nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

KPK Periksa Presdir PT Tower Terkait Temuan Rekening Koran

Arie Dwi Satrio, Jurnalis · Kamis 17 Mei 2018 19:26 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2018 05 17 337 1899581 kpk-periksa-presdir-pt-tower-terkait-temuan-rekening-koran-5fovLcmZVU.jpg Juru Bicara KPK Febri Diansyah (Foto: Okezone)

JAKARTA - ‎Tim penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) memeriksa Presiden Direktur (Presdir) PT Tower Bersama Infrastruktur Tbk, Herman Setya Budi, pada hari ini. Dia diperiksa dalam kapasitasnya sebagai saksi terkait kasus dugaan suap yang menyeret Bupati Mojokerto, Mustofa Kamal Pasa (MKP).

Juru Bicara KPK Febri Diansyah mengatakan, pemeriksaan terhadap PT Tower Bersama untuk menelisik sejumlah dokumen yang disita penyidik beberapa waktu lalu. Salah satu yang didalami penyidik ‎dari Herman Setya Budi yakni terkait rekening koran.

"(Terhadap saksi) penyidik mengonfirmasi sejumlah dokumen yang disita dalam kegiatan penggeledahan sebelumnya, di mana ditemukan rekening koran salah satu korporasi," kata Febri melalui pesan singkatnya, Kamis (17/5/2018).

Pemeriksaan terhadap Herman Budi dibarengi dengan saksi-saksi lainnya. Saksi lainnya, yakni Direktur PT Tower Bersama, Budianto Purwahjo; Division Head Finance and Treasury PT Tower Bersama, Alexandra Yota Dinarwanti; dan Operation Maintenance PT Protelindo, Handi Prabowo.

Bupati Mojokerto Mustafa Kamal Pasa

Sebelumnya, tim penyidik KPK sendiri telah ‎menggeledah PT Profesional Telekomunikasi Indonesia (Protelindo) dan PT Tower Bersama Infrastructure, Tbk (TBiG) yang berada di Jakarta. Dalam penggeledahan tersebut, tim menyita beberapa dokumen dan komunikasi melalui email antara beberapa pihak yang berkaitan dengan perkara‎ ini.

KPK sendiri telah menjerat Permit and Regulatory Division Head PT Tower Bersama Infrastructure (Tower Bersama Grup) Ockyanto; Direktur Operasi PT Profesional Telekomunikasi Indonesia (Protelindo) Onggo Wijaya dan Bupati Mojokerto, Mustofa Kamal Pasa sebagai tersangka.

Mustofa ditetapkan sebagai tersangka lantaran diduga menerima suap senilai Rp2,7 miliar dari Ockyanto dan Onggo. Suap tersebut berkaitan dengan pengurusan izin prinsip pemanfaatan ruang (IPPR) dan Izin mendirikan bangunan (IMB) atas pembangunan menara ‎telekomunikasi di Mojokerto.

KPK juga telah menyita sejumlah dokumen terkait dengan izin pembangunan menara telekomunikasi. Sejumlah menara itu tersebar di berbagai lokasi di Mojokerto.

Dokumen itu disita setelah penyidik menggeledah sejumlah tempat. Di antaranya, di Kantor Regional Office Tower Bersama Grup (TBG) di Surabaya, Kantor Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Kabupaten Mojokerto, dan Kantor Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Mojokerto.

Selain kasus suap, Mustafa juga dijerat dengan sangkaan lain. Yakni dugaan penerimaan gratifikasi atas proyek-proyek di lingkungan Pemkab Mojokerto senilai Rp3,7 miliar.‎ Dalam kasus gratifikasi, Mustofa bersama Zainal Abidin selaku Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Mojokerto periode 2010-2015.

KPK menduga gratifikasi itu ‎melibatkan keluarga Mustofa dengan menggunakan sarana perbankan.‎ ‎Dalam proses penyidikan kasus itu, KPK melakukan serangkaian penggeledahan di sejumlah lokasi. Dari penggeledahan itu, ‎tim penyidik KPK telah menyita uang senilai Rp4 miliar.

Dari uang Rp4 miliar yang disita, terdapat Rp3,7 miliar yang ditemukan tim penyidik di rumah orangtuanya Mustofa. Uang tersebut disimpan di lemari di sebuah kamar.

Selain uang, tim juga menyita 13 kendaraan yang terdiri dari enam unit mobil dengan rincian satu unit Toyota Innova, satu unit Toyota Innova Reborn, satu unit Range Rover Evoque, satu unit Subaru, satu unit Daihatsu Pikap den satu unit Honda CRV. Kemudian, lima unit Jetski, dan dua unit sepeda motor.

1 / 2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini