Maka, dukungan dan partisipasi pemerintah, masyarakat, dunia usaha, hingga profesi sangat dibutuhkan bagi peningkatan kualitas perempuan, tidak terkecuali peran kalangan akademisi.

"Inti dari gerakan HeForShe, bagaimana mendorong pelibatan laki-laki dalam upaya-upaya melindungi perempuan dan mewujudkan kesetaraan gender," kata Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Yohana Susana Yembise, saat kuliah umum "He for She Goes to Campus", di Universitas Bengkulu (Unib), Rabu (21/3/2018).

Kalangan akademisi dapat berpotensi besar menjadi sumber daya dalam membantu Indonesia mewujudkan percepatan pembangunan dan kesetaraan gender. Salah satunya Gerakan HeForShe.

Gerakan ini menjadi kampanye global yang merupakan langkah solutif untuk mendorong pembangunan inklusif dan responsive gender, serta dapat diterapkan dalam institusi perguruan tinggi.

"Gerakan ini tidak hanya dapat diprakarsai kaum laki-laki, perempuan juga dapat terlibat dalam upaya-upaya menyadarkan dan mengajak laki-laki untuk lebih responsif terhadap perempuan dan anak perempuan serta mengakhiri kekerasan. Untuk itu, saya mengajak seluruh mahasiswa di Bengkulu untuk menjadi agen HeForShe,” ujar Yohana.

Gerakan HeForShe mengajak laki-laki terlibat sebagai agen perubahan dalam mencapai kesetaraan gender dan pemenuhan hak-hak perempuan dan anak perempuan, serta upaya mengakhiri kekerasan terhadap keduanya.

Kehadiran Yohana sebagai bentuk apresiasi terhadap respon positif Universitas Bengkulu yang telah menerapkan kuliah kerja nyata berbasis One Student Save One Family (OSSOF).

"Saya mengharapkan bahwa sejak awal, mahasiswa dapat mengenali situasi kehidupan masyarakat yang mereka lihat dan berada di sekitarnya. Dengan demikian, mereka dapat diasah kepekaannya untuk memahami masalah yang dihadapi kaum perempuan dan anak dalam masyarakat yang hendak ditanggulangi dengan berbagai program pembangunan,” jelas Yohana.

OSSOF menjadi salah satu gagasan dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA), untuk memperkenalkan realitas sebenarnya dari masyarakat khususnya kehidupan keluarga kepada mahasiswa, serta mengasah kepekaan mereka untuk melihat masalah pada tingkat akar rumput.

“Ketika para mahasiswa telah mampu meningkatkan kepekaannya terhadap isu perempuan dan anak. Saya berharap mahasiswa dapat mendukung misi bapak Presiden Jokowi yang sebelumnya telah dinobatkan sebagai salah satu dari 10 kepala negara terpilih menjadi HeforShe Champion World Leader," sampai Yohana.

"Bersama bapak Presiden mari kita lindungi kaum perempuan, anak-anak dan kelompok marjinal melalui 3 (tiga) fokus area. Seperti, penghapusan segala bentuk kekerasan terhadap perempuan dan anak perempuan, penurunan Angka Kematian Ibu (AKI), serta peningkatan partisipasi perempuan dalam politik dan pengambilan keputusan,” tambah Yohana.

(sus)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini