nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

KPAI: Soal HOTS UNBK Malpraktik di Dunia Pendidikan

Pernita Hestin Untari, Jurnalis · Selasa 17 April 2018 19:01 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2018 04 17 65 1887866 kpai-soal-hots-unbk-malpraktik-di-dunia-pendidikan-NCaEz7ufeD.jpg Foto: Pernita/Okezone

JAKARTA - Soal matematika Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) 2018 membuat gaduh belakangan terakhir. Para peserta melayangkan protesnya ke akun resmi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI dan juga Mendikbud Muhadjir Effendi. Mereka memprotes soal matematika yang sulit dan tidak sesuai kisi-kisi yang mereka pelajari sebelumnya.

Atas hal tersebut, Mendikbud Muhadjir Effendy meminta maaf secara terbuka. Komisi Perlidungan Anak Indonesia (KPAI) mengapresiasi permintaan maaf Mendikbud, namun menyesalkan cepatnya reaksi Mendikbud yang langsung menyatakan bahwa soal matematika UNBK SMA memang dibuat sulit, karena termasuk jenis soal HOTS (High Order Thingking Skills).

Komisioner KPAI Bidang Pendidikan, Retno Listyarti mengatakan, soal HOTS seharusnya tidak hanya diterapkan saat UN. Namun, harus diterapkan dalam proses pembelajaran selama tiga tahun siswa sekolah dan kualitas guru harus ditingkatkan.

“HOTS itu soal yang menggunakan penalaran yang bisa di aplikasikan ke kehidupan, sedangkan dalam pembelajaran kita kan lebih menghapal rumus. Jadi, Kemdikbud harus meningkatkan kualitas dalam proses pembelajarannya, bukan seolah-olah meningkatkan pendidikan dengan soal yang sulit, guru saja tidak tahu HOTS itu apa,” ujar Retno di Jakarta, Selasa (17/4/2018).

Lebih lanjut Retno menuturkan, penerapan HOTS pada soal UNBK 2018 ini memunculkan dugaan adanya malpraktik evaluasi dalam dunia pendidikan. Karena keluhan beberapa siswa, lanjut dia, terindikasi sulit dipahami oleh siswa karena materinya belum pernah diajarkan di kelas, validitas soal bermasalah dalam hal ini.

“Menguji siswa dengan materi yang tidak pernah dipelajari adalah ketidakadilan dan pelanggaran atas hak anak,” ujarnya.

Ia menambahkan, KPAI tidak membuka posko pengaduan, namun beberapa siswa SMA khususnya dari kota besar seperti Jakarta, Tangerang, dan Depok mengadu melalui Whatsapp, DM Twitter, inbox Facebook, dan menelepon langsung.

“Sekitar 27 anak menelepon ke KPAI, beberapa siswa yang menelepon langsung bahkan menangis karena khawatir mendapat nilai buruk. Ada juga yang menyatakan berkurang semangatnya mengikuti ujian di hari berikutnya, akibat frustasi mengerjakan matematika di hari kedua,” ungkap Retno.

(sus)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini