Misteri Kematian Poro Duka saat Melawan Pengambilan Lahan Ritual Adat

Adi Rianghepat, Okezone · Rabu 02 Mei 2018 13:01 WIB
https: img.okezone.com content 2018 05 02 340 1893572 misteri-kematian-poro-duka-saat-melawan-pengambilan-lahan-ritual-adat-dfIUo7tJm0.jpg Poro Duka tewas saat mempertahankan lahan ritual adat. (Foto: Ist)

KUPANG - Poro Duka, bapak empat anak itu, Rabu 2 Mei 2018 dimakamkan setelah meregang nyawa kala mempertahankan haknya atas lahan yang diklaim PT Sutera Maros Kharisma, pada Selasa 25 April 2018 silam. Petani ladang ini terjatuh di kerumuman warga lainnya kala bentrokan melawan aparat kepolisian dibantu TNI yang terjadi di siang nahas sekira Pukul 13.00 Wita.

Tangis duka nan pilu terus mewarnai rumah duka oleh anak-anak dan istri serta seluruh keluarga dan kerabat korban. Hingga kini, belum ditemukan penyebab dan pelaku pembunuh tulang punggung keluarga itu. Simpang siur penyebab kematian Poro Duka masih terus mewarnai duka lara keluarga.

Kepolisian Daerah Nusa Tenggara Timur dalam rilisnya usai pelaksanaan autopsi yang dilakukan di RSUD Waikabubak mengatakan, tidak ditemukan proyektil peluru di dalam tubuh korban. "Belum ada hasil penyebab kematian korban," kata Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Kepolisian Daerah Nusa Tenggara Timur (Polda NTT), Kombes Pol Jules Abraham Abast yang dihubungi Okezone di Kupang, Selasa 1 Mei 2018.

Dia kemudian mengungkap adanya mediasi dengan pihak yang mengaku pemilik lahan dan Pemerintah Kabupaten Sumba Barat. "Kondisi di Sumba Barat pun sangat kondusif, saat bersama Kapolda datang ke rumah korban," katanya.

Misteri kematian Poro Duka kian simpang siur seiring dengan begitu banyak kronologi yang beredar di jagat maya. Konflik kepentingan dinilai menjadi salah satu penyebab. Ketua Umum Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) Asfinawati bahkan mendesak jajaran Kepolisian RI untuk langsung mengambil alih penyeldikan kasus ini dan tidak membiarkan jajaran Polda NTT untuk menyelidikinya. Hal itu kata dia, karena konflik kepentingan akan sangat mengganggu transparansi penegakan hukum yang telah menimpa warga tak berdaya itu.

Menurut dia, tragedi kekerasan di Morosi, Desa Patiala Bawah, Kecamatan Lamboya, Kabupaten Sumba Barat pada 25 April silam, bukanlah pertama dan satu-satunya terjadi di NKRI. Polisi adalah alat negara milik rakyat Indonesia, namun agaknya sulit mengharapkan polisi untuk benar-benar mengabdi pada rakyat kecil manakala dihadapkan pada kepentingan investasi. Dalam banyak kasus, pengamanan kepolisian berkontribusi signifikan bagi pengambilalihan lahan-lahan dan sumber daya alam untuk investasi.

Karena itu, YLBHI meragukan kasus ini akan serius diusut. Salah satu faktor penyebab adalah tingginya konflik kepentingan polisi. Narasi-narasi kepentingan umum selalu dijadikan alasan untuk penggunaan kekerasan di lapangan. "Dan hal ini tidak boleh dibiarkan terus terjadi dan dialami warga miskin di pelosok negeri tercinta ini," kata dia.

Dalam kondisi itulah, kata Asfinawati, YLBHI menuntut penegakan hukum atas tewasnya Poro Duka serta korban kekerasan lainnya. Pelanggaran-pelanggaran HAM dalam peristiwa Morosi harus diusut tuntas demi hukum dan kemanusiaan. Penyelidikan kasus ini harus ditarik di bawah pengawasan langsung Mabes Polri demi meminimalisir konflik kepentingan dan memastikan penyidikan berjalan secara obyektif dan profesional alias tidak menyederhanakan kasus ini sebagai pelanggaran etik semata, melainkan melakukan penyelidikan lebih dalam atas dugaan kejahatan atau tindak pidana kekerasan terhadap orang yang mengakibatkan kematian.

YLBHI juga meminta KOMNAS HAM melakukan penelitian terhadap dugaan pelanggaran HAM di dalam peristiwa Morosi dan mengawal proses-proses penyelidikan Mabes Polri. Selanjutnya YLBHI juga meminta Lembaga Perlindungan Saksi Korban (LPSK) aktif memberikan perlindungan terhadap keluarga korban dan saksi-saksi terhadap kemungkinan intervensi dan intiminasi.

Ada Proyektil Peluru Tajam

Meskipun secara kelembagaan jajaran Polda NTT mengaku tidak terdapat proyektil peluru yang bersarang di tubuh Poro Duka. Namun Kepala Desa Patiala Bawah, Kecamatan Lamboya, Kabupaten Sumba Barat, Luter Laku Nija mengaku melihat langsung peluru tajam diambil dari dalam lambung korban Poro Duka saat menjadi saksi autopsi yang digelar petugas medis di Rumah Sakit Umum Daerah Waikabubak pada Jumat 27 April 2018 lalu.

Proyektil yang ditemukan.

"Ya saya melihat sendiri peluru tajam berwarna kuning yang diambil ibu dokter dari dalam lambung jenazah Poro Duka saat autopsi berlangsung," katanya. "Saya tidak bisa membuat fotonya karena kami dilarang membawanya ke dalam ruangan autopsi," katanya lagi.

Kepala Desa Patiala Bawah, Luter Laku Nija yang juga berstatus sebagai Bapak Kecil dari Poro Duka mengaku hanya sendiri sebagai wakil keluarga dalam pelaksanaan autopsi tersebut. "Memang ada orang lain yaitu tim medis namun saksi keluarga saya sendiri dan saya melihat peluru itu," katanya.

Dia juga mengatakan, bahwa ada lubang di bawah dada korban Poro Duka. Meskipun pada akhirnya peluru tajam yang menyebabkan Poro Duka meregang nyawa diambil dari dalam lambung korban. "Pelurunya diambil dari lambung korban," katanya dengan suara tegas.

Dia berkisah, Poro Duka terjatuh saat korban bersama seluruh warga desa setempat melarang petugas pertanahan yang dikawal petugas keamanan bersenjata lengkap hendak mengukur luasan lahan tempat warga melakukan ritual adat. Karena sejauh ini lokasi yang biasa dijadikan warga sebagai tempat ritual adat itu tidak pernah dipindahtangankan dengan cara menjual kepada siapapun. "Tempat ritual adat itu milik semua orang warga suku jadi tidak pernah dijual," katanya.

Karena pelarangan warga itu, maka timbullah kerusuhan. "Terjadilah penembakan-penembakan oleh aparat sekitar pukul 14.00 Wita," katanya. Warga yang menjadi saksi kejadian itu sekitar 100 orang warga. "Namun Poro Duka yang terjatuh ditembak dan Matiduka juga ditembak di kedua kakinya. Selain itu, lebih dari 10 orang mengalami tindakan kekerasan dari aparat kepolisian dan satu orang di antaranya seorang anak SMP," katanya.

"Saya siap menjadi saksi aksi itu karena saya juga berada di lokasi juga sebagai saksi melihat peluru yang dikeluarkan dari dalam lambung korban Poro Duka," kata Luter.

Solidartas Dukungan

Meskipun belum menemukan titik terang, solidaritas dukungan datang dari berbagai pihak, yang menuntut aparat kepolisian bertanggung jawab menegakkan hukum di kasus yang telah memakan satu korban jiwa itu.

Solidaritas untuk Marosi yang terdiri dari Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Provinsi NTT, FMN Cabang Kupang, Gamas, Serikat Tani Enolanang, GPR-MKS, Ipmalaya, Hipmalbar, Ipmal, Hipmatri, PS, Hipmur, Gemurab, KSN serta Kompak dan sederet organisasi lainnya menuntut Kapolda NTT bertanggung jawab atas meninggalnya Poro Duka dan semua warga yang mengalami tindakan kekerasan.

"Jika Pak Kapolda tidak mau bertanggung jawab maka Pak Kapolda NTT harus mengundurkan diri," kata Markus B Rina selaku koordinator solidaritas untuk Marosi.

Bersama-sama rekan lainnya, Melkianus Hadi  juga menuntut pencopotan terhadap Kapolres Sumba Barat, Kepala BPN NTT dan Kepala Dinas Pertanahan Sumba Barat. Selain itu, solidaritas meminta Mabes Polri mengirim tim khusus untuk mengusut tuntas kasus penembakan ini demi meminalisir konflik kepentingan, serta meminta pencabutan izin atas nama PT Sutra Marosi Kharisma yang bermodus investasi namun telah membikin konflik yang menelan satu korban jiwa.

"Kami juga meminta agar TNI dan polisi tidak lagi dilibatkan dalam proses penyelesaian sengketa tanah di tengah masyarakat," kata Markus B Rina.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini