nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Guru dan Kepsek Sakit Hati atas Ulah KKSB di Kampung Aroanop Papua

Saldi Hermanto, Jurnalis · Jum'at 20 April 2018 15:04 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2018 04 20 340 1889310 guru-dan-kepsek-sakit-hati-atas-ulah-kksb-di-kampung-aroanop-papua-X8ixV5xy6e.jpg Penyelamatan 13 guru yang disandera di Kampung Aroanop. (Foto: Saldi Hermanto/Okezone)

TIMIKA – Ulah kelompok kriminal separatis bersenjata (KKSB) di Kampung Aroanop, Distrik Tembagapura, Kabupaten Mimika, Papua, membuat para guru maupun kepala sekolah (kepsek) di sekitar kampung itu merasa sakit hati. Hal ini sebagaimana diutarakan Kepala SD Inpres Jagamin, Willem Bagau, di Timika.

Ia mengatakan, mereka sakit hati bukan hanya karena para guru mendapat tindak kekerasan dan asusila oleh KKSB, melainkan juga karena ratusan anak di Kampung Aroanop dan Jagamin tidak bisa bersekolah untuk melaksanakan aktivitas belajar, apalagi pada Mei nanti sudah memasuki ujian sekolah.

(Baca: Evakuasi Lanjutan Terhadap Guru di Aroanop Papua Terkendala Cuaca)

Willem Bagau, kepala SD Inpres Jagamin, Distrik Tembagapura, Papua. (Foto: Saldi Hermanto/Okezone)

"Sekolah sementara dihentikan dulu. SD ini kan satu jalur. Ada SD Inpres Aroanop sama SD Inpres Jagamin. Jadi karena situasi ini, kita guru-guru, termasuk kepala sekolah, sakit hati sampai dinas. Jadi sementara ini kita tidak berjalan," tutur Willem.

Kondisi seperti ini belum diketahui kapan akan berakhir, namun semua kebijakan dalam menjalankan aktivitas belajar-mengajar ada pada kepala dinas pendidikan. Pihaknya hanya menyampaikan, untuk sementara waktu dengan kondisi yang ada, kegiatan belajar-mengajar dihentikan.

"Sampai di titik mana? Di situ kita akan lihat, karena sementara ini kita tidak bisa ambil kebijakan, kebijakan dari kepala sekolah. Dinas juga mengerti, akhirnya kita minta enam bulan atau satu tahun kah guru-guru tidak turun ke tempat (kampung), itu tergantung kepala dinas," paparnya.

Kondisi ini, kata Willem, tentunya sangat merugikan anak-anak di wilayah tersebut. Mereka tidak bisa mendapatkan haknya dalam menuntut ilmu, apalagi waktu ujian semakin dekat.

"Memang bukan kita yang dikorbankan, tetapi anak-anak yang dikorbankan. Sekarang sudah dekat ujian dan tidak lama lagi mulai bulan Mei tanggal 8–9, tapi karena ada peristiwa seperti ini sehingga anak-anak di dua SD itu tidak ikut ujian, dan memang itu mengorbankan anak-anak," terangnya.

Ia melanjutkan, jumlah murid di SD Inpres Jagamin sebanyak 182 anak, mulai kelas I sampai VI. Namun, siswa yang aktif hanya 130 anak, dan kini nasibnya terbengkalai. Belum lagi ditambah anak-anak dari SD Inpres Aroanop yang juga berjumlah ratusan.

(Baca: Berhasil Kuasai Kampung Aroanop, TNI Evakuasi 13 Guru dari KKB di Papua)

Sebagaimana diketahui, akibat dari ulah KKSB terhadap para guru di Kampung Aroanop, membuat anggota TNI mengevakuasi mereka, termasuk yang ada di Kampung Jagamin.

Dari total 18 guru yang bertugas di kedua kampung berdekatan itu, 13 di antaranya sudah dibawa ke Timika pada Kamis 19 April.

Rencananya besok, Sabtu 21 April, proses evakuasi kembali dilakukan terhadap tiga guru. Sedangkan dua guru lainnya yang merupakan warga asli setempat memilih tetap berada di kampung.

(han)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini