Image

Mahasiswa ITS Rancang Beton Ekonomis & Ramah Lingkungan

Susi Fatimah, Jurnalis · Minggu 15 April 2018 13:12 WIB
https: img.okeinfo.net content 2018 04 15 65 1886845 mahasiswa-its-rancang-beton-ekonomis-ramah-lingkungan-SkUMZdwMNY.jpg Foto: Dok ITS

JAKARTA - Mahasiswa Teknik Sipil Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) berhasil merancang beton yang ramah lingkungan, inovatif, dan ekonomis. Mereka adalah Yanuarche Firnardi, Andini Dwi Agustin, dan Jonathan Febryan. Ketiganya tergabung dalam tim Senanjaya-79.

Yanuarche Firnardi mengatakan, beton yang dirancangnya ramah lingkungan karena memanfaatkan limbah dari sebuah industri batu bara sebagai komposisi pengganti tambahan bahan pembuatan beton berupa Fly Ash dan Bottom Ash.

“Fly Ash sebagai pengganti semen sedangkan Bottom Ash sebagai pengganti pasir,” ujarnya seperti dilansir dari laman Unair, Minggu (15/4/2018).

Kedua limbah tersebut, sambung dia, merupakan abu terbang yang relatif berat yang timbul dari suatu proses pembakaran batu bara.

“Dari data yang saya peroleh, limbah Fly Ash dan Bottom Ash diproduksi sebanyak 300.000 ton dan 180.000 ton tiap tahunnya. Jika limbah-limbah tersebut tidak dimanfaatkan dengan baik maka akan mencemari lingkungan," tuturnya.

Sementara itu, ia mengatakan, beton tersebut inovatif dan ekonomis karena menggunakan gula sebagai komposisi bahan dasar. Menurut tim, gula dapat memberikan workability (kelecakan) yang baik pada beton karena gula akan menyatukan ikatan agregat satu dengan agregat lainnya sehingga beton terlihat lebih kokoh dan kuat.

Atas inovasinya tersebut, ketiganya berhasil menjuarai lomba beton nasional Sipil Expo 2018 yang digelar di Universitas Mercu Buana, baru-baru ini. Pada pengujian di final, beton di uji ketahanan dan kekuatannya dengan mesin hidrolik khusus. Menurut peraturannya, kekuatan beton harus K600 sebanding dengan nilai 50 MPa.

“Saat diuji, hanya beton buatan kami yang mampu menahan tekanan sampai K591,8 dan mengalami keretakan sedikit," paparnya Yanuarche.

Menurutnya, beton dengan kekuatan K600 itu mampu dijadikan sebagai kolom atau tiang pada gedung bertingkat, bandara, jalan tol, dan jembatan.

Dalam proses pembuatan beton tersebut, tim melakukan berbagai uji untuk memastikan bahwa beton benar-benar kuat sampai K600 sebelum dibawa ke perlombaan. Salah satunya dengan uji slump. Uji slump yaitu pengujian yang digunakan untuk menentukan kekakuan campuran beton dalam menentukan tingkat workability-nya.

(sus)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini