Politisi Gerindra Beberkan Kejanggalan Proses Bailout Bank Century

Badriyanto, Jurnalis · Senin 16 April 2018 20:11 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2018 04 16 337 1887429 politisi-gerindra-beberkan-kejanggalan-proses-bailout-bank-century-4EBGEnGZGp.jpg Waketum Gerindra Ferry Juliantono (Foto: Badriyanto/Okezone)

JAKARTA - Wakil Ketua Umum Gerindra Ferry Juliantono membeberkan kejanggalan proses bailout Bank Century yang dilakukan pemerintah pada 2008 silam. Saat itu, Ferry sempat bertemu dengan pemegang saham Bank Century Robert Tantular ketika sama-sama menjadi penghuni Rumah Tahanan (Rutan) Mabes Polri.

Kala itu Ferry ditahan terkait demo kenaikan BBM, sementara Robert Tantular atas kasus Bank Century. Dalam pertemuan itu, Robert Tantular sama sekali tidak menyangka dan kaget saat mendengar Bank Century miliknya itu telah di bailout oleh pemerintah.

"Dia sendiri kaget dan tiba-tiba posisi Bank Century miliknya sudah dibailout, dan dia akhirnya kemudian ditahan dipenjara di rumah tahanan Mabes Polri," kata Ferry diskusi bertajuk Skandal Bank Century: Setelah Budiono Tersangka, Siapa Berikutnya? di Hotel Atlet Century, Senayan, Jakarta, Selasa (16/4/2018).

 (Baca: KPK: Tanpa Putusan Pengadilan, Kasus Century Tetap Diusut)

Ferry mengakui, Robert tidak banyak bercerita tentang Bank Century. Namun, yang jelas Bank yang kemudian berganti nama menjadi Bank Mutiara itu tengah dirundung masalah yang sedang dicarikan solusinya, dan ternyata tiba-tiba sudah lebih dulu dibailout pemerintah.

 

"Tapi pada proses yang itu harusnya pemerintah biasanya memberi kesempatan kepada pemilik menyelesaikan proses yang ada, tapi sebelum proses itu dituntaskan oleh pemilik, tiba-tiba ada proses yang lain, yaitu Bailout," lanjutnya.

Bermodal cerita Robert Tantular itu, politikus Gerindra tersebut berkesimpulan ada kelompok yang mengondisikan skandal Bank Century. Meskipun tidak menyebut nama, Ferry meyakini kelompok itu telah mengatur sedemikian rapi dan bisa mengambil alih bank dengan baik.

 (Baca juga: Soal Kasus Century, KPK: Kami Masih Lakukan Kajian Ulang dan Sudah Panggil Boediono)

"Saya dapat simpulkan bahwa memang ada tangan kuat yang kemudian bisa mengambil sebuah keputusan untuk membailout dan kemudian mengoperasionalisasikan proses bailout itu sampai kepada tingkat yang sangat detail dan sangat teknis administratif, sehingga dia sebagai pemiliknya merasa tidak diberi kesempatan untuk bisa mengatasi masalah di bank miliknya dan kemudian diambil tindakan oleh aparat," pungkasnya.

(ulu)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini