Image

Rumah Eks PM Malaysia Najib Razak Digeledah Polisi

Rahman Asmardika, Jurnalis · Kamis 17 Mei 2018 11:02 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2018 05 17 18 1899318 rumah-eks-pm-malaysia-najib-razak-digeledah-polisi-zE514LOvgx.jpg Beberapa polisi terlihat di depan kediaman mantan PM Najib Razak. (Foto: The Star)

KUALA LUMPUR – Kepolisian Malaysia menyita tas tangan dan beberapa barang-barang pribadi lainnya dari rumah mantan Perdana Menteri Najib Razak. Pengacara Najib mengatakan, penyitaan barang-barang itu dilakukan sehubungan dengan penyelidikan kasus pencucian uang yang melibatkan pria berusia 64 tahun itu.

Belasan polisi memasuki kediaman Najib pada Rabu malam setelah dia kembali dari ibadah di masjid. Mereka melakukan penggeledahan selama sekira enam jam dan membawa tas-tas berukuran besar ke dalam rumah sebelum kemudian memasukkannya ke dalam truk.

BACA JUGA: Mantan PM Najib Razak Dilaporkan ke Komisi Anti-Korupsi Malaysia

"Penggeledahan seharusnya dilakukan bawah undang-undang tindak pencucian uang ... mereka tidak menemukan apa pun yang memberatkan," kata pengacara Najib, Harpal Singh Grewal sebagaimana dilansir Reuters, Kamis (17/5/2018).

Dia menjelaskan, polisi mengambil beberapa barang milik pribadi termasuk beberapa tas tangan. Namun, Harpal menambahkan bahwa tidak ada indikasi bahwa polisi akan menahan kliennya.

Selain di kediaman Najib, puluhan polisi juga terlihat di sebuah kondominium mewah di Kuala Lumpur di mana Najib memiliki apartemen.

BACA JUGA: Kalah di Pemilu Malaysia, Najib Razak Dicekal ke Luar Negeri

Setelah memenangi pemilihan umum Malaysia pekan lalu, Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohamad langsung melarang Najib dan istrinya Rosmah untuk pergi ke luar negeri. Mahathir mengatakan, ada cukup bukti untuk menyelidiki skandal korupsi miliaran dolar dana 1Malaysia Development Berhad (1MDB) yang melibatkan Najib sebagai pendirinya.

Najib telah membantah semua tuduhan dan menyatakan dirinya tidak bersalah dalam kasus tersebut. Skandal tersebut saat ini tengah diselidiki di sedikitnya enam negara, termasuk Amerika Serikat.

(dka)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini