Image

Myanmar Repatriasi Satu Keluarga Pengungsi Rohingya Pertama

Wikanto Arungbudoyo, Jurnalis · Minggu 15 April 2018 12:07 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2018 04 15 18 1886842 myanmar-repatriasi-satu-keluarga-pengungsi-rohingya-pertama-DGHRTsDrHA.JPG Pengungsi etnis Rohingya (Foto: Jorge Silva/Reuters)

YANGON – Myanmar akhirnya merepatriasi satu keluarga dari 700 ribu orang etnis Rohingya yang melarikan diri ke Bangladesh pada Sabtu 14 April pagi waktu setempat. Keluarga tersebut datang ke pusat penerimaan di Rakhine State dengan sukarela.

“Satu keluarga beranggotakan lima orang datang ke pusat penerimaan Taungpyoletwea di Rakhine State pagi ini,” ujar pernyataan resmi pemerintah Myanmar yang dirilis Sabtu larut malam waktu setempat, mengutip dari Reuters, Minggu (15/4/2018).

Satu keluarga tersebut menjalani pemeriksaan secara mendetail oleh otoritas imigrasi serta pejabat dari Kementerian Kesehatan Myanmar. Pihak dari Kementerian Kesejahteraan Sosial, Bantuan, dan Pemukiman, memberikan bantuan kemanusiaan berupa beras, kelambu, selimut, kaus, sarung khas Myanmar, dan perlengkapan dapur.

BACA JUGA: Kloter Pertama, Myanmar Cuma Terima 374 Orang Pengungsi Etnis Rohingya 

BACA JUGA: Myanmar Kebut Pembangunan Fasilitas untuk Pemulangan Etnis Rohingya 

Pemerintah mengatakan, satu keluarga tersebut dinyatakan mematuhi peraturan dan diberikan Kartu Verifikasi Nasional (NVC) sebelum memasuki wilayah Myanmar. NVC adalah upaya pemerintah untuk memverifikasi etnis Rohingya meski belum tentu terdaftar sebagai warga negara dengan hak penuh.

Sebagai informasi, sebagian besar etnis Rohingya menolak keberadaan NVC, terutama para pemimpin komunitas. Sebab, keberadaan NVC malah akan membuat mereka berstatus layaknya imigran baru alih-alih warga negara Myanmar dengan hak yang penuh.

BACA JUGA: PBB: Myanmar Belum Siap untuk Pemulangan Rohingya

Repatriasi tersebut menjadi langkah maju pertama Myanmar. Pekan lalu, Asisten Sekretaris Jenderal PBB untuk Urusan Kemanusiaan, Ursula Mueller, menilai Myanmar belum siap sama sekali untuk proses repatriasi etnis Rohingya.

“Dari apa yang saya telah lihat dan dengar, tidak ada akses ke layanan kesehatan, kekhawatiran mengenai proteksi, berlanjutnya pemindahan, suatu kondisi yang tidak kondusif untuk kembali,” urai Ursula Mueller.

Sebagaimana diberitakan, ratusan ribu etnis Rohingya mengungsi dari Rakhine State ke Cox’s Bazaar, Bangladesh, guna menyelamatkan diri dari operasi militer. Tentara Myanmar mengklaim operasi dilancarkan untuk menghabisi kelompok militant, tetapi dunia internasional meyakini agresi tersebut hampir mendekati pembersihan etnis.

Pemerintah Myanmar dan Bangladesh mencapai kesepakatan pemulangan etnis Rohingya pada November 2017. Dalam kesepakatan disebutkan bahwa Bangladesh harus mendata etnis Rohingya yang bersedia dipulangkan ke Myanmar. Di lain pihak, Myanmar diwajibkan membangun shelter di perbatasan untuk menampung pengungsi dalam jangka waktu tertentu sebelum pulang ke asalnya.

(war)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini