Image

Korsel Siap Jadi Mediator untuk Selesaikan Masalah Pertemuan Korut dan AS

Rahman Asmardika, Jurnalis · Kamis 17 Mei 2018 18:47 WIB
https: img.okeinfo.net content 2018 05 17 18 1899564 korsel-siap-jadi-mediator-untuk-selesaikan-masalah-pertemuan-korut-dan-as-KEZSAYs1Yc.jpg Foto: Reuters.

SEOUL – Korea Selatan mengatakan akan berusaha untuk menjadi penengah antara Korea Utara dengan Amerika Serikat setelah Pyongyang mengancam akan menarik diri dari pertemuan tingkat tinggi antara Pemimpinnya, Kim Jong-un dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Pertemuan yang dinantikan itu semula direncanakan dilangsungkan di Singapura pada 12 Juni mendatang.

Pada Rabu, Korea Utara mengatakan pihaknya tidak akan menghadiri pertemuan itu jika Amerika Serikat terus menerus memintanya meninggalkan persenjataan nuklirnya secara sepihak.

Surat kabar Jepang, Asahi pada Kamis melaporkan bahwa Amerika Serikat telah meminta Korea Utara untuk mengirimkan beberapa hulu ledak nuklir, rudal balistik antar benua dan material nuklir lain miliknya ke luar negeri dalam waktu enam bulan.

BACA JUGA: Gara-Gara Latihan Militer, Korut Ancam Batalkan Pertemuan Trump-Kim Jong-un

Asahi mengutip beberapa sumber termasuk Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Mike Pompeo yang disebut telah mengatakan kepada Kim Jong-un bahwa Korea Utara akan dihapus dari daftar negara sponsor terorisme jika mengirimkan benda-benda nuklir itu ke luar negeri. Disebutkan juga bahwa jika Amerika Serikat akan mempertimbangkan memberi jaminan untuk rezim Kim jika Pyongyang setuju untuk menyelesaikan denuklirisasi yang dapat diverifikasi dan tak bisa diubah lagi pada pertemuan puncak di Singapura.

Keraguan akan berlangsungnya pertemuan itu muncul setelah Korea Utara mengecam latihan militer gabungan Amerika Serikat dan Korea Selatan dan menyebutnya sebagai provokasi. Pyongyang juga membatalkan pembicaraan tingkat tinggi dengan Seoul yang digelar pada Rabu.

Trump telah mengatakan bahwa belum jelas apakah pertemuan antara dirinya dengan Kim akan tetap berlangsung atau tidak, tetapi menegaskan bahwa dia akan terus menekan denuklirisasi di Semenanjung Korea.

Kantor kepresidenan Korea Selatan, Gedung Biru menyatakan bahwa pemerintah dan Presiden Moon Jae-in berniat untuk aktif menjalankan peran sebagai mediator antara Korea Selatan, Amerika Serikat dan Korea Utara.

BACA JUGA: Korea Selatan Sesalkan Pembatalan Pembicaraan Tingkat Tinggi oleh Korea Utara

Moon akan bertemu dengan Trump di Gedung Putih pada 22 Mei dan keduanya diyakini akan membahas mengenai pertemuan tingkat tinggi antara Amerika Serikat dengan Korea Utara yang akan datang.

Reuters, Kamis (17/5/2018) melaporkan bahwa Seoul berniat untuk "menyampaikan dengan baik (kepada Amerika Serikat) apa yang telah kita ketahui tentang posisi dan sikap Korea Utara ... dan menyampaikan posisi Amerika Serikat ke Korea Utara."

“Melihat pernyataan dan tanggapan yang diumumkan dari Korea Utara dan Amerika Serikat, kami melihat kedua pihak memiliki sikap yang tulus dan serius (untuk saling mengerti posisi satu sama lainnya),” kata seorang pejabat Gedung Biru.

Pembatalan pertemuan pertama antara pemimpin Amerika Serikat dan Korea Utara, akan membuat Trump kehilangan momen yang dapat menjadi pencapaian diplomatik terbesar pada masa pemerintahannya.

(dka)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini