Sistem Penilaian SBMPTN Berubah, Menristekdikti: Justru Menguntungkan

Susi Fatimah, Jurnalis · Rabu 11 April 2018 10:52 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2018 04 11 65 1885014 sistem-penilaian-sbmptn-berubah-menristekdikti-justru-menguntungkan-DsEJX8RLbE.jpg Foto: Dok Kemristekdikti

JAKARTA - Panitia Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN) mengubah sistem penilaian untuk tahun ini. Nantinya, penilaian SBMPTN tidak ada lagi sistem minus seperti pada tahun-tahun sebelumnya. Kemudian, penilaian juga dilihat dari analisis jawaban pada soal-soal berbobot.

Menanggapi hal itu, Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohamad Nasir mengatakan, sistem penilaian tersebut dianggap lebih menguntungkan siswa.

"Tidak merugikan justru menguntungkan. Justru yang kita inginkan betul-betul berkualitas, yang pada ranking pertama," ujar Nasir di Jakarta, baru-baru ini.

Dengan sistem penilaian tingkat analisis kesulitan, sambung Nasir, maka dapat diketahui siswa-siswa yang berkualitas dalam menjawab soal-soal tersebut. Menurutnya jika penilaian soal mudah dan sulit disamaratakan maka tidak adil. Terlebih penilaian sebelumnya ada skor 4 untuk benar, minus 1 untuk salah dianggap terdapat unsur perjudian.

"Sekarang karena nilainya nol sampai satu, maka nilai diolah berdasarkan tingkat kesulitan calon mahasiswa. Mana yang tingkat kesulitannya tinggi ini akan diberikan nilai yang sangat tinggi, kalau nilainya rendah nilainya turun dari satu. Ini supaya keadilan itu ada," tuturnya.

Sebelumnya diberitakan, Sekretaris Panitia Pusat Seleksi Nasional Penerima Mahasiswa Baru Perguruan Tinggi Negeri (SN-PMB PTN) 2018 Joni Hermana menuturkan bahwa penilaian terhadap jawaban SBMPTN 2018 tidak lagi menggunakan skor (4) untuk jawaban benar, skor (0) untuk yang tidak menjawab, dan untuk skor negatif (-1) untuk jawaban yang salah.

Dalam SPMBTN 2018 ini, sambung Joni, pemberian nilai akan diproses dengan memberi skor (1) pada setiap jawaban benar, dan skor (0) untuk setiap jawaban salah dan jawaban tidak dijawab atau kosong.

Hal baru juga terjadi pada karakteristik soal yang disajikan. Nantinya akan ada beberapa kategori khusus dalam tingkat kesulitan dan sensitifitasnya untuk membedakan kemampuan peserta.

Joni menjelaskan, dengan menggunakan pendekatan Teori Response Butir (Item Response Theory), maka setiap soal akan dianalisis karakteristiknya, diantaranya adalah tingkat kesulitan relatifnya terhadap soal yang lain, dengan mendasarkan pada pola respone jawaban seluruh peserta tes tahun 2018. Dengan menggunakan model matematika, maka akan mudah menentukan soal yang berkategori mudah, sedang, dan susah.

Terakhir, ia menuturkan bahwa tiap peserta yang menjawab soal benar dengan jumlah jawaban yang sama, belum tentu mendapatkan skor sama. Karena akan dianalisis dari kategori soalnya tadi.

(sus)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini