Menengok Yayasan Tunanetra di Tangsel, Pencetak Pertama Alquran Braille Sistem Komputerisasi

Hambali, Jurnalis · Rabu 30 Mei 2018 10:27 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2018 05 30 338 1904353 menengok-yayasan-tunanetra-di-tangsel-pencetak-pertama-alquran-braille-sistem-komputerisasi-OhvW0X4sEv.jpg Santri tunanetra tadarus Alquran braille bersistem komputerisasi. (Foto: Hambali/Okezone)

TANGERANG SELATAN – Alquran adalah kitab suci terakhir yang diturunkan kepada Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai nabi penutup akhir zaman. Selaku pemeluk agama Islam, tentunya sudah menjadi kewajiban bagi umat Nabi Muhammad mempelajari dan memahami kitab suci yang dibawanya.

Bagi seseorang yang memiliki fisik sempurna, tentu sangat sederhana dalam memperlajarinya. Namun berbeda bagi mereka yang memiliki keterbatasan fisik, seperti dialami kalangan tunanetra. Butuh media khusus yang memudahkannya membaca tulisan di dalam kitab suci Alquran.

Sesuatu yang luar biasa ditunjukkan sebuah yayasan tunanetra Raudlatul Makfufin di Jalan Haji Jamat, Gang Masjid, Nomor 10A, RT 02 RW 05, Buaran, Serpong, Tangerang Selatan (Tangsel). Di sana para santri dan pengurus asrama mampu memelopori pembuatan Alquran braille dengan sistem komputerisasi pertama bagi kalangan tunanetra.

(Baca: Gunakan Alquran Braille, Begini Tradisi Tadarus Warga Tunanetra di Medan)

Yayasan Raudlatul Makfufin yang pertama mencetak Alquran braille sistem komputerisasi. (Foto: Hambali/Okezone)

Sekretaris Yayasan Raudlatul Makfufin Rafik Akbar (28) menceritakan sejarah singkat pendirian tempatnya kini mengabdi hingga melahirkan karya berupa Alquran braille yang menggunakan sistem komputerisasi pertama di Indonesia.

"Raudlatul Makfufin itu artinya 'taman tunanetra'. Berdirinya pada 26 November 1983 di daerah Pulo Gadung, Jakarta Timur. Salah satu pendirinya adalah almarhum Ustadz Sholeh," tuturnya kepada Okezone, Rabu (30/5/2018).

"Jadi terbentuknya yayasan ini sebetulnya berangkat dari keprihatinan almarhum (Ustadz Sholeh) dari kondisi teman-teman tunanetra Muslim yang belum bisa membaca Alquran dan belum memiliki Alquran braille. Lalu Beliau membentuk majelis taklim tunanetra dari rumah ke rumah, hingga terbentuklah yayasan ini pada tahun itu," tambah alumnus Fakultas Tarbiyah Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta tersebut.

(Baca: Seniman Afghanistan Buat Alquran Seharga Rp2,8 Miliar Berbahan Kain Sutra)

Di tengah perkembangannya, sambung Rafik, almarhum Ustadz Sholeh berupaya agar yayasan yang berisi santri-santri tunanetra itu mampu menciptakan sendiri Alquran braille. Rencana tersebut berlanjut sampai melahirkan pembentukan satu tim entry data yang bertugas membuat file master Alquran braille pada 1994.

"Jadi 1994 ada satu tim yang membuat file master Alquran braille, dan selesai 1999. Kemudian di 2000, bisa kita launching pertama kali Alquran braille cetakan sendiri dengan sistem komputerisasi. Di zaman itu, kitalah yang pertama kali di Indonesia mencetak Alquran braille dengan komputerisasi, di-launching di Ponpes Assyafiiyah, bekerja sama dengan almarhumah Ustadzah Tuty Alawiyah," jelas Rafik.

Yaya

Hingga kini, jelas dia, Yayasan Raudlatul Makfufin mampu memproduksi Alquran braille lima set setiap harinya. Satu setnya berjumlah 30 juz Alquran. Semua Alquran itu nantinya dikirim ke pemesan di seluruh wilayah Indonesia, bahkan mencapai luar negeri.

"Semuanya dikerjakan di yayasan ini, jadi percetakannya ada di ruang belakang, ada timnya sendiri. Kita ada empat mesin, satu unit hibah dari Departemen Agama, satu unit lainnya kita pinjam dari lembaga lain," terangnya.

(Baca: 5 Tradisi yang Hanya Bisa Dinikmati saat Bulan Ramadan)

Yayasan Raudlatul Makfufin yang pertama mencetak Alquran braille sistem komputerisasi. (Foto: Hambali/Okezone)

Yayasan Raudlatul Makfufin sempat berpindah-pindah tempat. Terakhir, mereka mendiami suatu bangunan di wilayah Ciputat, sampai akhirnya kembali pindah ke lokasi terakhir di Jalan H Jamat, Serpong. Di sini, Yayasan Raudlatul Makfufin berdiri di atas lahan wakaf seluas 1.000 meter persegi dengan luas bangunan sekira 600 meter persegi.

Kini ada 15 santri dengan 5 pengurus dan karyawan yang tinggal di asrama. Semuanya dengan kondisi keterbatasan fisik sama (tunanetra). Ada banyak kegiatan rutin yang dilakukan oleh santri ataupun pengurus yayasan, di antaranya pendidikan materi layaknya sekolah umum, hafalan Alquran, majelis taklim, serta memproduksi Alquran braille.

"Gurunya ada kurang lebih 22 orang, semua berasal dari ponpes di sekitar Tangsel. Jadi, mereka mau bantu untuk mengajar santri di sini," ucapnya.

Sayangnya, semangat luar biasa para santri dan pengurus Yayasan Raudlatul Makfufin tidak ditopang pula oleh perhatian dari pemerintah daerah. Terkait biaya operasional belajar-mengajar santri, konsumsi, hingga kebutuhan lainnya harus dipikul sendiri oleh yayasan tunanetra ini. Padahal, mereka sepenuhnya hanya mengandalkan penjualan Alquran braille untuk bisa menutupi semua kebutuhan pokok tersebut.

"Dalam sebulan, kita sedikitnya menghabiskan dana sekira Rp50 juta, itu untuk operasional dan yang lain-lain. Sementara kita hanya mengandalkan jualan Alquran braille untuk membiayai itu semua. Harapan kita, ada perhatian juga dari pemerintah setempat, sehingga kita juga bisa fokus mendidik santri di sini," ungkapnya.

(Baca: Matahari Melintas di Atas Kakbah pada Tanggal Berikut, Saatnya Cek Arah Kiblat!)

Meski sistem pesantren formal baru diterapkan sekira tiga tahun belakangan, tidak sedikit prestasi yang ditorehkan santri-santri tunanetra Raudlatul Makfufin, salah satunya meraih juara 1 lomba tahfiz Alquran di Bekasi pada 2016.

Bahkan pada 2012–2013, santri-santri Raudatul Makfufin juga dipercaya mewakili delegasi Indonesia yang dikirim ke Turki. Di sana, mereka mengikuti konferensi lembaga pencetak Alquran braille tingkat internasional.

1 / 2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini