UI Lakukan Kajian soal Keamanan Data Personal

Dani Jumadil Akhir, Jurnalis · Kamis 24 Mei 2018 17:12 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2018 05 24 65 1902283 ui-lakukan-kajian-soal-keamanan-data-personal-Qau02qMEnW.jpg Ilustrasi: Foto Shutterstock

JAKARTA - Universitas Indonesia (UI) mengadakan kajian mengenai keamanan data personal pada tanggal 12 Mei 2018 di Balai Kartini, Jakarta. Acara ini bersamaan dengan kegiatan International Workshop in Big Data and Information Security (IWBIS 2018).

Kegiatan ini bertujuan untuk melakukan kajian mengenai pentingnya perlindungan data personal, tinjauan mengenai hukum perlindungan data personal di Indonesia, studi hukum perlindungan data personal di beberapa negara maju, dan kerangka regulasi perlindungan data personal yang sesuai untuk Indonesia.

Kajian ini mengundang tiga pembicara yaitu Wakil Direktur IMERI-FKUI Budi Wiweko, CEO Data Driven Asia Muhammad Imran dan Dosen dan Praktisi Hukum Telematika FHUI Edmon Makarim. Budi memaparkan mengenai pentingnya perlindungan data medis dan data genome pasien di Indonesia.

“Indonesia belum meiliki regulasi yang jelas mengenai penggunaan data medis dan genome ini,” kata Budi dalam keterangan tertulisnya, Kamis (24/5/2018).

 

Selain itu, pasien sendiri masih belum punya kesadaran untuk melindungi data personalnya. Muhammad Imran menyoroti mengenai potensi dari algoritma artificial intelligence untuk mempelajari dan memetakan perilaku manusia. Dari pola yang ada, dapat digunakan untuk menebak perilaku dan kecenderungan perilaku orang.

Menurutnya, bila tidak diatur dengan baik, hal ini bisa dimanfaatkan untuk hal-hal yang membahayakan. Di negara peserta Uni Eropa, GDPR (General Data Protection Regulation) akan diberlakukan pada Mei tahun ini.

"Indonesia harus segera memulai untuk merumuskan regulasi yang paling sesuai untuk masayarakat Indonesia," sambungnya.

Edmon memaparkan tinjauan dari segi hukum. Indonesia sudah memiliki hukum perlindungan data personal, namun tercantum pada beberapa undang-undang secara terpisah. Indonesia belum memiliki secara spesifik mengatur mengenai data personal.

 

Setiap orang juga perlu memberikan persetujuan bila memberikan data mengenai dirinya. Ini dapat mengurangi adanya masalah hukum di kemudian hari.

Acara ini juga dihadiri oleh beberapa akademisi dari Singapura dan Inggris. Dari Singapura, Stephen Bressan (National University of Singapore) juga memberikan pandangannya terkait implementasi regulasi perlindungan data personal di Eropa dan di Asia.

Juliana Sutanto (Lancaster University) dari Inggris juga memberikan wawasan mengenai kasus-kasus yang muncul di Eropa dan dapat menjadi pembelajaran yang berharga bagi Indonesia. Kegiatan ini diharapkan dapat menjadi titik awal rumusan perlindungan data personal serta dapat menghasilkan rekomendasi kepada pembuat kebijakan dan/atau stakeholder terkait.

 

(rhs)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini