UNS dan UNY Promosi Kain Tenun Tradisonal Lombok di Jerman

Agregasi Antara, Jurnalis · Minggu 15 April 2018 12:00 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2018 04 13 65 1886314 uns-dan-uny-promosi-kain-tenun-tradisonal-lombok-di-jerman-E6vahcUjuT.jpg Foto: Dok UNS

LOMBOK TIMUR - Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta dan Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) membantu mempromosikan kain tenun gedogan yang diproduksi pengrajin di Pringgasela, Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat, pada festival busana di Berlin, Jerman.

"Beberapa lembar kain tenun dan pasmina dibawa ke Berlin oleh mitra dari dua perguruan tinggi itu untuk dipromosikan pada pameran busana yang rencananya digelar April 2018," kata Ketua Kelompok Pengrajin Tenun Sentosa Sasak Tenun Pringgasela, Lalu M Maliki.

Ia mengatakan Universitas Sebelas Maret Surakarta, Jawa Tengah, dan Universitas Negeri Yogyakarta tertarik mempromosikan kain tenun gedogan Pringgasela karena memanfaatkan bahan pewarna alam.

Kedua perguruan tinggi negeri itu, lanjut dia mempunyai mitra di Berlin, yang tertarik dengan bahan busana ramah lingkungan dan hasil karya kaum perempuan.

"Rencananya pihak dari Berlin akan memberikan bantuan berupa bimbingan dan peralatan yang dibutuhkan untuk meningkatkan kualitas pewarnaan alami," tutur dia.

Di Pringgasela, kata Maliki, ada lima kelompok pengrajin kain tenun gedogan. Masing-masing kelompok ada yang beranggotakan 15 hingga 30 orang. Sebagian besar anggota kelompok dari kalangan perempuan. Ada laki-laki, namun tugasnya fokus pada penyediaan bahan baku pewarna. Sebab, untuk memperolehnya harus mencari tumbuhan ke pedalaman hutan dan tumbuhnya tidak sembarangan.

Lebih lanjut, ia menambahkan volume produksi dari seluruh kelompok mencapai lebih dari 100 lembar per bulan. Motif yang lebih banyak dihasilkan, yakni sundawa, sari meranti, abayan, pucuk rebong, dan songket timbul.

"Motif ada 20 jenis, tapi yang sering ditenun hanya lima motif dan yang paling di minati konsumen adalah motif sundawa," ujar dia.

Maliki menyebutkan harga kain tenun gedogan dari bahan katun dengan pewarna alam Rp500 ribu per lembar, sedangkan dari benang mistrais mulai dari Rp800 ribu hingga 1,2 juta per lembar.

Pemasaran kain tenun yang dibuat menggunakan alat tradisional atau tanpa mesin tersebut tidak hanya di tingkat lokal, tapi skala nasional dan internasional.

Bahkan, Wignyo Rahadi, salah seorang desainer busana ternama yang juga konsultan tenun Pringgasela, membantu mempromosikan pada fashion show di Plaza Perindustrian Jakarta pada Maret 2018. Pameran tersebut merupakan rangkaian kegiatan mengikuti pra pameran di Tokyo, Jepang, pada April 2018.

"Kain tenun Pringgasela juga sudah dikenal di Selandia Baru. Kami juga punya mitra di Malaysia yang membantu mempromosikan, tapi dalam bentuk barang sudah jadi, seperti tas, sepatu. Ada juga penjualan dalam bentuk kain, tapi jumlahnya tidak banyak," kata Maliki.

Manager Pengembangan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) NTB Ni Nyoman Sariani, mengatakan kelompok pengrajin kain tenun Pringgasela, merupakan salah satu binaannya.

Sariani mengatakan BI sudah memberikan pembinaan sejak beberapa tahun lalu dan akan terus melakukan pendampingan, terutama dari sisi perluasan pemasaran produk.

"Selain pemasaran, kelembagaaan juga perlu dibentuk. Kami mendorong agar kelompok mau membentuk koperasi dan dalam waktu dekat akan mengarah ke sana," tutupnya.

(sus)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini