nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Kaum Hawa Thailand Protes Imbauan Berpakaian dari Pemerintah

Wikanto Arungbudoyo, Jurnalis · Selasa 17 April 2018 03:05 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2018 04 16 18 1887405 kaum-hawa-thailand-protes-imbauan-berpakaian-dari-pemerintah-FyuoVWhtYI.JPG Wanita di Thailand diimbau berpakaian sopan selama Festival Songkran (Foto: Soe Zeya Tun/Reuters)

BANGKOK – Kaum hawa di Thailand ramai-ramai menggunakan media sosial mereka untuk menentang imbauan dari seorang pejabat negara agar berpakaian lebih sopan selama festival Songkran atau perayaan tahun baru di Negeri Gajah Putih.

Direktur Jenderal Departemen Pemerintahan Lokal, Sutthipong Chulcharoen, mengimbau agar otoritas-otoritas di Thailand meluncurkan kampanye untuk mendorong perempuan berpakaian sopan selama festival Songkran. Imbauan itu dimaksudkan agar kaum hawa tidak menjadi korban pelecehan seksual.

Imbauan tersebut mendapat respons negatif. Aktris ternama Thailand, Cindy Sirinya Bishop, mengirimkan unggahan di Twitter dan Instagram disertai tanda pagar #JanganUrusiGayaPakaianSaya serta #AjariPriaRasaHormat sebagai tanda kemarahan.

“Perempuan berpakaian untuk merasa cantik, percaya diri, seksi, dan kuat, untuk menunjukkan bentuk tubuh atau warna kulit kami. Kami juga berpakaian untuk merasa dihormati dan merasa nyaman. Kami berpakaian untuk diri kami sendiri!” cuit Cindy Sirinya Bishop, mengutip dari Asian Correspondent, Selasa (17/4/2018).

Serunya Basah-basahan pada Festival Air Songkran di Ayutthaya Thailand

(Suasana festival Songkran di Thailand. Foto: Reuters)

Festival Songkran biasa diikuti warga Thailand dengan perang pistol air di tengah bulan dengan cuaca paling panas di negara tersebut. Acara tahunan itu mampu menarik minat jutaan warga lokal serta ratusan ribu turis asing. Namun, Songkran marak diwarnai kecelakaan jalan raya dan pelecehan seksual.

Dalam survei yang dilakukan Kementerian Dalam Negeri Thailand menjelaskan, lebih dari setengah responden perempuan yang ikut festival Songkran di Bangkok pada 2016 mengaku menjadi korban pelecehan seksual. Sebagian besar pelaku diketahui berada di bawah pengaruh minuman keras.

Sebanyak 85,9% dari total 1.793 orang responden perempuan berusia 10-40 tahun setuju dikenakan beberapa aturan untuk melindungi mereka dari potensi pelecehan seksual selama Songkran. Namun, imbauan dari Chulcharoen justru mendapatkan respons negatif.

“Memiliki darah Thailand dan merupakan penyintas dari pelecehan seksual membuat saya begitu bangga melihat kaum perempuan memilih melawan budaya pemerkosaan di lingkungan pemerintah!” tulis seorang warganet.

Warganet lain menulis bukan salahnya kaum laki-laki tidak bisa mengontrol diri mereka sendiri. Ia meminta agar pemerintah lebih takut pada perilaku laki-laki daripada indahnya bentuk bahu perempuan. Bishop pun berterima kasih atas respons dari perempuan-perempuan Thailand di media sosial.

(war)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini