nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

5 Sisi Unik dari Perseteruan Korsel-Korut

Wikanto Arungbudoyo, Jurnalis · Sabtu 28 April 2018 10:01 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2018 04 27 18 1892209 5-sisi-unik-dari-perseteruan-korsel-korut-HYrG6PTRxg.jpg

SEMENANJUNG Korea adalah contoh terbaik dari dampak buruk Perang Dingin antara Amerika Serikat (AS) dengan Uni Soviet. Wilayah tersebut menjadi perwujudan terbaik dari pepatah ‘habis jatuh tertimpa tangga’. Sebab, nasib mereka tidak lebih baik setelah lepas dari pendudukan Jepang.

Uni Soviet dan AS sama-sama menduduki Semenanjung Korea untuk mengusir Jepang. Soviet berada di Utara, sementara AS mengendalikan Selatan. Ketika merdeka dari Jepang, kedua tokoh utama di utara dan selatan sama-sama mendeklarasikan berdirinya negara baru.

Di Selatan, Syngman Rhee terpilih sebagai Presiden Republik Korea (Korea Selatan) pada Mei 1948. Beberapa bulan kemudian, Kim Il-sung mengangkat dirinya sendiri sebagai Perdana Menteri (PM) dari Republik Demokratik Rakyat Korea (DPRK), yang lebih dikenal dengan Korea Utara.

Perbedaan yang terjadi antara kedua negara tersebut memicu Perang Korea yang terjadi pada 1950-1953. Peperangan baru diakhiri dengan kesepakatan gencatan senjata yang diteken oleh Kim Il-sung, tetapi Syngman Rhee tidak menandatanganinya meski berkomitmen untuk patuh.

BACA JUGA: Pemimpin Korsel dan Korut Bergandengan, Awali KTT Antar-Korea Bersejarah

Hingga saat ini kedua negara secara teknis masih dalam keadaan perang karena belum diakhiri dengan pakta perdamaian. Seoul dan Pyongyang tak jarang terlibat persaingan yang dapat dikatakan unik. Berikut persaingan unik antara Korea Utara dan Selatan yang dinukil dari BBC, Sabtu (28/4/2018).

1. Pengeras Suara

 

Kedua Korea saling melemparkan propaganda dengan menggunakan pengeras suara di perbatasan. Sebelum Agustus 2015, pengeras-pengeras suara itu dimatikan selama beberapa tahun sesuai kesepakatan yang terjalin. Benda tersebut dinyalakan kembali setelah dua orang prajurit perbatasan Korsel luka-luka terkena ranjau darat yang dipasang prajurit Korut.

Pengeras suara propaganda itu sebenarnya ditujukan kepada pasukan perbatasan. Akan tetapi, volume suaranya dapat mencapai penduduk yang tinggal di dekat perbatasan Zona Demiliterisasi (DMZ). Isi dari propaganda tersebut berbeda-beda di antara kedua Korea.

Korea Selatan memilih untuk menyebarkan berita, film, dan lagu-lagu K-Pop sementara Korea Utara lebih banyak menyiarkan soal kecaman akan gaya hidup Seoul dan sekutu-sekutunya. Pengeras suara milik Korsel terdengar jauh lebih kencang daripada milik Korut sehingga propaganda berisi kecaman itu hanya sayup-sayup saja.

2. Tiang Bendera

 

Pada dekade 1980, pemerintah Korea Selatan mendirikan tiang bendera setinggi 97 meter (m) di desa perbatasan, Daesong-dong. Korea Utara yang tidak mau kalah juga mendirikan tiang bendera setinggi 160 m di Gijung-dong.

“Cara tersebut adalah tanda bahwa mereka berusaha untuk saling mengalahkan satu sama lain. Bagi Korea Utara, mendirikan tiang yang lebih tinggi sangat penting meski Korea Selatan nampaknya tidak terlalu peduli,” ucap pengamat dari Asian Institute for Policy Studies, James Kim.

3. Balon Propaganda

Korea Utara dan Korea Selatan sama-sama pernah meluncurkan propaganda ke wilayah lawannya dengan menggunakan balon. Di Korea Selatan, para pembelot, kaum konservatif, dan juga kaum reilijius, secara reguler menerbangkan balon-balon tersebut yang diisi berbagai macam benda seperti brosur hingga biskuit cokelat.

Menurut Juru Taktik Human Rights Foundation (HRF), Alex Gladstein, balon-balon tersebut sangat efektif karena dapat menempuh jarak hingga ribuan kilometer. HRF diketahui sering mengirimkan flash disk berisi film, reality show, dan video dokumenter mengenai hidup sehari-hari di Korea Selatan.

Namun, Korea Utara tidak tinggal diam. Pada 2016, mereka mengirimkan ratusan brosur yang memuji-muji kebijakan di Pyongyang lewat balon. Korea Utara mengirimkan balon-balon itu menjelang Kongres Partai Pekerja ke-7 yang dilakukan pertama kali dalam 36 tahun terakhir.

4. Agen Rahasia

Untuk persaingan yang satu ini, Korea Utara unggul dibandingkan Korea Selatan. Pada 2016, Korea Utara merilis deretan angka yang diduga berisi kode rahasia setelah vakum selama 16 tahun. Langkah tersebut membuat Korea Selatan marah besar.

Angka-angka itu dianggap sebagai kode enkripsi yang biasa digunakan oleh agen rahasia di negara asing. Korea Utara menyiarkan angka-angka itu selama 12 menit lewat siaran Pyongyang Radio Station selama 12 menit.

Belum diketahui maksud dari Korea Utara menyiarkan deret angka tersebut. Sebagai informasi, deret angka berisi kode perintah itu digunakan Korea Utara selama masa Perang Dingin. Mata-mata Korea Utara menerjemahkan kode angka tersebut sesuai dengan buku referensi yang mereka pegang.

3. Balon Propaganda

 

Korea Utara dan Korea Selatan sama-sama pernah meluncurkan propaganda ke wilayah lawannya dengan menggunakan balon. Di Korea Selatan, para pembelot, kaum konservatif, dan juga kaum reilijius, secara reguler menerbangkan balon-balon tersebut yang diisi berbagai macam benda seperti brosur hingga biskuit cokelat.

Menurut Juru Taktik Human Rights Foundation (HRF), Alex Gladstein, balon-balon tersebut sangat efektif karena dapat menempuh jarak hingga ribuan kilometer. HRF diketahui sering mengirimkan flash disk berisi film, reality show, dan video dokumenter mengenai hidup sehari-hari di Korea Selatan.

Namun, Korea Utara tidak tinggal diam. Pada 2016, mereka mengirimkan ratusan brosur yang memuji-muji kebijakan di Pyongyang lewat balon. Korea Utara mengirimkan balon-balon itu menjelang Kongres Partai Pekerja ke-7 yang dilakukan pertama kali dalam 36 tahun terakhir.

4. Agen Rahasia

Untuk persaingan yang satu ini, Korea Utara unggul dibandingkan Korea Selatan. Pada 2016, Korea Utara merilis deretan angka yang diduga berisi kode rahasia setelah vakum selama 16 tahun. Langkah tersebut membuat Korea Selatan marah besar.

Angka-angka itu dianggap sebagai kode enkripsi yang biasa digunakan oleh agen rahasia di negara asing. Korea Utara menyiarkan angka-angka itu selama 12 menit lewat siaran Pyongyang Radio Station selama 12 menit.

Belum diketahui maksud dari Korea Utara menyiarkan deret angka tersebut. Sebagai informasi, deret angka berisi kode perintah itu digunakan Korea Utara selama masa Perang Dingin. Mata-mata Korea Utara menerjemahkan kode angka tersebut sesuai dengan buku referensi yang mereka pegang.

5. Tim Unifikasi

 

Meski kedua Korea kerap bersaing di level politik, nyatanya kedua negara tersebut beberapa kali bersatu dalam sebuah tim yang bernama ‘Tim Unifikasi Korea’ dalam beberapa ajang olahraga. Keduanya pertama kali bernaung dalam Tim Unifikasi di Olimpiade Sydney 2000.

Inisiatif itu kembali terjalin pada penyelenggaraan Olimpiade Musim Dingin 2018 di Pyeongchang, Korea Selatan. Kedua Korea bernaung di bawah bendera unifikasi bahkan membentuk satu tim hoki es perempuan yang terdiri dari atlet kedua negara untuk bersaing memperebutkan medali.

BACA JUGA: Korsel-Korut Setuju Denuklirisasi Korea dan Akhiri Perang Tahun Ini

Momentum unifikasi Korea Utara dengan Korea Selatan itu dilanjutkan dengan menggelar KTT Antar-Korea pada Jumat. Seoul dan Pyongyang yang hampir tidak berkomunikasi lewat sambungan telefon, kini sudah dapat saling memanggil satu sama lain.

Dalam pertemuan tingkat tinggi pertama antara dua pemimpin Korea dalam lebih dari satu dekade tersebut, Pemimpin Korea Utara, Kim Jong-un dan Presiden Korea Selaran, Moon Jae-in sepakat berjanji untuk segera mengakhiri perang dan bekerja ke arah denuklirisasi di Semenanjung Korea.

Namun, kedekatan kedua Korea menjadi percuma apabila tidak ada pakta perdamaian resmi guna mengakhiri perang. Sebab, meski secara lisan sudah mengakui untuk mengakhiri perang, bukti hitam di atas putih tetap diperlukan sebagai tanda komitmen kedua negara.

1
4

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini