Polisikan Pembuka Pintu Darurat Dinilai Jadi Preseden Buruk bagi Lion Air

Ade Putra, Jurnalis · Rabu 30 Mei 2018 11:36 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2018 05 30 340 1904384 polisikan-pembuka-pintu-darurat-dinilai-jadi-preseden-buruk-bagi-lion-air-DutQdLp4eq.jpg Penumpang pesawat Lion Air berhamburan karena ada penumpang yang mengaku bawa bom. (Foto: Ist)

PONTIANAK – Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Kalimantan Barat, Andreas Acui Simanjaya, tidak sependapat bahwa penumpang membuka pintu darurat dapat dipolisikan. Itu karena menurutnya, ketika penumpang merasa terancam dengan situasi di pesawat, tidaklah salah membuka pintu darurat demi menyelamatkan diri.

“Sebab untuk menyelamatkan diri dari suatu ancaman tidak harus ada instruksi dari awal pesawat,” ujarnya kepada sejumlah wartawan, Rabu (30/5/2018).

Pernyataan ini menanggapi langkah Lion Air karena telah melaporkan penumpang pesawat Lion Air JT 687 yang membuka paksa pintu darurat tanpa instruksi pasca pengumuman ada penumpang lain yang membawa bom, pada Senin, 28 Mei 2018. Kegaduhan akibat candaan bom itu terjadi di Bandara Internasional Supadio Kubu Raya.

Acui, sapaan akrabnya, menambahkan, selama ini juga diajarkan apabila dalam kondisi atau keadaan darurat penumpang terdekat pintu darurat bisa membuka pintu tersebut dan membantu evakuasi penumpang.

“Jadi yang harus dipolisi kan itu yang menyebutkan adanya bom, bukan penumpang yang membuka pintu,” ujarnya.

Acui menilai, tindakan memolisikan penumpang yang berinisiatif membuka pintu darurat bisa jadi preseden buruk. Sebab apabila suatu waktu berada dalam kondisi darurat, penumpang jadi tidak berani bertindak.

“Tentu ini juga berdampak buruk, andai saja kejadian isu bom ini terjadi sungguh-sungguh dan benar ada bom apakah yang buka pintu darurat dapat penghargaan dari maskapai?” tanya Acui.

Namun demikian, kejadian seperti ini tentu akan merugikan banyak pihak. Seperti dari pihak maskapai maupun penumpang yang telah berada di pesawat saat itu.

“Para penumpang pasti ada yang kehilangan momentum penting dalam jadwal kegiatannya. Selain itu, ada yang mungkin saja tertinggal dalam penerbangan lanjutan ke tempat lain dari transit ke Jakarta,” ujarnya.

Frantinus Nirigi, penumpang Lion Air yang mengaku membawa bom (Foto: Ist)

Akan tetapi, menurut Acui, apabila dari sisi pihak maskapai sendiri, kejadian ini tidak bisa hitung ini sebagai kerugian. Sebab, ia menilai, itu sudah menjadi bagian dari risiko berusaha dan juga merupakan tanggung jawab untuk keselamatan penumpang.

“Malah saya melihat bahwa awak kapal kurang sigap mengatasi kepanikan penumpang, sampai ada yang terjun dari sayap pesawat dalam keadaan mesin pesawat hidup," jelasnya.

(Baca Juga : Alasan Polisi Tetapkan Nirigi Penumpang Lion Air Bercanda Bawa Bom sebagai Tersangka)

Hal ini, kata dia, pasti berbahaya dengan melompat dari ketinggian tersebut, apalagi untuk wanita dan lanjut usia. "Selain itu ada risiko tersedot masuk ke dalam mesin jet yang masih hidup itu,” tuturnya.

Acui mengimbau, untuk kejadian serupa hendaknya tidak terulang kembali. Khususnya penumpang, agar tidak melakukan candaan yang berdampak buruk.

(Baca Juga : Nirigi si Pelaku Candaan Bawa Bom Dapat Pendampingan Hukum dari Alumni Kampusnya)

“Hentikan gurauan seperti itu, terlebih mengatakan ada bom dan sejenisnya di keramaian khususnya di bandara, sebab ini konsekuansinya juga tidak main-main tentu berhadapan dengan hukum,” pungkas Acui.

(erh)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini