nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Petani Baturetno Curhat Minim Penggiling Padi ke Ganjar Pranowo

Bramantyo, Jurnalis · Kamis 22 Maret 2018 21:42 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2018 03 22 512 1876696 petani-baturetno-curhat-minim-penggiling-padi-ke-ganjar-pranowo-HwfdMduwsX.jpg Ganjar Pranowo berdikusi dengan petani Baturetno, Wonogiri. Foto Okezone

WONOGIRI – Calon gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo berdialog dengan Petani Baturetno, Wonogiri, Jawa Tengah. Dialog dilakukan dengan cara ngopi bareng Ganjar di Desa Kedungombo, Baturetno, Rabu (21/3/2018) malam.

Selama acara tersebut terungkap bahwa petani Wonogiri sudah mulai biasa bertani dengan pupuk organik selain menggunakan pupuk buatan pabrik.

Kepada Ganjar, masyarakat mengaku mereka tidak terlalu mengeluhkan adanya kelangkaan pupuk yang banyak terjadi di kalangan petani.

Karena pertaniannya sudah bergerak ke arah organik. Selain itu keberadaan Kartu Tani juga sudah membantu karena menutup peluang penyelundupan pupuk bersubsidi.

"Salut ini, warga desa mulai berani beralih ke organik. Nantinnya pertanian organik mampu membuat desa menjadi berdikari alias tidak bergantung pada pihak lain, termasuk pemerintah," ucap Ganjar Pranowo.

Masyarakat bisa mandiri (dalam penyediaan pupuk organik). Bahan pupuk organik bisa diproduksi sendiri. Pakan sapi juga dibuat sendiri. Sehingga tidak banyak bergantung pada pupuk subsidi dari pemerintah.

"Kalau yang lain geger pupuk subsidi, di sini tenang-tenang saja," lanjut calon gubernur Jateng nomor urut satu ini.

Selain itu Ganjar juga mendapat aduan dari masyarakat terkait minim dan terbatasnya mesin penggilingan padi (ricemill), bagaimana memperluas pemasaran beras organik, pemberian kredit lunak, dan pengairan sebagai faktor utama dari pertanian.

Seperti yang disampaikan Siswarini, pimpinan Kelompok Wanita Tani Desa Beji. Ia menuturkan, anggota kelompoknya berjumlah 154 petani. Saat ini 80 persen anggotanya sudah banyak yang beralih ke pertanian organik.

"Saat ini pupuk bisa kami buat sendiri, meski kami juga masih butuh pupuk kimia meski dalam jumlah yang sedikit. Justru masalah kami adalah terbatasnya ricemill," katanya.

Di samping itu petani juga memerlukan pelatihan untuk bisa memasarkan produknya juga perlu adanya mesin pengolah produk pertanian. Misalnya untuk pembuatan dodol dan keripik.

Pasalnya di wilayah tersebut ada perkebunan buah naga. Namun daya simpan yang pendek membuat warga mulai berinovasi membuat produk lain yang juga memiliki nilai jual tinggi.

"Kami punya produk unggulan buah naga, tapi kendala dalam pengolahan," ujarnya.

Mendengar keluhan warga Ganjar berjanji akan membantu termasuk untuk mesin pengolah makanan.

Sedangkan untuk pemasaran petani disarankan mulai menjual produknya dengan sistem online. Salah satunya melalui aplikasi regopantes.com yang merupakan aplikasi online milik Pemrintah Propinsi Jawa Tengah.

"Dengan menjual online, petani bisa mendapatkan keuntungan lebih banyak karena bisa langsung menjual kepada konsumen. Maka saya minta anak-anak muda di sini belajar online agar membantu bapak ibunya yang petani," pesan Ganjar.

(fzy)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini