Image

Kisah Pedagang Soal Ujian SBMPTN yang Kian Sepi Peminat

Bramantyo, Jurnalis · Selasa 08 Mei 2018 23:29 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2018 05 08 65 1896055 kisah-pedagang-soal-ujian-sbmptn-yang-kian-sepi-peminat-FQPb3MsvZF.jpg Pedagang soal ujian SBMPTN. Foto: Bramantyo/Okezone

SOLO - Meski peserta Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN) meningkat, namun tak begitu dengan pendapatan Walidi (50 ), salah satu pedagang musiman yang berjualan soal-soal SBMPTN di sekitar kampus UNS. Pasalnya, sejak diberlakukan sistem online, dirinya mengaku jumlah pembeli makin menurun.

Sejak 2007 kata Walidi, dirinya sudah mulai berjualan prediksi soal-soal SBMPTN. Selain itu dirinya juga menjual jasa mencarikan pondokan atau rumah kos bagi mahasiswa baru.

Namun adanya sistem pendaftaran online berimbas dengan penghasilannya. Sebelum diberlakukan sistem online, dirinya bisa meraup untung hingga jutaan rupiah. Namun dirinya kini dalam sehari dirinya hanya mampu menjual 1-2 buku panduan yang dihargai Rp75 ribu yang berisi 3 paket soal. 

"Sayang sejak diberlakukan sistem online, usaha saya justru gulung tikar. Calon mahasiswa tidak perlu ke kampus, cukup dari rumah. Soalnya juga belajar lewat online saat ini. Hanya tinggal tiga orang (pedagang) saja yang bertahan," keluhnya, Selasa (8/5/2018). 

Bahkan harapan untuk bisa mendapatkan rezeki dari usaha musiman lainnya, yakni menjual jasa mencari kos atau kontrakan untuk mahasiswa baru juga semakin terpinggirkan. Dirinya harus bersaing dengan kumpulan mahasiswa yang juga mencari kerja sampingan sebagai penjual jasa mencari kos untuk mahasiswa baru.

(Baca juga: Hasil Ujian SBMPTN 2018 Diumumkan Selasa 3 Juli 2018)

"Saiki malah kalah saingan mas, sama yang pakai jas (almamater). Mereka juga mulai menawarkan jasa membantu cari kos. Saat daftar ulang biasanya mahasiswa baru didatangi diberi brosur dan biasanya mereka (orang tua) lebih percaya," tutur Walidi.

Pernyataan Walidi ada benarnya, saat itu Okezone juga didatangi mahasiswa jurusan Akuntansi semester 2 yang menawarkan jasa kos. Harga yang ditawarkan ada yang bulanan juga ada tahunan, mulai dari Rp300 ribu per bulan hingga belasan juta rupiah per tahunnya, tergantung bujet dan fasilitas yang diinginkan.

"Kalau mau cari kos hubungin nama dan nomor ini saja (sambil memberikan no HP). Nanti akan dibantu untuk melihat kosnya, gratis kok tidak dipungut biaya. Jika cocok langsung ketemu sama pemilik kos," jelas salah satu mahasiswi asal Kalimantan Selatan yang enggan disebut namanya.

Lokasinya juga bisa memilih, namun sebagian besar di sekitar lokasi kampus UNS, baik di bagian depan ataupun bagian belakang kampus. Tentunya harganya juga berbeda, biasanya yang dekat lokasi harga lebih mahal.

(qlh)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini