nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Pengesahan RUU Antiterorisme Dinilai Penting dan Mendesak

Fahreza Rizky, Jurnalis · Kamis 17 Mei 2018 22:23 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2018 05 17 337 1899648 pengesahan-ruu-antiterorisme-dinilai-penting-dan-mendesak-rJoTJCABId.jpg DPR (Foto: Ist)

JAKARTA - Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya, Abdul A’la, berharap agar pembahasan RUU Antiterorisme sebagai revisi atas Undang-Undang (UU) Nomor 15 Tahun 2013 tidak berlarut-larut dan segera disahkan.

UU itu, kata A’la, saat ini menjadi kebutuhan nasional sebagai payung hukum bagi aparat untuk mencegah maraknya aksi teror yang terus memakan korban. “Saya dukung usulan Kapolri agar RUU Antiterorisme segera disahkan. Ini penting dan sangat mendesak,” katanya kepada pers, Kamis (17/5/2018).

Pengasuh Pondok Pesantren Annuqayah, Sumenep Madura ini menilai, UU lama sudah tak lagi memadai dalam mencegah pergerakan dan aksi terorisme. Sebab, lanjut A‘la, kewenangan aparat sangat terbatas, yaitu sekadar mengawasi dan tak dapat menindak terduga teroris sebelum adanya perbuatan.

 Densus 88

Adapun dalam UU yang baru, kewenangan diperluas di mana aparat dapat langsung melakukan pencegahan sebelum teroris beraksi.

Namun begitu, ia juga menggarisbawahi bahwa meskipun pengesahan RUU dirasa sangat dibutuhkan, tetapi produk itu tetap harus melalui proses yang wajar sebagaimana proses kelahiran undang-undang pada umumnya.

“Yaitu wajib memenuhi asas manfaat, keadilan dan kepastian hukum,” tandasnya.

Ia berharap, dengan UU yang baru aparat keamanan dapat lebih progresif dan komprehensif dalam mencegah dan menanggulangi terorisme. Karena menurutnya, sejauh ini polisi bukan tak mendeteksi sel-sel jaringan teroris berikut afiliasi ideologisnya. Hanya saja, polisi kurang berdaya karena payung hukum yang ada tidak cukup mengakomudir kewenangan yang dibutuhkan.

A'la tak meragukan Densus 88 memberangus teroris hingga ke akarnya. Apalagi tongkat komando penanganan ini langsung di tangan Kapolri. "Kami yakin dan percaya Pak Tito bisa ungkap ke akar-akarnya teroris ini," pungkas A'la.

Seperti diketahui, bergulirnya desakan agar RUU Antiterorisme segera disahkan bermula atas usulan Kapolri Jenderal Tito Karnavian menyusul rangkaian peristiwa bom bunuh di tiga gereja di Surabaya, Minggu 13 Mei. Padahal, RUU yang diajukan pemerintah kepada DPR itu sesungguhnya sudah diajukan pada Februari 2016 lalu tapi tak kunjung rampung.

 

(Ari)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini