nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Nasib Penyu di Raja Ampat Melawan Tradisi Lokal

Chanry Andrew S, Jurnalis · Jum'at 04 Mei 2018 08:58 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2018 05 04 340 1894311 nasib-penyu-di-raja-ampat-melawan-tradisi-lokal-WYx5S7foVk.jpg Seorang warga di Kampung Sapokreng, Raja Ampat, Papua Barat sedang menyembelih penyu untuk makanan lokal masyarakat setempat (Foto: Chanry Andrew Suripatty/Okezone)

WAISAI - Pemerhati lingkungan hidup asal Australia, Norman Van't Hoff menemukan adanya bencana besar yang mengancam kepunahan hewan reptil penyu di sejumlah lokasi di kabupaten Raja Ampat, Papua Barat.

Sejumlah foto adanya pembantaian penyu yang merupakan hewan dilindungi didapatkan Norman saat berkunjung ke sebuah kampung di kabupaten Raja Ampat, tepatnya di kampung Sapokreng, Raja Ampat, Senin (1/5/2018). Foto tersebut pun di unggah Norman, pada media Sosial, Facebook yang mendapatkan banyak sekali tanggapan dari Netizen.

Dalam unggahan tersebut menurut Norman dirinya juga menulis tentang harapannya agar warga sekitar dapat melindungi kawasan pulau Bahari, Raja Ampat dari ancaman kepunahan hewan langka seperti penyu dan lainnya. Juga perlindungan terhadap ekosistem yang ada di bawah laut kepulauan Raja Ampat.

"Teman-teman Papua saya, jika anda tidak memutuskan untuk melindungi Raja Ampat (perburuan penyu), itu akan dihancurkan. Hanya anda yang bisa menyelamatkan Raja Ampat,"ungkap Norman, saat berbincang-bincang dengan Okezone, di Waisai, Raja Ampat, Papua Barat, Rabu (02/5/2018).

Norman mengaku sedih dan prihatin karena melihat hewan yang terancam punah seperti penyu, (Tete ruga, nama sebutan warga setempat bagi hewan reptil tersebut.red), di kampung Sapokreng, menurutnya hewan-hewan tersebut dilindungi karena bahaya kepunahan mengancam.

"Saya sedih melihat hewan yang terancam punah terbunuh di Saporkreng hari ini. Alasan hewan-hewan ini dilindungi oleh hukum adalah mereka berada dalam bahaya kepunahan," ujar Norman

Norman juga mengatakan kondisi penyu pada masa lalu sangat banyak, namun dengan perburuan liar maka kura-kura akan semakin sedikit daripada manusia yang mendiami planet ini.

 Foto: Sportourism

"Di masa lalu ada sidikit orang dan banyak penyu, sekarang, ada banyak orang dan sangat sedikit penyu. Tanyakan pada orang tua bagaimana rasanya ketika mereka masih muda, apakah ada lebih banyak ikan? Apakah ada banyak kerang, banyak penyu? Dan bagaimana dengan sekarang? Apakah ada berubahan?,"ujar Norman sedih.

Menurut Norman, walaupun penyu dibunuh sebagai suatu tradisi warga masyarakat setempat, namun itu merupakan suatu kesalahan fatal dan dapat menyebabkan punahnya hewan dilindungi tersebut. Norman juga mencontohkan tentang tradisi masyarakat suatu desa di Bali, yang kini sudah tidak lagi dilakukan oleh masyarakat setempat karena telah sadar akan kesalahan yang dilakukan.

"Hanya karena sesuatu adalah tradisi di masa lalu tidak berarti itu baik-baik saja sekarang. Masa lalu, orang Bali melemparkan perawan ke gunung berapi, tetapi mereka tidak melakukannya sekarang.

"Menghancurkan alam berarti mencuri dari anak-anak dan cucu Anda. Jika alam dihancurkan orang-orang Anda akan menderita. Jika Anda terus membunuh semuanya tanpa aturan atau larangan, tidak akan ada ikan, tidak ada kerang, tidak ada penyu," jelasnya

Norman pun berharap adanya kesadaran penduduk setempat untuk tidak lagi membunuh penyu demi alasan apapun. Apalagi sampai penyu tersebut dipasarkan. Menurutnya masih banyak cara untuk mencari uang yakni dengan menawarkan keindahan alam Raja Ampat bagi para wisatawan.

"Jika Anda tidak peduli tentang alam setidaknya pikirkan tentang uang. Masa depan di Raja Ampat adalah pariwisata dan orang-orang datang ke Raja Ampat untuk melihat alam. Anda tidak perlu membunuh kura-kura atau menjual kepiting kelapa untuk bertahan hidup, tetapi Anda perlu pariwisata untuk ekonomi pulau Anda untuk bertahan hidup," katanya.

Di Pulau Bahari, Kabupaten Raja Ampat, adalah daerah yang paling indah dan telah terkenal hingga ke pelosok dunia, apalagi keindahan pada bawah lautnya. Jika boleh ditanyakan, siapa yang tidak tahu dengan Pulau Bahari Raja Ampat, mulai dari Waigeo hingga Misol. Tentu sebagian besar orang tahu dua pulau itu. Keindahan bahari Raja Ampat memang salah satu yang terbaik di Indonesia. Apalagi masuk dalam kawasan segitiga karang dunia atau coral triangle. Menjadikan Raja Ampat memiliki gugusan terumbu karang yang jumlahnya ada ratusan jenis.

Layaknya perut buminya, kekayaan bawah laut Raja Ampat juga terus dieksploitasi. Yang sejak lama dieksploitasi secara berlebihan adalah penyu . Padahal, penyu ini menjadi hewan yang dilindungi oleh undang-undang. Pihak pemerintah daerah dan seluruh instansi terkait diharapkan dapat memberikan jaminan dalam perlindungan terhadap penyu di kabupaten Bahari Raja Ampat.

1 / 2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini