nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Pipa Minyak di Teluk Balikpapan Patah Diduga Dihantam Jangkar Kapal Asing

Agregasi Antara, · Rabu 18 April 2018 19:38 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2018 04 18 340 1888433 pipa-minyak-di-teluk-balikpapan-patah-diduga-dihantam-jangkar-kapal-asing-2Rf18QhRQ0.JPG ilustrasi pencemaran laut (Foto: Walhi)

BALIKPAPAN - Pipa di bawah laut milik PT Pertamina (Persero) yang berlokasi di Teluk Balikpapan, Kalimantan Timur (Kaltim) patah. Akibatnya tumpahan minyak jatuh ke laut hingga menyulut kebakaran kapal. Tumpahan minyak itupun kini mencemari wilayah Teluk Balikpapan.

Direktur Eksekutif The National Maritime Institute (Namarin), Siswanto Rusdi, menilai kemungkinan patahnya pipa minyak tersebut disebabkan oleh benturan jangkar kapal.

"Kondisi pipa Pertamina sangat kuat, sehingga tidak mungkin akan patah tanpa energi yang sangat besar. Salah satu kemungkinan terbesar adalah karena tertarik jangkar kapal ever judger," kata Siswanto, Rabu (18/4/2018).

Jangkar yang dimiliki kapal berbendera Panama tersebut, lanjutnya, memang cukup besar. Dengan panjang sekitar 230 meter dan berat GT44060, dia menduga bahwa kapal memiliki dua jangkar di kiri dan kanan lambung, yang masing-masing berat jangkar bisa mencapai 5-7 ton.

"Jangkar seberat itu sangat mungkin memutuskan pipa Pertamina," tuturnya.

Mengenai pelanggaran buang jangkar di lokasi kejadian, menurut Siswanto, memang bisa saja terjadi karena meski otoritas pelabuhan sudah memberikan peringatan, kapten yang 'nakal' mungkin mengabaikan hal itu. Apalagi, posisi syahbandar sebagai otoritas berada di darat sedangkan kapten berada di kapal.

"Inilah yang harus diinvestigasi lebih dalam. Mengapa sampai kapal tersebut diduga melanggar rambu-rambu dan membuang jangkar. Karena kalau tidak ada pandu, maka 100 persen navigasi berada di tangan kapten," ucap Siswanto.

Sementara itu, Guru Besar Universitas Indonesia (UI), Profesor Budyatna mendesak pihak berwenang untuk segera menuntaskan investigasi, sehingga bisa diketahui siapa sebenarnya yang bertanggung jawab atas putusnya pipa tersebut.

"Apalagi kalau benar bahwa semua itu disebabkan pelanggaran kapal berbendera Panama, kita tidak boleh kecolongan lagi seperti kasus serupa di Raja Ampat. Ketika itu, kapal sudah menghilang padahal terumbu karang kita hancur," sebut Budyatna.

Dalam konteks itu, ia juga mendesak pemerintah untuk segera bertindak. Jika benar dugaan bahwa kasus ini disebabkan pelanggaran kapal asing, pemerintah harus segera mengajukan gugatan melalui peradilan internasional.

"Langkah hukum ini sangat penting agar tidak menjadi preseden buruk di kemudian hari. Pemerintah jangan lemah. Kita kan punya banyak pakar hukum internasional. Kita tidak bisa membiarkan, mereka harus bertanggung jawab. Ini menyangkut kedaulatan negara kita," demikian Budyatna menegaskan.

(put)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini