Oknum Anggota DPRD Malaka Ancam 'Bunuh' Wartawan

Adi Rianghepat, Okezone · Rabu 30 Mei 2018 14:38 WIB
https: img.okezone.com content 2018 05 30 340 1904484 oknum-anggota-dprd-malaka-ancam-bunuh-wartawan-uITHbOhF83.jpg Ilustrasi foto/Okezone

KUPANG – Seorang anggota DPRD Kabupaten Malaka, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Egidio Amaral Manek mengancam akan membunuh seorang jurnalis sergap.id, Seldi Berek karena memotret aktivitas judi sabung ayam yang diduga kuat disponsori oleh wakil rakyat asal Partai Gerindra itu.

Seldi yang saban harinya bertugas di perbatasan RI-Timor Leste itu, mendapat ancaman melalui telepon Egidio dan dari anggota persekutuan pencak silat Kera Sakti. Anggota silat tersebut merupakan anak buah Egidio.

"Bahkan orangtua saya diintimidasi, dan dipaksa menyampaikan ancaman pembunuhan itu ke saya. Beruntung saya sempat diamankan oleh manajemen kantor saya dan dievakuasi ke redaksi di Kota Kupang," kata Seldi kepada Okezone di Kupang, Rabu (30/5/2018).

Seldi menuturkan, kejadian pengancaman itu terjadi akibat upaya pihak lain yang memanfaatkan hasil liputannya untuk memeras anggota dewan itu. Padahal, hasil liputan terkait judi sabung tersebut belum ditayang di media sergap.id

"Hasil liputan itu belum ditayang di online sergap.id, karena masih harus melengkapi konfirnasi dari narasumber lain. Namun hasil liputan sementara itu malah dipakai oknum teman (jurnalis) lain untuk upaya peras anggota dewan itu.”

“Karena merasa terganggu, dan si wakil rakyat itu tahu bahwa sumber informasi itu dari saya, makanya dia telepon dan langsung ancam bunuh saya," kata Seldi.

Foto: Okezone 

Selain akan membunuh, lanjut Seldi, oknum anggota dewan itu juga memaki saya dan bahkan melecehkan profesi saya sebagai jurnalis. "Semua ancaman yang disampaikan melalui telepon, saya rekam dan sudah saya jadikan sebagai barang bukti di laporan polisi saya," kata Seldi.

Dia mengaku sudah melapor ancaman yang dialaminya ke Polda NTT pada Selasa 29 Mei 2018, kemarin dengan didampingi pemimpin redaksi serga.id, Chris Parera.

Laporan Seldi diterima Kepala Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (KSPKT) Polda NTT, Kompol M. Boymau dan Bamin I SPKT Polda NTT, Brigpol Joao Vrengqi Talan.

"Pengaduan Seldi tercatat dengan nomor Laporan Polisi (LP): STTL / B / 232 / V / 2018 / SPKT tanggal 29 Mei 2018," kata Pemimpin Redaksi dan Penanggung Jawab sergap.id Chris Parera.

Foto/Okezone 

Dikatakannya, setelah membuat LP, Seldi langsung diarahkan oleh Brigpol Joao ke Subdit III Ditreskrimum Polda NTT untuk pembuatan Berita Acara Pemeriksaannya. "Di sini Seldi diperiksa oleh Brigpol Erwin Ratukore sejak pukul 16.00 WITA hingga 20.00 WITA dan dia diajukan 19 pertanyaan," ungkap Chris.

Dia mengaku mengambil langkah melaporkan kejadian ini demi pengamanan anak buahnya sekaligus sebagai langkah pemberantasan kesewenangan para penguasa terhadap kerja-kerja jurnalistik.

Chris berharap jajaran penyidik bisa serius menangani kasus ini demi penegakan hukum yang berkeadilan.

"Tentu semua jurnalis berharap dengan penegakan hukum akan tercipta efek jera agar profesi jurnalis tak seenaknya dipandang dan mendapat tempat sama. Kami miliki tugas sama dengan lembaga lainnya, dan kami butuh perlindungan hukum yang berkeadilan," katanya.

Anggota DPRD Malaka Egidio Amaral Manek, saat dihubungi terpisah mengaku mengeluarkan kata-kata ancaman.

"Saya tidak ancam langsung dengan membawa parang atau apa berhadapan muka dengan muka. Saya hanya melalui 'Hp'," katanya.

Egidio mengaku tidak mengenal terhadap orang yang sedang diteleponnya ketika itu. "Saya juga tak kenal dia kok. Saya ancam begitu karena tak kenal dia, dan saya mengira ada yang hanya mau bercanda dengan saya," katanya.

Terhadap informasi pengerahan anak buahnya kelompok silat 'Kera Sakti', Egidio menampiknya. "Siapa yang bilang saya kerahkan anak buah saya. Kalau dia yang bilang silahkan tanya ke dia," tandasnya.

Egidio mengatakan siap diperiksa jika dipanggil pihak penyidik yang menangani kasus ini. "Kalau saya dipanggil saya siap datang klarifikasi," katanya.

Ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kupang, Alex Dimoe secara terpisah mendesak penyidik untuk serius memeriksa kasus ini demi penegakan hukum bagi pekerja jurnalistik di NTT.

Menurut dia, sebagai jurnalis profesional, setiap jurnalis memiliki hak sama untuk dilindungi dalam setiap aktivitasnya. Dengan pembiaran penegakan hukum, lanjut Alex, akan memberi preseden buruk bagi profesi ini.

"Kami mendedak Kapolda NTT dan jajarannya, terutama para penyidik yang menangani kasus ini agar serius menanganinya. Agar ada efek jera," katanya.

Alex menekankan bahwa dirinya juga akan mengawal proses penyidikan kasus ini. "Kami tak main-main jika ada oknum penguasa yang seenaknya menghalang-halangi tugas jurnalistik dengan ancaman-ancaman.”

“Kami tak takut ancaman sejauh kami berada di atas regulasi dan profesional menjalan tugas dengan taat kepada kode etik dan kode perilaku kami. Kami akan lawan," katanya tegas.

Jurnalis, kata Alex, sebagai profesi yang harus dihargai dalam konteks pelaksanaan tugas dan fungsinya melakukan pengawasan terhadap kinerja para penguasa termasuk wakil rakyat.

"Kami bagian dari salah satu pilar demokrasi Indonesia jadi kami berharap tak ada lagi perilaku oknum penguasa atau pejabat yang selalu menabrak aturan main yang sudah ada," kata Alex.

Dia mengatakan, catatan AJI Kupang pada 2018, setidaknya sudah terjadi dua kasus ancaman yang menimpa jurnalis di NTT.

"Yang sebelumnya dilakukan oleh oknum kepala daerah dan juga dilaporkan ke.Polda NTT dan kasus ini yang kedua. Kami berharap tak akan lagi terjadi," katanya berharap.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini