nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Literasi Pembelajaran Digital Perlu Komunitas 'Zaman Now'

Yohana Artha Uly, Jurnalis · Senin 14 Mei 2018 20:39 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2018 05 14 65 1898294 literasi-pembelajaran-digital-perlu-komunitas-zaman-now-7i4OEB6g1Z.jpeg Layanan belajar gratis Bahaso dan Quipper (Foto:Yohana/Okezone)

JAKARTA - Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) menyatakan literasi berbasiskan digital memang terancam dengan penyebaran isu hoax di media sosial. Oleh sebab itu, diperlukan pengawasan dan arahan yang tepat bagi siswa 'jaman now'.

Pelaksana Harian Gerakan Literasi Nasional Kemendikbud Wien Muldian mengatakan, literasi digital selama ini lebih fokus kepada pencegahan konten hoax bukan pada gerakan membuat konten positif. Hal inilah yang perlu didorong, sebab gerakan konten positif pun baru muncul saat ini.

Menurutnya, pembelajaran ke depan dengan tantangan modernisasi harus didorong dengan konsep pembelajaran kolektivitas atau membentuk komunitas, sehingga bisa menghasilkan suatu ide yang positif. Seperti, platform penyedia layanan pembelajaran secara online yang kini bermunculan di antaranya Quepper dan Bahaso.

Beasiswa Bahaso

"Platform yang ada sekarang ini (layanan pembelajaran online) pun karena awalnya ada komunitasnya yang dibentuk, sehingga membuat platform. Nah, gimana gimana kita sediakan itu dan sediakan konten positif sehingga orang bijak ambil pilihan di dunia maya," kata dia dalam acara media briefing 'Beasiswa untuk Negeri' Quipper dan Bahaso di The H Tower, Jakarta, Senin (14/5/2018).

Dia menjelaskan, saat ini kondisi generasi milenial dimanjakan dengan kemudahan lewat perkembangan teknologi. Hal ini membuat mereka mudah mendapatkan sesuatu sehingga secara psikologis berdampak pada mereka yang sulit untuk menyaring suatu informasi dan mengambil suatu keputusan.

"Kita gerakkan literasi (konten positif) di sekolah, anak-anak ini diharapkan nantinya bisa ambil keputusan. Mereka butuh didukung lingkungannya. Mereka kan sekarang suka ga punya target kehidupan. Kita arahkan supaya mereka targetkan kehidupan," katanya.

Beasiswa Bahaso

Oleh sebab itu, perlu adanya interaksi antar sesama dengan membangun komunitas dan membangun partisipasi aktif. Sehingga dengan komunitas ini dapat berdampak pada kemampuan mereka untuk menentukan pilihan hidup ketika bekerja nanti.

"Semua interaksi itu nantinya akan memunculkan konten-konten positif," ucapnya. 

Kemendikbud sendiri, kata dia, sudah memberikan akses bagi konten-konten positif guna pembelajaran bagi anak hingga orang tua.

"Di website kita ada materi toleransi, hidup hemat, untuk orang tua juga untuk anak SD kita buat. Ini berharap dimanfaatkan dan bisa dipraktekkan, bukan hanya pahami tapi praktikan di kehidupan," tegasnya. 

(rhs)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini