nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Kadernya Pindah ke PBB, PPP: Kami Tak Masalah

Bayu Septianto, Jurnalis · Selasa 17 April 2018 18:22 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2018 04 17 337 1887846 kadernya-pindah-ke-pbb-ppp-kami-tak-masalah-IgcGvNgCdQ.JPG Wasekjen PPP Ahmad Baidowi (Foto: Okezone)

JAKARTA - Partai Persatuan Pembangunan (PPP) menyayangkan adanya sejumlah kader yang menyeberang ke Partai Bulan Bintang (PBB). Meski begitu, PPP juga tak kaget dengan berpindahnya kader-kader tersebut ke partai yang dipimpin Yusril Ihza Mahendra itu.

"Pertama kami menyayangkan mereka menyeberang ke PBB sekaligus menebar informasi sesat. Kedua, kami tidak kaget karena mereka sudah terbiasa pindah partai," ujar Wakil Sekjen PPP, Achmad Baidowi di Gedung DPR, Senayan, Jakarta Pusat, Selasa (17/4/2018).

Baidowi mengakui sikap yang diambil segelintir kader ini sedikit memengaruhi eksistensi PPP. Namun, kata Baidowi kadernya yang menjadi kutu loncat itu mayoritas adalah mereka yang gagal saat Pemilu Legislatif (Pileg) 2014 lalu, seperti Ahmad Yani yang tak lagi menjadi anggota DPR di periode sekarang.

"Kader di daerah tidak terpengaruh, karena mereka tahu kontribusi apa selama ini kepada PPP. Misal Yani, dari DPW Sumsel sama sekali tidak terpengaruh," jelasnya.

 (Baca: Sejumlah Elite PPP Putuskan Gabung PBB)

Sementara dihubungi terpisah, Ketua DPW PPP Sumatera Selatan Agus Sutikno mengatakan tidak mempermasalahkan Yani pindah partai ke PPP. Apalagi track record yani memang sebagai politisi ‘kutu loncat’.

“Sebelumnya dia di PAN, kemudian pindah ke PPP. Dan sekarang pindah lagi ke PBB. Para kader pun melihat bahwa ia memang bukanlah kader sungguhan di PPP,” kata Agus.

Sementara itu tentang klaim jutaan suara yang akan dibawa oleh Ahmad Yani, Agus melihat ini hanyalah lelucon belaka. Ia mencontohkan, pada pemilu 2014 di saat Yani masih menjadi anggota DPR dan berada di nomor urut 1 Dapil Sumsel 1, ia malah tidak lolos ke Senayan.

“Bagaimana sekarang ia akan membawa jutaan suara di saat namanya sudah tidak banyak dikenal. Ke Sumsel pun hanya beberapa kali saja dan itupun tidak keliling,” ucap Agus.

Bahkan pada 2014 lalu di Kabupaten Banyuasin yang notabene tanah kelahirannya, menurut Agus, Ahmad Yani hanya mendapatkan 12 ribu suara. Semua fakta ini menurut Agus semakin meyakinkan kader PPP bahwa apa yang diklaim Yani itu jauh dari kebenaran.

“Kami bahkan tambah yakin PPP di Pemilu 2019 akan memperoleh suara lebih baik, sebab konsolidasi yang dilakukan jauh kebih baik dibanding 2014 silam. Struktur pengurus dan kader semua bekerja untuk membesarkan PPP,” jelas Agus

 

Sebelumnya sejumlah tokoh elite dari Partai Persatuan Pembangunan (PPP) memutuskan merapat ke Partai Bulan Bintang (PBB) sebagai wadah berpolitik. Mereka menamakan diri sebagai PPP Khittah, yang selama ini prihatin dengan kisruh yang melanda partai berlambang kabah itu.

Ahmad Yani, salah satu penggagas PPP Khittah mengatakan, gerakan ini dilakukan di tengah kondisi PPP yang mengkhawatirkan.

Ia menegaskan gerakan ini diinisiasi para senior dan kader dari dua kubu yang berseteru yakni kubu Romahurmuziy dan Djan Faridz yang ingin mengembalikan kemurnian visi dan misi berpolitik sesuai landasan keislaman.

"Saya tegaskan kami bukan mewakili kubu Djan atau Romi. PPP Khittah justru terbentuk dari orang-orang yang sudah merasa kehilangan jati diri. Djan, yang memutuskan mendukung Ahok tidak sejalan dengan keinginan kader. Begitu juga Romi yang sikap politiknya tidak berseberangan dengan umat," terang Ahmad Yani di kantor DPP PBB, Jalan Pasar Minggu Raya, Jakarta Selatan, Senin 16 April 2018 kemarin.

(muf)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini