Dosen ITB Ciptakan Alat Deteksi Dini Tanah Longsor

Pernita Hestin Untari, Jurnalis · Sabtu 14 April 2018 19:00 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2018 04 14 65 1886693 dosen-itb-ciptakan-alat-deteksi-dini-tanah-longsor-4bQY1q9TMa.jpg Foto: Dok ITB

JAKARTA - Kepala Pusat Data dan Informasi Badan Nasional Penanggulangan Bencana Nasional (BNPB), Sutopo Purwo Nugroho mengatakan longsor menjadi bencana paling mematikan di Tanah Air sejak 2014 hingga saat ini. Tahun 2014 lalu, terjadi bencana longsor di wilayah Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah. Bencana tersebut memakan banyak korban jiwa, 105 unit rumah diperkirakan tertimbun longsor, dan masih banyak kerugian lainnya.

Dilansir dari laman ITB, Sabtu (14/4/2018), berawal dari keprihatinan terhadap masyarakat yang terkena bencana tersebut dosen dan peneliti dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Dr. Ir. Irdam Adil, M.T, membuat sistem deteksi dini tanah longsor.

Dr. Irdam merupakan dosen dari ITB sekaligus sebagai peneliti di kelompok keahlian Teknik Geodesi dan Geomatika.

“Saya prihatin melihat berita bencana tanah longsor di televisi waktu itu, dan mulai terpikir bagaimana membuat suatu sistem yang mudah dan murah agar dapat membantu untuk menyelamatkan masyarakat bencana itu terjadi,” ungkapnya.

Irdam mengatakan, secara umum tanah longsor memiliki kedalaman mulai dari permukaan tanah, pergerakan tanah biasanya akan lebih cepat daripada di bawahnya.

Ia menambahkan, hal itu menyebabkan benda-benda diatasnya seperti rumah atau pohon akan miring terlebih dahulu sebelum benar-benar terjatuh.

“Proses semacam itu yang menjadi ide dasar dalam sistem peringatan dini tanah longsor ini yang menurutnya terbilang sederhana karena menggunakan prinsip gaya tarik gravitasi,” ujar dia.

Ia menjelaskan, konsep pendektsi longsor yang diciptakannya yaitu jika sebuah bandul yang dipasang secara vertikal berubah kemiringannya dan terjadi kontak dengan sensorik ring, maka sirine akan otomatis berbunyi.

“Dan sirine ini setidaknya harus dapat terdengar minimal hingga radius 1 hingga 2 kilometer dari lokasi prototipe ini dipasang. Alat ini memiliki dua bagian, yaitu bagian inti yang terdiri dari elemen sensor, power supply arus DC 12 V, lampu sirine dan loudspeaker atau pengeras suara. Bagian pendukung lainnya adalah tiang penyangga setinggi 4 meter yang akan ditanam ke tanah sedalam 1 meter. Perkiraan total untuk pembuatan satu set alat berkisar Rp300 ribu,” kata dia.

Irham berharap masyarakat yang tinggal di daerah rawan longsor dapat memproduksi sendiri alat tersebut. Ia pun menuturkan bahwa masyarakat harus memiliki kewaspadaan terhadap daerah tempat tinggalnya.

Pemerintah menurutnya dapat membantu mengedukasi masyarakat, dalam hal peningkatan kesadaran untuk tanggap bencana lewat simulasi evakuasi bencana “Karena sebenarnya masyarakat hanya punya waktu beberapa menit saja untuk menyelamatkan diri,” tukasnya mengingatkan.

Terakhir ia menuturkan, pengembangan untuk alat deteksi ini masih dilakukan, inovasi yang dapat dilakukan adalah penambahan sistem komunikasi data jarak jauh.

(sus)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini