Soal Matematika UNBK Diprotes, Mendikbud Minta Maaf

Pernita Hestin Untari, Jurnalis · Jum'at 13 April 2018 18:01 WIB
https: img.okeinfo.net content 2018 04 13 65 1886363 soal-matematika-unbk-diprotes-mendikbud-minta-maaf-9ICDXPrU2s.jpg Foto: Istimewa

JAKARTA - Pelaksanaan Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA) yang berlangsung pada 10-13 April mendapat kritik dari sejumlah siswa karena soal-soalnya dianggap sulit dan tidak sesuai dengan pelajaran yang diterima di sekolah.

Wasekjen Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) Satriawan Salim mengaku pihaknya menemukan kondisi dimana soal matematika dalam UNBK menjadi soal yang banyak dikeluhkan siswa karena terlalu sulit dan tidak sesuai dengan kisi-kisi. Selain soal mata pelajaran matematika, siswa juga mengelukan mengenai penggunaan metode esai dan analisa dalam UNBK.

Menanggapi sejumlah kritik soal yang dianggap sulit, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy meminta maaf kepada pihak-pihak yang mengalami kesulitan selama pelaksanaan ujian nasional berbasis komputer (UNBK).

"Saya meminta maaf kalau ada beberapa kalangan yang merasa mengalami kesulitan yang tidak bisa ditoleransi. Dengan ini, saya janji bahwa akan kami benahi. Tetapi mohon maklum bahwa ujian nasional kita dari waktu ke waktu harus semakin sulit untuk mengejar ketertinggalan kita," kata Muhadjir usai menemui Wakil Presiden Jusuf Kalla di Istana Wakil Presiden di Jakarta seperti dilansir dari Antara, Jumat (13/4/2018)

Muhadjir menjelaskan kualitas pendidikan Indonesia masih lebih rendah dibandingkan dengan negara-negara di kawasan Asia dan Asia Tenggara. Oleh karena itu, Kemdikbud berusaha untuk memperbarui sistem pendidikan, termasuk di antaranya adalah meningkatkan standar kualitas ujian nasional.

Ia menuturkan bahwa berdasarkan hasil survei Programme for International Student Assessment (PISA), tingkat kualitas siswa Indonesia tergolong rendah. PISA merupakan sistem ujian dari Organisation for Economic Cooperation and Development (OECD) untuk mengevaluasi sistem pendidikan dari 72 negara di seluruh dunia.

"Karena sesuai hasil PISA, kita sangat rendah. Ketika PISA rendah, kami (Kemdikbud) disalahkan, tapi ketika kami menaikkan standar membuat siswa sulit, kami juga salah. Tapi saya rasa kita terus mendorong anak-anak kita semakin berkualitas dengan meningkatkan standar ujian nasional kita," jelas Muhadjir.

(sus)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini