Program Bawa Bekal untuk Anak Sekolah ala Dedi Mulyadi

Mulyana, Jurnalis · Kamis 12 April 2018 20:00 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2018 04 12 65 1885878 program-bawa-bekal-untuk-anak-sekolah-ala-dedi-mulyadi-XMp5LUSeri.jpg Foto: Dok Okezone

PURWAKARTA - Calon Wakil Gubernur (Cawagub) Jawa Barat, Dedi Mulyadi, berencana mengadopsi program pendidikan berkarakter yang digulirkannya saat menjabat Bupati Purwakarta dulu. Program tersebut, nantinya akan juga dia terapkan di tingkat Jawa Barat.

Salah satu program unggulan yang digulirkannya sejak 2013 dan hingga kini masih berjalan itu, yakni mengenai revolusi makanan bagi pelajar. Hal mana, para pelajar berbagai tingkatan ini dituntut untuk membawa bekal dari rumah.

"Di Purwakarta, program tersebut sudah berjalan sejak beberapa tahun lalu," ujar Dedi kepada Okezone di Purwakarta, Kamis (12/4/2018).

Dedi pun lantas menjelaskan soal program revolusi makanan tersebut. Jadi, kata dia, dalam program tersebut para pelajar diharuskan membawa bekal makanan dari rumah. Hal tersebut, untuk menghindari mereka jajan sembarangan.

Alasan dirinya saat itu menggulirkan program tersebut, tak lain untuk mengubah paradigma mengenai makanan anak. Jangan sampai, anak-anak selalu diberi uang saku untuk jajan di sekolah. Karena, jajanan tersebut belum tentu terjamin kehigienisannya.

"Dari pada jajan sembarangan, kan lebih baik bawa bekal sendiri buatan ibunya. Karena, makanan tersebut lebih terjamin kehigienisannya," kata dia.

Dengan kata lain, dia berpendapat, revolusi makanan ini dampaknya sangat positif bagi pelajar itu sendiri. Karena, mereka bisa mendapat asupan makanan yang jauh lebih bergizi dibanding dengan jajan sembarangan.

Dalam program ini, kata dia, pemerintah pun sekaligus turut membantu para pelajar supaya mendapat asupan gizi yang lebih baik lagi. Caranya, dengan memberikan bantuan berupa paket bahan makanan berisi telur dan susu kepada masing-masing pelajar. Terutama dari kalangan kurang mampu.

"Di Purwakarta, dulu setiap Jumat itu anak sekolah mendapat paket berisi telur dan susu. Ini juga untuk mengantisipasi adanya anak yang mengalami gizi buruk," seloroh dia.

Selain dua poin yang ada dalam program revolusi makanan tersebut, pihaknya pun akan mendorong supaya budaya menanam bagi para pelajar kembali digiatkan. Jadi, sejak dini anak-anak harus diajarkan untuk bisa mengelola bahan pangan yang ada di sekitar, supaya tidak selalu membeli di warung.

Selain itu, khusus bagi masyarakat umum pihaknya pun akan mendorong supaya dibentuk Bank Gizi di setiap pusat kesehatan masyarakat (Puskesmas). Program ini, kata dia, untuk mengantisipasi kasus gizi buruk. Adapun sasarannya, yakni anak dan ibu hamil yang kurang gizi.

Jadi, Bank gizi yang dimaskud ini merupakan pemberian bantuan untuk makanan tambahan bagi para ibu hamil yang mengalami kekurangan gizi. Untuk merealisasikannya, puskesmas harus diberi anggaran minimalnya Rp50 juta-Rp100 juta per tahun.

Untuk polanya sendiri, kata dia, dokter di puskesmas harus mengeluarkan rekomendasi jika da ibu hamil atau ada anak datang ke puskesmas yang divonis mengalami kekurangan gizi.

Dalam rekomendasi itu, nanti dokter mencatat apa saja kebutuhan bahan makanan bagi pasien yang kekurangan gizi ini, termasuk memberi uang untuk belanjanya. Nanti, si ibu harus membeli sumber nutrisi apa saja yang disarankan dokter ini.

"Masalah mekanismenya, nanti bisa dibicarakan bersama antara pemerintah daerah dan provinsi. Bisa saja sharing anggaran. Kalau ditanya duitnya cukup atau engga, saya katakan cukup jika kita memiliki kesungguhan untuk mengakomodir persoalan masyarakat," tambah dia.

(sus)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini