Tim Ekspedisi Pelayaran Maritim Jalani Ramadan di Tengah Laut

Yohana Artha Uly, Jurnalis · Minggu 27 Mei 2018 12:29 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2018 05 27 65 1903338 tim-ekspedisi-pelayaran-maritim-jalani-ramadan-di-tengah-laut-15aSvOhwIy.jpg Ilustrasi: (Foto: Okezone)

JAKARTA - Di saat sebagian besar umat Muslim sedang menjalankan Ibadah Puasa Ramadan 1439 H di tengah-tengah keberadaan keluarga dan kerabat mereka, tetapi kondisi ini berbeda dengan para tim ekspedisi pelayaran maritim. Di mana harus menghabiskan masa puasanya dengan penelitian di laut lepas.

Tim ekspedisi ini tergabung dalam Indonesia Program Initiative on Maritime observation and Analysis (Indonesia PRIMA) 2018. Program ini merupakan kerjasama antara Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Taruna dan Dosen Sekolah Tinggi Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (STMKG), Universitas Sriwijaya, dan dari peneliti National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA).

Tahun ini menjadi yang ke-4 dengan menggandeng Puslitbang Geologi Kelautan, Balitbang Kementerian ESDM untuk mengarungi lautan lepas selama 3 minggu, yakni hingga pertengahan Juni 2018 atau menjelang hari Lebaran 1439 H di 5 titik di Samudera Hindia dan Perairan Barat Sumatera. Mereka mulai berlayar dari Pelabuhan Cirebon, Jawa Barat hingga 15 derajat lintang utara atau tepatnya di Teluk Benggala dan mengakhiri di Pelabuhan Sibolga.

Sebagai langkah mendukung Indonesia menjadi poros maritim dunia, maka dilakukan kerjasama dengan Amerika Serikat (AS) dalam program Indonesia Prima. Salah satu dari 3 program utama yang menjadi prioritas agenda pembangunan kemaritiman, yakni observasi laut. Samudera Hindia sendiri memiliki peran penting dalam mempengaruhi pola cuaca dan iklim skala regional maupun global, sehingga ketersediaan data di samudera ini sangat penting untuk prediksi iklim secara global.

Asisten Dosen Universitas Sriwijjaya Palembang Muhammad Nur mengungkapkan, dengan melakukan ekspedisi ini semata-mata untuk mendapatkan pengalaman dan ilmu baru dalam pengamatan data-data meteorologi maritim, atmosfer, oceanografi, dan pengamatan marine-geofisika. Salah satunya pengamatan cuaca setiap jam selama rute pelayaran.

“Ini merupakan tindakan konkrit dari Negara Indonesia untuk mendukung pembangunan kemaritiman dan menegaskan jati diri bangsa Indonesia sebagai bangsa maritim,” ujar Muhammad Nur dalam keterangan tertulisnya, Minggu (27/5/2018).

Menurutnya, tak masalah melakukan kegiatan ini meski harus merasakan bulan puasa di laut lepas. Pasalnya, hal ini mendorong dirinya mencari ilmu baru, data-data cuaca yang didapatkan dari pengamatan lapangan, sebab data dari satelit terkadang terdapat gangguan terttup oleh awan.

“Kalau pada kegiatan ini, kita bisa langsung mengamati kondisi real sehingga nantinya bisa dibandingkan dengan dengan data-data satelit yang nantinya dapat untuk meningkatkan tingkat akurasi cuaca," tambahnya.

Baca Juga: Tim Smart Car MCS UGM Siap Tanding di London

Hal senada juga diungkapkan oleh Dosen STMKG Hasti Amrih Rejeki bahwa dengan adanya penelitian tersebut para peneliti dapat membandingkan seberapa representative data-data satelit dengan data-data yang diperoleh dari observasi secara langsung.

"Tentunya, ada harapan besar dari kegiatan ini yang dapat membawa manfaat bagi pemahaman kita terhadap cuaca dan iklim. Sehingga kedepannya dapat menyediakan informasi cuaca, iklim, dan marine-geofisika secara cepat dan akurat untuk mendukung kegiatan di berbagai sektor, seperti sektor Kelautan dan Perikanan, sektor pariwisata, dan pertanian serta pemahaman kita terhadap sektor kemaritiman negara Indonesia di massa depan," papar Hasti. (yau)

(rhs)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini