nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Dosen ITB Ciptakan Aplikasi Canggih Pendeteksi Banjir

Susi Fatimah, Jurnalis · Minggu 08 April 2018 09:35 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2018 04 08 65 1883679 dosen-ipb-ciptakan-aplikasi-canggih-pendeteksi-banjir-Xyz4TsOmC6.jpg Aplikasi FEWEAS karya Dosen ITB

JAKARTA – Aplikasi pendeteksi potensi banjir Flood Early Warning and Early Action System (FEWEAS) karya Dr. Armi Susandi mendapatkan apresiasi dari Rektor ITB sebagai aplikasi canggih prediksi kebencanaan yang mampu mengurangi resiko kebencanaan banjir di Indonesia.

Apresiasi ini disampaikan secara khusus oleh Rektor ITB, Prof. Dr. Ir. Kadarsah Suryadi DEA, pada acara Sidang Terbuka Wisuda ITB periode kedua Tahun Ajaran 2017/2018 di Sasana Budaya Ganesha, Bandung.

Dalam kesempatan tersebut, Rektor ITB menyampaikan gagasannya mengenai pentingnya manajemen risiko bencana di Indonesia, mengingat peristiwa bencana kerap kali ditemukan di Indonesia dan sering berdampak negatif terhadap keberlangsungan kegiatan masyarakat. Oleh karena itu, ITB sebagai salah satu center of excellence akan selalu mengembangkan riset-riset untuk menghasilkan pengetahuan, teknologi, dan kebijakan tepat guna yang dapat mengatasi permasalahan kebencanaan di Indonesia, seperti halnya aplikasi FEWEAS.

Aplikasi FEWEAS yang diluncurkan Desember lalu merupakan karya dari Dr. Armi Susandi dan Tim Riset ITB, bekerja sama dengan International Federation of Red Cross and Red Crescent Socities (lFRC), Palang Merah Indonesia (PMI), dan Zurich Insurance Indonesia.

Ketua Tim Riset ITB, Dr. Armi Susandi, menyampaikan aplikasi FEWEAS mampu mendeteksi bencana banjir, status genangan, dan tinggi genangan di sekitar Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarum untuk tiga hari kedepan. Aplikasi FEWEAS ini juga dilengkapi dengan fitur untuk memberikan rekomendasi aksi yang akan dilakukan oleh masyarakat apabila akan terjadi banjir. Dengan memanfaatkan fitur rekomendasi tersebut, persiapaan sebelum bencana banjir terjadi dapat dilakukan dan berdampak mengurangi kerugian akibat banjir.

Selain peringatan banjir yang sudah mencapai 3 hari ke depan, ketelitian deteksi dan peringatan banjir FEWEAS juga telah menjangkau sampai tingkat administrasi desa. Sehingga, dengan mencapai tingkat administrasi desa, FEWEAS diharapkan untuk dapat memberikan peringatan yang akurat dan tepat yang terjangkau secara lokal untuk berbagai lapisan masyarakat.

Selain itu, FEWEAS juga dapat memantau curah hujan di wilayah Citarum hingga 5 tahun kedepan. Teknologi yang dimiliki oleh aplikasi FEWEAS akan sangat bermanfaat dalam perencanaan pembangunan di Jawa Barat, termasuk pengembangan kawasan pertanian dan penentuan masa tanam untuk petani. Dengan mengetahui prediksi curah hujan dalam satu tahun ke depan, petani akan mampu menentukan waktu penanaman yang tepat dan mengurangi risiko gagal panen akibat banjir atau kekeringan.

Pengelolaan dan pemanfaatan FEWEAS juga didukung oleh Perum Jasa Tirta II, BBWS, BPBD Jawa Barat, dan Pemprov Jawa Barat. Untuk kedepannya, FEWEAS akan dikembangkan lebih lanjut dengan fitur pelengkap aksi berupa manajemen risiko bencana secara ekonomis. Bermitra dengan dengan industri yang terkait, FEWEAS mensuplai informasi prakiraan risiko dan kerugian aktual yang terjadi akibat banjir. Dengan informasi tersebut, industri-industri terkait dapat juga melakukan perencanaan risiko serta kerugian akibat banjir baik dalam 3 hari kedepan atau dalam 5 tahun mendatang.

Armi juga menambahkan bahwa untuk mempermudah masyarakat dalam mendapat informasi dari FEWEAS, aplikasi tersebut telah dikemas menjadi aplikasi mobile untuk smartphone yang dapat di unduh dengan memasukkan kata kunci FEWEAS pada Google Play untuk gawai berbasis Android dan App Store untuk gawai berbasis OS buatan Apple.

Keberhasilan Tim Riset ITB dalam menghasilkan aplikasi FEWEAS tentu tidak lepas dari dedikasi para penelitinya. Sebagai ketua Tim Riset ITB, Dr. Armi Susandi telah mengembangkan aplikasi deteksi banjir sejak lama dan telah diuji dan diakui kehandalannya oleh berbagai institusi internasional. Dedikasi Armi terhadap ilmu meteorologi dan mitigasi bencana telah terbukti melalui berbagai penelitian dan inovasi yang telah dihasilkan.

"Aplikasi FEWEAS untuk Citarum telah menjadi salah satu target yang dikembangkan oleh Tim Riset ITB," imbuh Armi. Aplikasi itu sendiri merupakan pengembangan dari aplikasi generasi pertama yang telah diluncurkan pada 2015 lalu, yaitu aplikasi pendeteksi potensi banjir di Bengawan Solo.

Kontribusi Dr. Armi Susandi dalam pengembangan mitigasi bencana juga dapat dilihat dari program-program lain yang sedang dikembangkan. Saat ini Dr. Armi dan Team ITB juga sedang mengembangkan Sistem Informasi Cerdas Agribisnis (SICA) yang dapat menentukan secara tepat kapan petani memulai tanam dan mengatur pola tanam nya. SICA telah dipakai oleh lebih 5 juta petani di Indonesia dan saat ini memasuki tahap pengembangan komersial untuk pelayanan pada industri pupuk dan pestisida.

(kem)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini