Kisah Perempuan Hampir Jadi Teroris, 'Dicuci Otak' agar Bergabung ke Kelompok Radikal

Agregasi BBC Indonesia, · Minggu 20 Mei 2018 23:07 WIB
https: img.okezone.com content 2018 05 20 18 1900568 kisah-perempuan-hampir-jadi-teroris-dicuci-otak-agar-bergabung-ke-kelompok-radikal-SSXRImERSY.jpg Yunita Dwi Fitri. (Foto: BBC Indonesia)

"Nah, saya yang kaget itu kamarnya sama-sekali tidak ada barang. Jadi cuma ada lemari sedang dan tikar," ungkap Yunita. Dia kemudian duduk di ruangan itu, dan sambungnya, pintu serta jendelanya ditutup rapat oleh salah-seorang perempuan itu. "Gordinnya (tirai) juga ditutup."

Dalam momen inilah, Yunita mengaku mulai takut ("saya takutnya diculik," akunya, mengenang). "Tapi karena masih penasaran, saya coba ikuti."

Menggambar 'mobil masuk jurang' dan 'apel busuk'

Di ruangan berukuran tiga kali tiga meter itulah, perempuan berjilbab itu kemudian mengeluarkan papan tulis dan semula disimpan di balik lemari. "Tidak ada Alquran di ruangan itu," ungkap Yunita.

Kemudian perempuan itu menggambar mobil, dengan sejumlah penumpang di dalamnya, yang kemudian jatuh ke jurang. "Dia sistematis sekali menjelaskannya."

"Kalau pengemudinya salah mengendarai mobilnya dan masuk ke jurang, maka semua penumpangnya ikut mati jatuh ke dalam jurang."

Yunita melanjutkan: "Dia menggambarkan sebuah negara kalau pemimpinnya salah, pemimpinnya enggak sesuai dengan (tafsirnya atas) apa yang ada di Alquran itu, yang kemarin dia bicarakan itu, kita akan salah jalan juga."

Di hadapan Yunita, perempuan itu juga menggambar buah apel dalam kulkas. Dia menggambar satu buah apel busuk dan beberapa buah apel yang segar. "Apel-apel lain yang bersih, ikutan busuk juga karena ada satu apel busuk. Intinya, apel busuk harus disingkirkan."

Dalam laman Facebooknya, Yunita menjelaskan bahwa simbol apel busuk itu berarti "itulah jika masih berteman dengan orang kafir dan tidak sepaham dengan kita", seperti diutarakan sang perempuan tersebut di hadapannya.

Ada beberapa materi lainnya yang disampaikan, tetapi Yunita mengaku lupa.

Dimintai sumbangan Rp400 ribu

Lebih lanjut Yunita mengungkapkan bahwa sang perempuan itu kemudian menjelaskan bahwa untuk misi mendirikan "negara baru untuk Allah" diperlukan dana. "Intinya sodaqoh (sumbangan), dan sodaqoh awalnya sebesar Rp400 ribu," kata Yunita menirukan ucapan perempuan tersebut. Uang itu diminta diserahkan esok harinya.

Yunita mengaku saat hendak menanyakan kenapa sumbangannya sebesar Rp400 ribu, perempuan itu berkata: "Karena dengan pengorbananmu, maka Allah akan tahu sampai mana pengorbananmu untuk-Nya."

Belum sempat bertanya, perempuan itu membombadirnya dengan kalimat: "Saya tahu kamu masih mahasiswa, jadi belum tahu cari uang sebesar itu." Perempuan itu kemudian menceritakan pengalamannya: "Saya di awal pun menjual telefon genggam saya untuk sodaqoh Rp400 ribu."

Dalam Facebook-nya, Yunita menulis bahwa dirinya dibolehkan berbohong kepada orang tuanya. "Bahkan ketika kamu berbohong meminta uang ke orang tua atau menjual telefon genggammu adalah sebuah pengorbanan untuk Allah..."

Merasa dicuci otak

Mendengarkan apa yang diutarakan perempuan itu, Yunita mulai melihat ada keanehan. "Masak saya diminta berbohong. Bukankah berbohong itu berdosa?" Tapi Yunita mengaku tidak ingin terlihat seperti menolak ajakan itu. Di akhir pertemuan, Yunita diminta tidak menceritakan hasil pertemuan itu kepada siapapun.

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini