nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Pengadilan India Mulai Adili Delapan Terdakwa Pemerkosa Anak

ant, Jurnalis · Selasa 17 April 2018 06:05 WIB
https: img.okeinfo.net content 2018 04 16 18 1887422 pengadilan-india-mulai-adili-delapan-terdakwa-pemerkosa-anak-MN2olFyKFq.JPG Para terdakwa dibawa dengan menggunakan mobil dari pengadilan (Foto: Reuters)

SRINAGAR - Pengadilan di Srinagar, India, menyeret delapan orang yang didakwa terlibat dalam pemerkosaan dan pembunuhan seorang anak perempuan berusia delapan tahun di Kashmir. Itu adalah persidangan pertama dalam kasus yang memicu kemarahan nasional dan kritik untuk partai yang berkuasa.

Kejengkelan atas kejahatan yang mengerikan itu menyebabkan protes di kota-kota di seluruh India selama beberapa hari terakhir, dengan kemarahan yang dipicu oleh dukungan bagi untuk terdakwa yang mulanya ditunjukkan oleh para menteri dari partai Bharatiya Janata (BJP), partai Perdana Menteri Narendra Modi.

Protes juga fokus pada insiden pemerkosaan lainnya yang diduga melibatkan seorang anggota parlemen BJP di kawasan padat penduduk dan miskin dengan tingkat kriminalitas tinggi di negara bagian Uttar Pradesh di utara.

Lebih banyak aksi unjuk rasa digelar untuk menuntut tindakan terhadap pemerkosa dan pelaku kekerasan terhadap perempuan pada Senin di ibu kota dan Ahmedabad, ibu kota negara bagian Gujarat.

Bocah perempuan itu berasal dari komunitas nomaden yang berkeliaran di hutan di Kashmir. Ia dibius dan disekap di sebuah kuil dan secara perkosan selama seminggu sebelum dicekik dan dipukuli dengan batu pada Januari, kata polisi.

Menurut berkas tuduhan, aksi penculikan, pemerkosaan dan pembunuhan bocah perempuan itu adalah bagian dari rencana untuk mengusir para nomaden dari distrik Kathua di Jammu.

Tersangka pemimpin aksi brutal itu adalah pensiunan birokrat Sanji Ram, yang melindungi sebuah kuil Hindu kecil di mana bocah perempuan itu telah ditawan dan diserang. Dua dari delapan orang yang diadili adalah petugas polisi yang dituduh menerima suap untuk mempersulitpenyelidikan.

Setelah sidang awal pada Senin, hakim menunda sidang kasus sampai 28 April.

Menjelang sidang, pengacara yang mewakili keluarga korban mengatakan dia telah diancam dengan pemerkosaan dan kematian karena menerima kasus itu dan meminta persidangan diadakan di luar Jammu dan Kashmir.

"Saya diancam kemarin bahwa, 'kita tidak akan memaafkanmu.' Saya akan memberi tahu Mahkamah Agung bahwa saya dalam bahaya," kata pengacara Deepika Singh Rawat yang telah berjuang untuk mendapatkan yang penyelidikan yang benar sejak mayat bocah perempuan itu ditemukan pada Januari, melansir dari Reuters, Selasa (17/4/2018). 

Hanya ketika berkas dakwaan diajukan pekan lalu, yang memberikan rincian kejahatan yang kejam itu, publik India bereaksi secara massal.

Dua menteri dari BJP, yang berbagi kekuasaan di Jammu dan Kashmir, terpaksa mengundurkan diri setelah diketahui bergabung aksi unjuk rasa yang mendukung para terdakwa.

Kemarahan nasional atas kasus Kathua telah setara dengan aksi protes besar-besaran pascakasus pemerkosaan berkelompok dan pembunuhan seorang gadis di sebuah bus Delhi pada tahun 2012, yang memaksa pemerintah saat itu yang dipimpin Kongres untuk memberlakukan undang-undang perkosaan baru yang keras termasuk hukuman mati.

BACA JUGA: Menteri India Serukan Hukuman Mati bagi Pemerkosa Anak

Tetapi pegiat mengatakan kejahatan kekerasan terhadap perempuan sering tidak diselidiki secara memadai, dan dalam beberapa kasus terdakwa dengan koneksi politik telah dilindungi. Lebih banyak insiden pemerkosaan anak, termasuk satu di Surat di Gujurat, dilaporkan selama akhir pekan.

Pada Jumat, Modi meyakinkan negara bahwa yang bersalah tidak akan dilindungi, tetapi dia telah dikritik karena gagal mengeluarkan komentar cepat. Sebelum berangkat untuk kunjungan resmi ke Eropa pekan ini, Modi menerima surat dari 50 mantan pegawai negeri atas responnya yang lemah.

"Kebiadaban yang terlibat dalam perkosaan dan pembunuhan seorang anak berusia delapan tahun menunjukkan kedalaman kebejatan kita," kata surat itu.

"Di India pasca-kemerdekaan, ini adalah waktu tergelap dan kita temukan respon dari pemerintah kita, para pemimpin dan partai politik kita tidak memadai dan lemah. "

1 / 2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini