Derita Sabiis yang Tubuhnya Kini Hampir 'Habis'

Tri Purna Jaya, Okezone · Minggu 01 April 2018 19:01 WIB
https: img.okezone.com content 2018 04 01 340 1880667 derita-sabiis-yang-tubuhnya-kini-hampir-habis-px6Er0ZXkE.jpg Sabiis, pria yang menderita sejumlah penyakit. (Foto: Tri Purna/Okezone)

LAMPUNG - Sabiis (45) tak mampu bergerak dari atas kasur yang terhampar di lantai. Dia haus, tapi tangannya tak kuasa meraih gelas yang ada di dekatnya. Dengan isyarat tangan, Sabiis memanggil istrinya, Asmawati (44).

Tubuh Sabii s mulai 'habis', hanya kulit membalut tulang. Badannya yang dahulu berisi kini menjadi lemah tak berdaya. Di rumah kontrakannya di Jalan Dr. Harun II, Gang Swadaya, Kelurahan Kota Baru, Kecamatan Tanjungkarang Timur, Bandar Lampung, Sabiis hanya mengandalkan sang istri untuk memenuhi setiap kebutuhannya.

Sudah lebih dari satu tahun Sabiis tak mampu bergerak. Kakinya yang dahulu kuat berjalan puluhan kilometer berjualan bubur sum-sum kini seakan tak bertulang. Bahkan untuk berdiri, Sabiis tak kuasa lagi.

Asmawati menuturkan, Sabiis menderita penyakit komplikasi mulai dari batu ginjal, paru-paru, darah tinggi dan jantung. Sebenarnya, Sabiis sudah didiagnosa sejak lama mengidap beberapa penyakit itu. Namun, kegigihan untuk menghidupi keluarga membuatnya tak memperdulikan peringatan dokter.

“Sakit-sakit mulai parah sekitar tiga bulan lalu, bahkan sampai badannya sampai kurus gitu. Dia sakit komplikasi kaya batu ginjal, paru-paru, jantung dan darah tinggi,” kata Asmawati, Minggu (1/4/2018).

Keluarga bukan tak mau mengobati Sabiis. Tak terhitung sudah berapa kali Sabiis menjalani perawatan bahkan hingga pengobatan tradisional. Tetapi, kondisinya tak juga membaik. “Sudah beberapa kali saya bolak-balik ke puskesmas, pengobatan alternatif juga sudah, dirawat di rumah sakit sudah. Tapi kondisinya masih kayak gini,” katanya.

(Baca juga: Kanza, Putri Kecil Pengidap Tumor asal Pangkalpinang Ini Butuh Pertolongan)

Dia menambahkan, sebelum menjalani perawatan di rumahnya, sang suami pernah dirawat d iruang Melati, Rumah Sakit Umum Daerah Abduk Moeloek (RSUDAM) selama satu minggu.

“Selama dirawat itu dia suka menjerit-jerit, bahkan ngomongnya sering ngawur katanya ada setan turun semua mendatanginya. Terus dia juga selalu minta pulang. Jadi saya bingung jadi terpaksa saya bawa pulang,” katanya.

Selain itu, kata dia, faktor ekonomi juga membuat dirinya harus merawat suami di kontrakan semi permanen. “Saya kerja pembantu rumah tangga, penghasilan saya hanya cukup untuk bayar kontrakan dan makan sehari-hari, anak saya ada tiga yang dua udah nikah, kalau dia dirawat di rumah sakit juga kasihan enggak ada yang nunggu,” katanya.

Asmawati pun pasrah. Tapi dia tak putus harapan agar Sabiis sembuh dan kembali bekerja. “Saya sudah pasrah dengan kondisi suami saya, jika mau diambil silakan ya Allah, dari pada seperti ini seperti tersiksa suami saya. Tapi, saya berharap dia bisa sembuh agar bisa bantu keluarga lagi,” harapnya.

(qlh)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini