nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Tekan Kebisingan, Ghana Akan Minta Masjid dan Gereja Panggil Jemaat via WhatsApp

Rahman Asmardika, Jurnalis · Senin 16 April 2018 10:01 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2018 04 16 18 1887064 tekan-kebisingan-ghana-akan-minta-masjid-dan-gereja-panggil-jemaat-via-whatsapp-ciZ2M4ju3x.jpg Foto: AFP.

ACCRA – Pihak berwenang di Ibu Kota Ghana, Accra telah meminta masjid dan gereja untuk tidak menggunakan pengeras suara dalam menyampaikan panggilan untuk beribadah atau salat untuk mengurangi polusi suara di daerah perkotaan. Sebagai gantinya, mereka mengusulkan tempat-tempat ibadah menggunakan aplikasi chat seperti WhatsApp untuk memanggil jemaatnya untuk beribadah.

BACA JUGA: Swiss Larang Menara Azan

Pemerintah lokal di Accra berusaha menekan polusi suara, khususnya di tempat-tempat ibadah seperti gereja dan masjid, yang dapat menghasilkan banyak lalu lintas dan kebisingan pejalan kaki ketika kerumunan jemaat berkumpul di jalanan, dan polusi suara tambahan dari lonceng gereja dan panggilan untuk berdoa.

“Mengapa waktu untuk doa tidak dapat disampaikan dengan pesan teks atau WhatsApp? Jadi Imam akan mengirim pesan WhatsApp ke semua orang,” kata Menteri Lingkungan Kwabena Frimpong-Boateng seperti dikutip dari RT, Senin (16/4/2018).

“Saya pikir itu akan membantu mengurangi kebisingan. Ini mungkin kontroversial tetapi itu adalah sesuatu yang bisa kita pikirkan. ”

Pernyataan Kwabena itu segera mendapat keberatan dari komunitas masjid di Ghana yang menyatakan bahwa meski penggunaan pesan teks atau WhatsApp tidak menjadi persoalan, cara itu tidak diperlukan.

“Imam tidak dibayar setiap bulan. Di mana dia mendapatkan uang untuk melakukan itu? Kami mencoba untuk mempraktekkan apa yang mungkin. Jadi pesan teks atau pesan lainnya tidak menjadi masalah. Tetapi saya pikir itu tidak perlu, ” kata Imam dari Masjid Komunitas Fadama, Sheik Usan Ahmed.

Upaya untuk mengatur kumandang panggilan beribadah dari masjid dan gereja telah menjadi perdebatan tidak hanya di Ghana, tetapi berbagai kota di negara-negara dunia. Mulai dari Cologne di Jerman, Michigan di Amerika Serikat, bahkan sampai negara mayoritas Muslim seperti Nigeria. Kota Lagos yang merupakan Ibu Kota Nigeria telah menutup 70 gereja dan 20 masjid pada 2016 sebagai upaya untuk membatasi polusi suara.

Pemerintah Ghana pada akhirnya berencana untuk menerapkan undang-undang yang lebih ketat di seluruh negeri untuk membuat daerah perkotaan menjadi lebih tenang, terutama di pagi hari. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperingatkan bahwa paparan yang terlalu lama terhadap kebisingan lingkungan, seperti pekerjaan jalan, lalu lintas dan keributan di jalan umum, dapat menyebabkan peningkatan penyakit kardiovaskular, masalah tidur dan sering kali gangguan kognitif dalam tingkat tertentu.

Dalam sebuah tes yang melibatkan 200 masjid di Ibu Kota Arab Saudi, Riyadh, 74,8 persen masjid mencatat output suara lebih tinggi dari 85 dB, ambang di mana gangguan pendengaran yang disebabkan kebisingan (NIHL) terjadi dalam lingkungan pekerjaan. Sementara uji tingkat suara di sebuah masjid di Dubai, Uni Emirat Arab menunjukkan hasil mencapai 80 dB pada jarak 50 meter di daerah perkotaan.

BACA JUGA: PM Israel Ingin Batasi Volume Suara Adzan

Paparan terus menerus terhadap suara di atas sebisingan 86 dB dapat menyebabkan hilangnya pendengaran sedikit demi sedikit.

(dka)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini