Negara Berkembang Akan Pelajari Cara Redupkan Matahari

Agregasi Antara, · Kamis 05 April 2018 01:00 WIB
https: img.okezone.com content 2018 04 04 18 1882233 negara-berkembang-akan-pelajari-cara-redupkan-matahari-auA9X4hjKc.jpg Ilustrasi. (Foto: Reuters)

OSLO - Sejumlah ilmuwan dari negara-negara berkembang berencana untuk meneliti cara meredupkan sinar matahari untuk memperlambat perubahan iklim. Mereka berharap bisa menemukan bahan kimia buatan manusia yang berfungsi menahan sinar matahari dan beresiko lebih rendah dibanding efek merusak kenaikan suhu global.

Penelitian "solar geo-engineering", yang akan meniru erupsi vulkanik besar yang bisa mendinginkan suhu bumi dengan menahan sinar matahari melalui gumpalan abu, hingga kini masih didominasi oleh negara-negara kaya dan universitas ternama seperti Harvard dan Oxford.

Sebanyak 12 ilmuwan -- negara-negara berkembang seperti Bangladesh, Brasil, China, Ethiopia, India, Jamaica, dan Thailand -- menulis di jurnal Nature pada Rabu bahwa kelompok miskin adalah warga yang paling rentan terhadap pemanasan global dan harus lebih banyak terlibat.

"Negara-negara berkembang harus memimpin dalam penelitian 'solar geo-engineering'," kata mereka.

"Ide ini secara keseluruhan memang terdengar gila. Namun secara perlahan-lahan mulai diterima di kalangan dunia penelitian," kata ketua peneliti Atiq Rahman, yang juga merupakan kepala Bangladesh Centre for Advanced Studies, kepada Reuters.

Penelitian mengenai rekayasa sinar matahari itu berpotensi akan terbantu oleh proyek senilai 400.000 dolar AS dari Solar Radiation Management Governance Initiative (SRMGI), yang pada pekan ini untuk pertama kalinya meminta para ilmuwan untuk mengajukan proposal pengajuan dana.

SRMGI didanai oleh Open Philanthropy Project, sebuah yayasan yang didirikan oleh Dustin Moskovits, salah satu pendiri Facebook, beserta istrinya, Cari Tuna.

Dana tersebut bisa membantu para ilmuwan dari negara-negara berkembang untuk meneliti dampak regional dari rekayasa sinal matahari seperti terkait kekeringan dan banjir, kata Andy Parker, direktur proyek SRMGI.

Rahman mengatakan bahwa para akademisi tidak akan berpihak dalam soal apakah rekayasa sinar matahari akan bermanfaat. Di antara ide yang bermunculan adalah: penyebaran partikel sulfur reflektif oleh pesawat di atmosfer bumi.

"Teknik ini kontroversial, dan memang demikian. Masih terlalu dini untuk mengetahui apa dampak-dampak yang bisa ditimbulkan. Ini bisa berguna, tapi juga berpotensi merusak," tulis para ilmuwan di jurnal Nature.

Tim pakar iklim di PBB, dalam laporan awal yang bocor mengenai perubahan iklim yang akan dipublikasikan pada Oktober, kini masih skeptis terhadap rekayasa sinar matahari. Mereka mengatakan bahwa proyek ini "tidak dimungkinan secara ekonomi, sosial, maupun institusional." Beberapa di antara resikonya adalah mengganggu pola cuaca, sulit dihentikan setelah dimulai, dan membuat negara-negara menjadi tidak berkomitmen untuk mengubah bahan bakar fosil menjadi energi terbarukan.

Namun, Rahman mengatakan bahwa negara-negara maju sudah "gagal" dalam memenuhi janji mereka mengurangi emisi gas rumah kaca sehingga membuat pilihan radikal semakin menarik.

(dka)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini