nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

26 Jamaah Umrah Indonesia Terlantar karena Tak Dapat Tiket Pulang

Annisa Ulva Damayanti, Jurnalis · Jum'at 13 April 2018 15:41 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2018 04 13 337 1886283 26-jamaah-umrah-indonesia-terlantar-karena-tak-dapat-tiket-pulang-QOq6iuqhby.jpg Ilustrasi (Dok.Okezone)

JEDDAH - Kantor Urusan Haji (KUH) KJRI kembali mendapat laporan jamaah umroh yang tertunda pulang. Jamaah umroh asal Jakarta ini mengalami permasalahan sejak keberangkatannya dari Indonesia. Dengan beberapa kali ketidaksesuaian agenda pmberangkatan, mereka tetap melanjutkan perjalanan ke tanah suci karena tekat ibadahnya dan masih mempercayai itikad baik yang masih tampak pada awalnya.

Rombongan jamaah yang berjumlah 26 orang ini, berangkat dengan perusahaan travel PT. HLW. Menurut keterangan dari Hendra (41) salah satu jemaah dari rombongan tersebut, seharusnya mereka berangkat pada tanggal 29 Maret. Namun, mengalami beberapa kali masalah pemberangkatan sehingga tertunda.

“Awalnya kami dijanjikan berangkat pada tanggal 29 Maret, tapi diundur tanggal 31 Maret. Namun gagal berangkat karena permasalahan check-in di terminal 2F bandara Soekarno Hatta. Kemudian kami diinapkan di hotel Bengawan selama 2 malam. Lalu mencoba berangkat ke air port kembali namun gagal karena tidak mendapat kode booking. Akhirnya menginap di hotel Eliya Bandara 1 malam tanpa fasilitas makan,” tutur Hendra kepada tim media KUH.

 (Baca: Pelunasan BPIH Mulai 16 April 2018, Ini Prosedurnya)

Akhirnya PT HLW memberangkatkan jemaahnya tersebut pada tanggal 4 April dengan menggunakan maskapai Saudi Airlaines dengan tujuan Madinah. Namun perusahaan travel tersebut masih mengenakan tambahan biaya pada saat pemberangkatan. Besaran biaya tambahan tersebut beragam, 22 orang dikenakan Rp3 juta, dan 4 orang Rp7,5 juta.

“Kami diberangkatkan tanggal 4 April 2018 dengan menambah dana Rp3 juta rupiah perorang untuk 22 orang, dan Rp7,5 juta perorang untuk yang 4 orang lagi. Berangkat dengan Saudi Airlaines tujuan Madinah,” lanjut Hendra.

Setelah sampai di kota suci, Hendra mengaku bersyukur karena ibadah umrohnya telah tertunaikan dan perjalanan lancar dan handling-nya bagus. Namun saat jadwal kembali ke tanah air tiba, ternyata tiket pulang (return) tidak ada. Agenda perjalanan sementara sampai di Jeddah, akhirnya menginap di apartemen setempat sejak tanggal 11 hingga hari ini (13/4/2018).

“Alhamdulillah ketika perjalanan di Madinah dan ke Makkah lancar, handling-nya bagus. Dan Alhamdulillah ibadah umroh sudah itu kita senang, tapi ketika pulang dengan kondisi seperti ini menjadi berat. Tidak ada tiket pulang ke Jakarta dan menginap di apartemen ini sejak tanggl 11”, kata hendra mengisahkan perjalanan umrahnya.

Staf Teknis Haji (STH) 1 Ahmad Dumyathi Bashori beserta tim penanganan kasus umroh menyempatkan hadir mengunjungi jemaah umroh tersebut di tempat transit sementaranya. Bersama tim tersebut Ahmad Dumyathi memastikan jemaah dalam kondisi baik dan memberikan arahan bahwa penting untuk memastikan perusahaan travel yang akan digunakan berizin resmi.

“Kedepan yang perlu dipastikan adalah travelnya itu punya izin atau tidak. Kalau tidak punya izin kesulitan itu akan ada. Mau referensinya dari siapa kita harus tau travel itu punya izin atau tidak. Kalau tidak punya izin tidak punya kekuatan hukum. Maka pada akhirnya, pemerintah itu akan memastikan siapa yang memberangkatkan, travel apa, ia punya izin atau tidak, kalau tidak punya izin tidak ada jeratan yang pasti,” papar STH 1 KUH KJRI yang biasa disebut Konsul Haji di wilayah Arab Saudi.

Pada kesempatan yang sama, Konsul Haji juga menyampaikan upaya yang bisa dilakukan oleh timnya dan pihak pemerintah untuk menyelesaikan kasus tersebut. Serta menginformasikan hak bagi jemaah umroh ketika melaksanakan agenda ibadahnya ke tanah suci.

“Maka yang bisa kita lakukan sekarang adalah kita kejar provider visanya, karena provider visanya itu punya jaminan keuangan di kementerian agama. Kalau kita menekan travel yang tidak punya izin ia tidak ada sangkut-pautnya. Disinipun dengan pihak di wilayah Saudi yang akan dikonformasi adalah pihak provider visanya juga. Karena provider visa disini yang punya jaminan keuangan 2 juta riyal di Kementerian Haji Kerajaan Arab Saudi. Yang itu bisa diambil ketika ia dilaporkan tidak memulangkan jemaahnya. Karena ketika jemaah datang kesini harus dipastikan aman, aman akomodasinya aman transportasinya, aman kateringnya. Kalau 3 hal ini tidak aman maka akan diberikan sanksi oleh kementerian haji,” tutur Konsul Haji kepada jamaah tersebut.

(ulu)

GRATIS! Uji kesiapanmu menghadapi SBMPTN 2019 di Tryout SBMPTN Online 2019. Daftar dan login DI SINI

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini