nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Disebut Jadi Penggerak Aksi Teror, Aman Abdurahman: Penjeratan Gaya Baru

Puteranegara Batubara, Jurnalis · Jum'at 25 Mei 2018 16:20 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2018 05 25 338 1902742 disebut-jadi-penggerak-aksi-teror-aman-abdurahman-penjeratan-gaya-baru-gQHdqYPvpe.jpg Terdakwa Teror Bom Thamrin, Aman Abdurrahman (foto: Antara)

JAKARTA - Terdakwa kasus bom Thamrin Oman Rochman alias Abu Sulaiman bin Ade Sudarma alias Aman Abdurahman menyebut bahwa dikaitkannya dirinya dalam beberapa teror di Indonesia merupakan gaya baru aparat penegak hukum untuk menjerat dirinya.

Jaksa Penuntut Umum (JPU) dalam tuntutannya menyebut Aman menjadi penggerak atau dalang di balik terjadinya aksi teror bom di Thamrin dan Kampung Melayu Jakarta serta Oikumene Samarinda.

(Baca Juga: Aman Abdurrahman Angkat Bicara Terkait Rentetan Teror Bom di Surabaya)

"Sistem penjeratan kepada saya pada kasus-kasus ini adalah gaya baru yang pertama kali," kata Aman saat membacakan Pleidoi di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Jumat (25/5/2018).

Sidang Pledoi, Aman Abdurrahman Tunjuk Jari ke Atas

Pentolan kelompok Jamaah Ansharud Daulah (JAD) itu mengklaim, tidak mengetahui sama sekali adanya peristiwa ledakan bom di Thamrin, Kampung Melayu dan Gereja Oikumene Samarinda. Bahkan, dia mengaku bisa ketahui rangkaian bom itu ketika dia menjalani proses persidangan.

"Semuanya saya tahu beritanya saat sidang ini," ujar Aman.

Menurut Aman, semua aksi terorisme itu terjadi pada kurun waktu November 2016 sampai September 2017. Di sisi lain, dirinya sedang diisolasi di Lapas Pasir Putih Nusakambangan sejak Februari 2016 silam.

Selama diisolasi, petinggi ISIS di Asia Tenggara itu menyebut tidak bisa melakukan komunikasi sedikitpun dengan siapapun pihak luar, kecuali sipir. Sampai akhirnya, dia kembali ditangkap oleh Densus 88 pada 12 Agustus 2017.

"Hanya satu kasus saja yang saya baca dari kasus Thamrin dan saksi kunci Abugar sudah menjelaskan bahwa saya tidak ketahui perihal penyerangan itu," tutur dia.

(Baca Juga: Aman Abdurahman: Saya Tak Takut dengan Hukuman Zalim Kalian)

Oleh karenanya, menurut Aman, konstruksi dilibatkannya dia dalam kasus teror itu menjadi gaya penjeratan baru aparat penegak hukum. Padahal, kata dia tidak semua orang yang bertemu atau membaca tulisannya adalah kerabatnya.

"Diajukan yaitu penjeratan karena si pelaku, karena guru si pelaku karena teman, pernah sekali bertemu atau pernah sekali mendengar kajian saya, atau pernah sekali baca tulisan saya sekali padahal buku-buku dan kajian saya baru bahas tauhid saya belum bahas Jihad," tutup dia.

(fid)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini