nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Marak Kekerasan, Calon Guru Harus Dibekali Manajemen Kelola Kelas

Pernita Hestin Untari, Jurnalis · Selasa 24 April 2018 07:15 WIB
https: img.okeinfo.net content 2018 04 23 65 1890457 marak-kekerasan-calon-guru-harus-dibekali-manajemen-kelola-kelas-bmt02yS5rr.jpg Foto: Ilustrasi Okezone

JAKARTA – Video pemukulan guru di SMK Kesatrian Purwokerto terhadap muridnya viral di media sosial dan pemberitaan baru-baru ini. Hal ini menunjukan bahwa dalam mendisiplinkan muridnya kerap kali guru masih menggunakan kekerasan. Jika pemerintah dan masyarakat tidak tegas menangani maka kekerasan dalam pendidikan masih akan terus terjadi.

Hal tersebut dikatakan Sekjen Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) Heru Purno dalam siaran persnya, Selasa (24/4/2018).

Ia mengatakan perilaku guru yang melakukan tindak kekerasan tidak mencerminkan kompetensi kepribadian sehingga diragukan keguruannya.

“Kompetensi kepribadian seorang guru memiliki indikator, diantaranya kepribadian yang mantap dan emosi yang stabil . Adapun esensinya yaitu bertindak sesuai dengan norma hukum, norma sosial, norma agama dan peraturan perundangan yang berlaku,” jelas Heru.

Untuk menghindari tindakan kekerasan yang sering kali terjadi dan mencoreng dunia pendidikan, Heru mengatakan, pihaknya merekomendasikan kepada Kemristekdikti khususnya Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) untuk membekali mahasiswa calon guru dengan praktik terbaik dalam menumbuhkan minat dan disiplin siswa dalam belajar

“Sehingga ketika calon guru menjadi guru dan melaksanakan tugas dilapangan yang sebenarnya tidak gagap ketika menghadapi siswa yang indisplier,” ungkap dia.

Menanggapi lebih lanjut, pengurus daerah FSGI di Mataram, NTB, Mansur menuturkan dalam pelaksanaan tupoksinya, guru harus dibekali kemampuan manajemen pengelolaan kelas, karena setiap guru pasti akan menghadapi anak yang perilakunya agresif dan sulit diatur.

“Memberikan sanksi kepada siswa haruslah bersifat mendidik, bukan dengan kekerasan. Siswa yang dianggap tidak tertib harus dibina dan diberikan sanksi berupa disiplin yang positif. Menampar siswa yang tidak tertib bukan merupakan displin yang positif, tetapi justru melanggar UU Perlindungan Anak,” urai Mansur

(sus)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini