nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Otoritas Malaysia Cegat Perahu Berisi 56 Orang Etnis Rohingya

Wikanto Arungbudoyo, Jurnalis · Selasa 03 April 2018 16:00 WIB
https: img.okeinfo.net content 2018 04 03 18 1881540 otoritas-malaysia-cegat-perahu-berisi-56-orang-etnis-rohingya-corckh2we0.jpg Petugas MMEA mencegat perahu berisi 56 orang etnis Rohingya di Langkawi (Foto: MMEA/AFP)

LANGKAWI – Badan Penegakan Maritim Malaysia (MMEA) mencegat sebuah kapal yang mengangkut 56 orang pengungsi etnis Rohingya di dekat Pulau Langkawi. Perahu itu sebelumnya berhenti sebuah pulau di selatan Thailand pada Sabtu 31 Maret saat terjadi badai.

Badan Pengungsi PBB, UNHCR mengatakan, kapal tersebut memang berlayar dari Rakhine State, Myanmar, dengan tujuan bersandar di Malaysia. Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Malaysia, Laksamana Ahmad Kamarulzaman Ahmad Badaruddin menuturkan, sebagian besar penumpang kapal adalah perempuan dan anak-anak.

“Secara umum 56 orang penumpang, sebagian besar anak-anak dan perempuan, dalam keadaan aman tetapi kelelahan serta kelaparan. Kami sudah memberikan air minum, makanan, dan bantuan kemanusiaan lainnya,” tukas Ahmad Kamarulzaman, mengutip dari Reuters, Selasa (3/4/2018).

Direktur Jenderal MMEA, Zulkifli Abu Bakar mengatakan, para pengungsi Rohingya tersebut dipersilakan untuk memasuki Malaysia dengan alasan kemanusiaan. Namun, mereka akan terlebih dahulu diserahkan kepada Departemen Imigrasi Malaysia.

Sebagai informasi, Malaysia saat ini sudah menampung lebih dari 100 ribu pengungsi etnis Rohingya dari Myanmar. Meski demikian, Negeri Jiran hingga saat ini belum menandatangani Konvensi Pengungsi PBB dan menganggap pengungsi sebagai imigran ilegal.

Menurut data PBB dan kelompok kemanusiaan lainnya, sekira 700 ribu orang etnis Rohingya melarikan diri dari Rakhine State usai terjadinya gelombang kekerasan oleh militer Myanmar. Operasi tersebut dilakukan usai terjadinya serangan kepada pos-pos perbatasan di Myanmar pada Agustus 2017.

Militer Myanmar mengklaim, agresi militer dilakukan guna menyapu habis kelompok militan ARSA di Rakhine. Akan tetapi, PBB dan pengungsi etnis Rohingya menyatakan sebaliknya. Militer Myanmar dituduh melakukan pembersihan etnis dengan mengusir etnis Rohingya dari tanah mereka.

Ratusan ribu etnis Rohingya lantas melakukan perjalanan berisiko dengan menyeberangi perbatasan menuju Bangladesh. Masuknya sebuah kapal dari Rakhine ke Malaysia itu membuat otoritas terkait memperkirakan akan lebih banyak lagi perahu berlayar ke arah perairan negara-negara Asia Tenggara.

Direktur Maritim Wilayah Utara Malaysia, Laksamana Pertama Rozali Mohd Said menuturkan, pihaknya meningkatkan operasi di Selat Malaka dan Laut Andaman sejak Minggu 1 April. Melansir dari The Star, dua kapal besar dan empat kapal kecil dikerahkan untuk mendeteksi keberadaan para pengungsi.

(war)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini