Image

Nilai Rata-Rata Ujian Nasional 2018 Turun, Ini 2 Biang Keladinya

Yohana Artha Uly, Jurnalis · Selasa 08 Mei 2018 21:22 WIB
https: img.okeinfo.net content 2018 05 08 65 1896034 nilai-rata-rata-ujian-nasional-2018-turun-ini-2-biang-keladinya-KTrJh7SmuB.jpg Foto: Penyebab Nilai Rata-Rata Ujian Nasional Turun (Yohana/Okezone)

JAKARTA - Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) mencatatkan terjadi penurunan rata-rata nilai Ujian Nasional 2018. Penurunan utamanya terjadi pada mata pelajaran matematika, fisika, dan kimia.

Pada jurusan IPA, mata pelajaran matematika terkoreksi -4,67 poin, lebih rendah ketimbang tahun 2017 yang terkoreksi -11,62 poin. Fisika sebesar -5,35 poin, pada 2017 terkoreksi -5,74 poin. Sedangkan Kimia sebesar -0,67 poin, lebih tinggi daei 2017 yang sebesar -2,68 poin.

Untuk jurusan IPS, matematika terkoreksi -4,73 poin, lebih rendah dari 2017 yang terkoreksi sebesar -9,97 poin. Sementara, jurusan Bahasa mencatat matematika terkoreksi -2,48 poin, lebih rendah ketimbang 2017 sebesar -4,96 poin.

Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kemendikbud Totok Suprayitno mengatakan, indikasi kuat penurunan rata-rata nilai UN disebabkan dua faktor. Pertama, karena adanya beberapa soal dengan standar yang lebih tinggi dibanding UN Tahun 2017 dimasukkan dalam UN 2018. Dalam hal ini dikenal dengan istilah HOTS atau High Learning Order Thinking Skill.

 

Hal ini berdampak pada kesulitan siswa dalam mengerjakan soal. Dia menyebutkan, kesulitan ini tampak dialami oleh siswa-siswa di 50% sekolah, ditunjukkan dengan rerata nilai UN yang menurun. Namun, nilai UN sebanyak 50% sekolah lainnya mengalami justru mengalami kenaikan.

"Memang terjadi penambahan kesulitan, tapi ternyata enggak berpengaruh siginifikan ke penurunan nilai. Dilihat dari distribusi nilai, separuh anak-anak memang ada yang turun rata-ratanya, tapi separuhnya naik, secara agregarat kesulitan soal itu tidak berpengaruh, rata-rata kecil," paparnya dalam konferensi pers di Gedung Kemendikbud, Jakarta, Selasa (8/5/2018).

Sementara, faktor kedua karena perubahan moda ujian dari Ujian Nasional berbasis Kertas dan Pensil (UNKP) ke Ujian Nasional berbasis Komputer (UNBK). Hal ini dikatakan, menjadi faktor yang memberi pengaruh signifikan terhadap penurunan nilai UN.

Di mana sekolah dengan Indeks Integritas Ujian Nasional (IIUN) rendah pada UN 2017, yakni masih menggunakan UNPK pada tahun tersebut dan beralih ke UNBK, secara rata-rata nilainya menurun sebesar 39 poin. Bahkan ada beberapa sekolah yang rata-rata nilai UN-nya turun hampir 50 poin.

 

Namun, menurutnya, UN 2018 menunjukkan ada perbaikan integritas. Dimana hasil pelaksanaan UNKP 2018 menunjukkan terjadi perbaikan IIUN dari sekolah yang tingkat integritasnya rendah menjadi tinggi. Sebanyak sekitar 40% sekolah memiliki IIUN Iebih dari 80%.

"Banyak yang di UNPK nilainya bagus, tapi integritas nya rendah dan sekarang mereka beralih ke UNBK. Tingkat integritas meningkat. Dimana, sekolah yang integritas tinggi (nilai) terkoreksi dikit, yang udah UNBK terkoreksi dikit sekali. Nilai anak-anak menurun bukan karena bodoh, tapi terdistorsi UNKP kemarin," jelasnya.

Ketua Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP), Bambang Suryadi menambahkan, pengadaan soal HOTS membuat standar pendidikan Indonesia semakin tinggi, mengejar ketertinggalan dari negara lainnya. Oleh sebab itu, soal ini akan terus diadakan namun dengan persiapan lebih yakni peningkatan pembelajaran baik pada siswa maupun guru.

"Kalau tidak kenalkan soal-soal yang model begini (HOTS), akan sulit mengejar itu (ketertinggalan). Peta hasil UN ini untuk perbaikan proses pembelajaran di Indonesia," ujarnya dalam kesempatan yang sama.

 

(rhs)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini