Ini Penyebab 79 Orang Rohingya Akhirnya Terdampar di Aceh

Khalis Surry, Okezone · Sabtu 21 April 2018 22:01 WIB
https: img.okezone.com content 2018 04 21 340 1889834 ini-penyebab-79-orang-rohingya-akhirnya-terdampar-di-aceh-sX0ZaLzKSd.jpg Imigran Rohingya di Aceh (foto: Khalis/Okezone)

BANDA ACEH - Sebanyak 79 warga etnis Rohingya kembali di selamatkan nelayan Aceh. Para imigran itu masuk ke Aceh setelah diselamatkan nelayan Aceh dan dibawa mendarat ke Pantai Kuala Raja, Kabupaten Bireuen, Provinsi Aceh.

Para imigran itu merapat ke wilayah Aceh pada Jumat (20/4) sekira pukul 14.30 WIB, setelah sempat terombang-ambing di lautan lepas dengan hanya menumpangi parahu kayu. Selama delapan hari. Dan an kini, para imigran itu ditampung sementara di tempat Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) Bireuen. Sejak sore kemarin.

Pengamatan Okezone, di SKB para imigran itu diberikan tiga titik tempat tidur. Satu tempat untuk kaum pria, satu ruang untuk para perempuan, dan satu ruang untuk para imigran yang mengalami sakit. Diaknosa mereka mengalami dehidrasi karena terlalu lama di tengah laut.

Selain itu, di tempat penampungan tersebut para imigran itu juga diberi makanan, pakaian yang telah disediakan pemerintah melalui dinas sosial yang berkoordinasi dengan Tagana dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bireuen. Untuk mandi, selain tersedia kamar mandi yang ada di SKB tersebut, petugas juga mempersiapkan mobil tanki air untuk mandi kaum laki-laki.

Salah seorang warga etnis Rohingya, Muhammad Rafik mengatakan, sebelum terdampar ke Aceh mereka berangkat dari Myanmar menuju Malaysia dan Thailand, namun dihadang ketika memasuki perairan Malaysia dan Thailand mereka dihadang dan tidak boleh memasuki wilayah tersebut.

"Kami sudah keluar Myanmar. Kami sempat merapat ke Thailand tapi dihadang. Kemudian ke Malaysia juga dihadang. Lalu kami menuju Aceh," kata Muhammad, dalam bahasa Melayu yang terbata-bata kepada  di Bireuen, Sabtu (21/4/2018).

Imigran Rohingya di Aceh

Dikatakan Muhammad, sebelum berlaya dirinya dan ratusan muslim Rohingya lainnya sudah menentukan tujuan ke negara mana yang akan dituju. Katanya, kondisi di negara mereka sekarang ini tak lagi kondusif untuk menetap hidup berasama keluarganya.

"Meninggalkan Myanmar karena di sana konflik-konflik saja. Tentara Myanmar menembaki warga. Anak anak (banyak) mati. Dan kami memutusakn untuk lari," ujarnya.

Selain itu, kata Muhammad, tak menyebutkan waktu pertama mereka berlayar hengkang dari Myanmar. Namun, katanya, mereka dalam kapal sudah delapan hari di tengah laut dan terombang-ambing. Orang-orang yang berangkat menggunakan kapal bersamanya dikenakan biaya di setiap, mulai Rp200 ribu hingga Rp300 ribu.

"Di laut selama delapan hari. Selama di laut makanan dan minuman cukup, bahkan banyak. Makanan ini diberikan oleh bosa (saya) di Myanmar. Kami berangkat cuma satu kapal. Tidak ada yang meninggal di tengah laut dan dalam perjalanan," tambahnya.

 Imigran Rohingya di Aceh

Muhammad mengakui memiliki anak berjumlah sembilan orang, yang kini berada di negeri Jiran, Malaysia. Dirinya sangat ingin berkumpul dengan keluarganya.

"Satu istri di Malaysia dan di sini satu (Bireuen). Pekerjaan saya membuat batu bata. Ayah saya sudah mati ditembak di Myanmar pada 2013. Setelah sampai ke Aceh, saya enggak tahu mau kemana lagi. Sebenarnya saya mau di sana (Malaysia)," pungkasnya.

(wal)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini