nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

KPAI Menduga Ada Dalang di Balik Rencana Tawuran Pelajar SD di Purwakarta

Mulyana, Jurnalis · Minggu 22 April 2018 13:01 WIB
https: img.okeinfo.net content 2018 04 22 525 1889945 kpai-menduga-ada-dalang-dibalik-rencana-tawuran-pelajar-sd-di-purwakarta-5ODFQvrfVR.jpg Ilustrasi Tawuran (foto: Okezone)

PURWAKARTA - Prilaku menyimpang yang dilakukan belasan pelajar sekolah dasar (SD) di Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat, mendapat sorotan dari berbagai kalangan. Salah satunya, dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) setempat.

Ketua KPAI Kabupaten Purwakarta, Nur Aisyah Jamil menilai, persoalan ini harus segera diselesaikan secara tuntas. Salah satunya, mencari dalang dibalik rencana 15 pelajar SD yang diduga hendak tawuran pada Jumat 20 April 2018.

Dalam kasus ini, pihanya mensinyalir dalam kasus ini ada keterlibatan orang dewasa. Karena, menurutnya, sangat sulit dipercaya jika anak belasan tahun ini memiliki inisiatif membawa senjata tajam.

"Kami tidak yakin, kalau anak-anak ini melakukan prilaku yang menyimpang seperti itu atas kemauannya sendiri. Kami menduga ada faktor lain. Bisa jadi, ada keterlibatan orang dewasa yang sengaja memberi mereka barang berbahaya itu," ujar Aisyah saat ditemui di kediamannya, akhir pekan kemarin.

(Baca Juga: Diduga Hendak Tawuran, Belasan Bocah SD Terciduk Bawa Sajam)

Menurutnya, tidak mungkin anak belasan tahun seperti mereka punya rencana untuk melakukan tindakan yang menyimpang seperti itu. Artinya, bisa jadi ada yang mendukung atau memfasilitasi.

Dugaannya ini cukup beralasan. Mengingat, anak-anak seusia mereka tengah memasuki tahap pertumbuhan untuk mencari aktualisasi diri. Sehingga, ketika ada yang mendukung, otomatis secara tidak langsung mendorong rasa keingintahuan mereka. Meskipun, hal itu merupakan prilaku menyimpang.

"Menurut kami, seumuran mereka itu sedang dalam masa mencari jatidiri. Makanya, prilaku negatif sekalipun pasti akan mereka kerjakan. Karena,mereka butuh pengakuan, saya nih jagoan, semua orang harus paham saya hebat karena saya bawa golok. Dan itu, mengindikasikan bahwa ada orang dewasa yang memfasilitasi," jelas dia.

Tawuran Pelajar Ketua KPAI Kabupaten Purwakarta, Nur Aisyah Jamil (foto: Mulyana/Okezone)

Saat ini, kata dia, ada beberapa hal yang menjadi fokus jajarannya, yakni mencari tahu sumber yang memfasilitasi senjata tajam kepada mereka. Kemudian, melakukan upaya pemulihan mental anak-anak tersebut. Termasuk, melakukan pendampingan hukum.

"Yang pertama kali kami bidik, yaitu orang yang memfasilitasi mereka," tegas dia.

Menurut dia, pasca kejadian ini anak-anak tersebut harus diberikan perlakuan khusus. Misalnya, harus diisolasi dulu. Supaya, mentalnya bisa dipulihkan. Karena, salah satu tugas lembaga independen ini, yakni bagaimana memulihkan mental mereka. Supaya, mereka mampu beradaptasi kembali dengan lingkungan dan bagaimana mereka bisa melakukan tugasnya sebagai anak-anak.

"Mereka harus mendapatkan haknya, hak pendidikan, hak perlindungan hukum, hak damai. Dan saya tidak mau orang lain membulatkan mereka, karena itu akan membuat trauma berkepanjangan," tegas dia.

Dalam kasus yang dialami 15 pelajar SD tersebut, pihaknya pun sedikit menyayangkan perlakuan pihak kepolisian sesaat setelah mengamankan para pelajar ini. Seharusnya, kata dia, perlakuan yang diberikan kepada anak-anak ini tidak mesti disamakan dengan orang dewasa.

"Untuk kepolisian, mungkin ada beberapa hal yang harus dianalisisa ya. Anak-anak ini, harus mendapat penegakan hukum yang tidak disamakan dengan orang dewasa. Hal ini untuk menjaga sisi psikologi mereka," seloroh dia.

Pendapatnya ini bukan tanpa alasan. Karena, sesaat setelah diamankan oleh pihak berwenang, anak-anak ini diduga mendapat hukuman yang justru mendownkan mental mereka. Seperti ditelanjangi dan disuruh mengacungkan senjata tajam yang mereka bawa.

"Walaupun mereka ini diindikasikan akan melakukan kejahatan, saya berharap polisi mampu melihat situasi mental anak-anak tersebut. Seperti apa mental mereka ketika ditelanjangi, seperti apa ketika dia bawa golok dan goloknya harus diacungkan. Itu pasti emosi mereka terpuruk," jelas dia.

(Baca Juga: Tawuran Pelajar, 1 Orang Tewas)

Karena, pihaknya yain ketika dibawa ke kantor kepolisian saja, mental anak-anak ini sudah sangat down. Beban mental mereka akan semakin berat, apalagi mereka akan menghadapi ujian. Artinya, ini menjadi pukulan yang sangat berat untuk mereka.

"Untuk itu, ini menjadi tugas kami bagaimana memulihkan kondisi mental pelajar tersebut," pungkasnya.

(fid)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini