Kurikulum 2013, Sudah Siapkah Kita Terapkan?

Hessy Trishandiani, Okezone · Rabu 04 April 2018 11:17 WIB
https: img.okezone.com content 2018 04 04 1 1881886 kurikulum-2013-sudah-siapkah-kita-terapkan-ITqy7zD6XG.jpg Ilustrasi buku pelajaran sekolah di perpustakaan (Foto: Okezone)

BICARA tentang kurikulum memang selalu menarik. Kurikulum memang bisa dikatakan merupakan kerangka dasar yang menjadi landasan dalam membentuk pendidikan. Semua pihak tentunya memiliki peran masing-masing dalam suksesnya penerapan kurikulum terhadap murid-murid. Guru, orangtua, murid, hingga berbagai pihak lain yang terkait dengan dunia pendidikan.

Pihak yang akan bersentuhan langsung dengan kurikulum dan memikirkan cara penerapan yang efektif, tentunya adalah para pengajar. Seperti halnya kisah para guru yang mengajar di satu SMK swasta di daerah Ciranjang Kabupaten Cianjur ini. Mereka mengajar selama 10 tahun dari 2008-2017 di suatu SMK swasta yang kita sebut saja SMK “X”, di bidang keahlian Teknologi Pengolahan Hasil Pertanian (TPHP).

Karena kantor memang libur setiap Sabtu, salah satu guru mengisahkan bahwa dirinya ikut mengajar untuk mata pelajaran produktif.  Ia menuturkan bahwa waktu itu masih menggunakan Kurikulum 2006 (Pelaksanaan KTSP). Banyak pengalaman yang didapatkan selama mengikuti proses belajar mengajar dan proses persekolahan di sekolah tersebut. Keadaaan sekolah baik sarana prasarana praktik maupun guru produktif yang ada belum memadai, artinya masih banyak kekurangan baik secara kompetensi maupun penunjang lainnya.

Kurikulum 2006 (Pelaksanaan KTSP) berdasarkan landasan empiris, yuridis, dan teoritis. Karakteristiknya lebih menggunakan empat desain kurikulum yaitu disiplin ilmu, orientasi masyarakat siswa di lingkungannya, pengembangan teknologi, dan orientasi pada pengembangan individu tetapi mengakses pada kepentingan daerah. Jadi KTSP lebih banyak memberikan otonomi daerah yang luas kepada sekolah termasuk penyusunan pengembangan dan pelaksanaannya. Kelebihan KTSP adalah lebih ke pengembangan kompetensi dan sumber daya alam daerah dan untuk penilaian cenderung lebih banyak ke pedagogik atau ilmu pengetahuan dan kompetensi siswa berdasarkan daerah.

Ketika Kurikulum 2013 diluncurkan, para pengajar di SMK “X” tersebut mendapat undangan sosialisasi sampai diklat Kurikulum 2013. Banyak hal yang dihadapi ketika akan menerapkan Kurikulum 2013 tersebut. Sehingga para pengajar, terutama tim guru produktif bertanya, “Siapkah kita menerapkan Kurikulum 2013?”

Ketika masih menggunakan KTSP, yang lebih aktif saat kegiatan belajar mengajar berlangsung adalah para guru. Namun ketika kurikulum 2013 diterapkan, kegiatan pembelajaran menggunakan paham/pendekatan konstruktivisme, di mana pendidikan berbasis pada siswa. Pendekatan ini menekankan pada siswa yang harus lebih aktif berpikir dan menyimpulkan pengetahuan sendiri sesuai dengan yang didapatnya. Demikian pula saat memberikan pembelajaran, guru hanya sekadar menyampaikan konsep pengetahuannya. Namun sekarang guru harus bisa menjadi fasilitator dan pembimbing dalam menggali potensi dari siswa.

Kurikulum 2013 lebih mengacu kompetensi sikap, pengetahuan dan keterampilan secara terpadu, di mana kompetensi lulusan merupakan lulusan yang mencakup tiga hal di atas serta kelebihan lainnya adalah diharapkan siswa menjadi jauh lebih akif lagi. Di dalam pembelajaran kurikulum 2013,, siswa mengkonstruksi pengetahuan bagi dirinya. Inilah mengapa guru perlu menyusun proses pembelajaran dari sederhana menuju kompleks, dari ruang lingkup dirinya dan di sekitarnya menuju ruang lingkup yang lebih luas, dan dari yang bersifat konkret menuju abstrak.  Pengalaman belajar pokok dalam Pembelajaran Kurikulum 2013 meliputi mengamati, bertanya, mengumpulkan informasi, mengasosiasi, dan mengkomunikasikan.

Kembali lagi ke SMK “X”, untuk saat ini para guru telah siap mengajar dengan berpedoman pada kurikulum 2013. Saat ini juga situasi sekolah dan siswa sudah mulai kondusif. Beberapa hal mendukung perubahan perilaku siswa dengan adanya pendidikan karakter dan pembiasaan, misalnya salat berjamaah. Ini karena lokasi sekolah berada di bawah yayasan pendidikan Islam, dan di situ ada masjid serta madrasah sebagai sarana ibadah yang kondusif. Selain itu hampir sebagian besar guru telah mengikuti diklat kurikulum 2013, dari jumlah 19 orang guru, 15 orang guru telah mengikuti diklat kurikulum.

Khusus untuk mata pelajaran produktif, terutama materi praktik pengolahan hasil pertanian, saat ini peralatan pokok dan penunjang sudah dilengkapi walau belum 100 persen. Namun kegiatan praktik bisa dilakukan dan lancar. Di samping itu, sebagian guru-guru produktif. Walaupun sebagai tenaga honorer namun sudah mendapatkan sertifikasi dan sudah menerima tunjangan, sehingga lebih bersemangat dan bergairah dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar sehari-harinya.

Perhatian pemerintah dalam hal ini Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dalam melakukan pembinaan terkait program Kurikulum 2013 tidak saja terhadap SMK negeri, namun SMK swasta pun mendapat perhatian yang sama dengan diikutkannya dalam kegiatan diklat Kurikulum 2013. Penyelenggaranya adalah PPPPTK Pertanian, Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat, dan Dinas Pendidikan Kabupaten Cianjur.

Untuk guru produktif, dua orang guru telah mengikuti Diklat Kurikulum 2013 yang diselenggarakan pada 2014 dan 2015 dengan penyelenggara PPPPTK Pertanian Cianjur. Sedangkan untuk guru adaptif dan normatif, penyelenggaranya adalah Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat dan Dinas Pendidikan Kabupaten Cianjur.

Ada tiga dampak nyata yang dapat dirasakan oleh guru setelah diimplementasikannya Kurikulum 2013.

  1. Sumber daya manusia (lulusan) mulai meningkat dengan nilai UNBK yang baik;
  2. Ketika banyak alumni/lulusan SMK mulai banyak yang bekerja dan berwirausaha sendiri;
  3. Kelebihan lain adalah adanya pendidikan karakter.

Tentunya bagi para guru, menjadi lebih mudah dalam mengelola kelas karena pembelajarannya bersifat student centered, dan guru berperan sebagai fasilitator.

Dengan kesiapan seluruh perangkat sekolah, baik guru dan sarana serta prasarana lainnya, bisa dikatakan SMK “X” siap untuk melaksanakan kurikulum 2013. Jadi tidak ada alasan untuk tidak melaksanakan kurikulum 2013.

(hth)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini