nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Dilema Siswa Perbatasan: Sekolah atau Bekerja di Malaysia

Ade Putra, Jurnalis · Minggu 29 April 2018 17:16 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2018 04 29 340 1892595 dilema-siswa-perbatasan-sekolah-atau-bekerja-di-malaysia-75VU9zTauy.jpg

ENTIKONG - Ujian Nasional (UN) tingkat SMP/MTs sudah berakhir. Di sejumlah daerah, tentu banyak mengisahkan cerita. Termasuk di Perbatasan Entikong, Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat.

Di SMP Negeri 3 Entikong yang terletak di perbatasan negara dengan Malaysia itu, terdapat dua orang siswi yang tidak mengikuti UN. Dengan demikian, keduanya dipastikan tidak akan lulus sekolah. Karena UN merupakan salah satu syaratnya.

Alasan mereka tidak ikut UN, lantaran pergi ke Malaysia untuk bekerja dan tersandung persoalan keluarga. "Dua siswi itu mengundurkan diri sebelum UN. Penyebabnya, siswi itu pergi ke Malaysia dan tidak kembali. Dia bekerja di sana. Satu siswi lagi karena ada masalah keluarga," ungkap Taufik, belum lama ini.

Ia menambahkan, hanya masalah itu yang terjadi di sekolah yang ia pimpin. Selebihnya, pelaksanaan UN di SMP Negeri 3 berjalan lancar. "Tahun ini sekolah kita menyelenggarakan UN berbasis kertas dan pensil. Karena, kesiapan sarana prasarana penyelenggaraan ujian nasional berbasis komputer belum tersedia," ujarnya.

Terpisah, Anggota DPRD Kabupaten Sanggau Eko Agus Permadi mengaku miris dengan adanya salah satu peserta UN di SMP Negeri 3 yang memilih bekerja ke Malaysia ketimbang mengikuti UN.

Menurutnya, hal ini terjadi karena sejumlah faktor. Seperti kemampuan ekonomi keluarga yang kurang mendukung sehingga membuat si anak harus ikut bekerja tanpa memikirkan pendidikan. Kemudian kondisi daerahnya di pelosok perbatasan dan tempat asal salah satu siswi ini belum banyak tersentuh pembangunan.

"Ini bukan masalah nasionalisme. Kalau nasionalisme warga perbatasan saya kira tidak diragukan lagi. Cuma karena keterbatasan, karena keterpaksaan, ya mau gimana lagi," ujarnya.

"Makanya saya minta kepada pemerintah di tingkat pusat dan daerah untuk mencukupi kebutuhan dasar masyarakat, terutama yang di daerah pelosok sana," pinta Eko.

Menurut dia, alasan warga bekerja di Malaysia hanya sekedar untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. Pasalnya, lapangan pekerjaan di perbatasan saat ini cukup minim apalagi untuk para remaja yang memiliki kemampuan terbatas.

"Di Malaysia juga tidak menjanjikan apa-apa. Mereka bekerja di sana cuma cukup untuk kebutuhan sehari-hari saja. Jadi tidak untuk mencari kekayaan. Gaji disana juga biasa-biasa saja," terangnya.

Eko juga berharap kepada para guru, di samping menjadi pendidik, mereka juga bisa menjadi motivator yang memberikan pandangan supaya murid semangat untuk belajar dan melanjutkan pendidikan.

1 / 2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini