nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Versi Keluarga Frantinus Nirigi, Candaan Bom Dibuat oleh Penumpang Lain

Chanry Andrew S, Jurnalis · Kamis 31 Mei 2018 19:08 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2018 05 31 340 1905120 versi-keluarga-frantinus-nirigi-candaan-bom-dibuat-oleh-penumpang-lain-17kV6JAapZ.jpg Frantinus Nirigi diperiksa usai candaan bawa bom di pesawat. (Foto: Ade Putra/Okezone)

JAYAPURA - Keluarga besar Frantinus Nirigi prihatin dengan nasib kerabatnya yang tersandung kasus candaan bom atau 'joke bomb' di dalam pesawat Lion Air JT69 di Bandara Supadio Pontianak, Kalimantan Barat. Apalagi, kasus yang jadi berita nasional hingga internasional itu membuat Frantinus ditetapkan sebagai tersangka.

Keluarga juga merasa prihatin karena Frantinus jadi bulan-bulanan akibat di-bully oleh masyarakat tanpa ada yang membela.

Salah seorang kerabat Frantinus, Diaz Gwijangge, mantan anggota DPR RI dari Partai Demokrat yang juga merupakan kakak ipar tersangka angkat bicara. Pihaknya mengimbau agar polisi, petugas bandara, KP3 Bandara, serta seluruh media cetak dan elektronik yang telah memblow-up kejadian itu untuk dapat bertindak adil.

Frantinus Nirigi. Foto: Ist

Menurut versinya, saat itu Frantinus pulang dari wisuda ke Papua naik Lion Air. "Tapi di dalam pesawat terjadi kasus kemarin. Informasi yang kami terima, semua barang sudah melalui X-Ray. Adik saya ini membawa satu tas ditaruh di kabin, lalu kemudian pramugari tanya ulang isi tas itu, kemudian dijawab isinya laptop, tapi ada penumpang yang menanggapi lain jika itu bom, akhirnya membuat para penumpang lainnya yang ada dalam pesawat jadi panik, “ jelas Diaz Gwijangge yang dikonfirmasi Okezone, Kamis (31/5/2018).

(Baca juga: Canda Bawa Bom, Frantinus Nirigi Minta Maaf kepada Masyarakat Indonesia)

Diaz mengatakan, di dalam sejarah, orang Papua tidak pernah bisa merakit bom dan tidak punya niat jahat untuk menghancurkan kepentingan pubilik, entah disengaja atau tidak disengaja. Untuk itu dia meminta agar adiknya tidak dikaitkan dengan kasus terorisme di Indonesia yang beberapa pekan lalu sempat marak terjadi.

"Kami tidak ingin kasus ini digeneralisir dalam kasus terorisme di Indonesia. Ini kami anggap sebuah musibah. Kami keluarga di Jayapura, Wamena, Nduga merasa terpukul atas kejadian ini, apalagi sudah viral di berbagai media dan medsos,“ ungkapnya.

Kepanikan saat seorang penumpang bercanda bom di pesawat Lion Air. Foto: Ist

Oleh karena itu, sebagai pihak keluarga, Diaz meminta aparat kepolisian setempat untuk dapat melihat secara jeli masalah tersebut. Bahkan, Diaz menduga ada kesalahan prosedur dari oknum pramugari yang tidak mendengar dengan baik kata-kata yang dilontarkan dari adik iparnya tersebut.

Apalagi menurut Diaz, sangat tidak mungkin adik iparnya membawa barang berbahaya sampai di pesawat, karena harus melalui pemeriksaan X-Ray dan serangkaian pemeriksaan yang cukup ketat telah dilakukan pemeriksaan secara ketat.

"Itu kan ditanggapi oleh penumpang lain jika itu bom, padahal Frantinus hanya mengatakan itu isinya laptop bu. Terus penumpang lain katakan itu bom, kemudian membuat panik,“ terangnya.

Diaz mengatakan, jika hal itu tentu tidak ada unsur kesengajaan untuk menciptakan keributan dan kepanikan di dalam pesawat.

"Kami keluarga minta lihat ini baik-baik dan tidak membuat adik kami bermasalah. Itu tidak perlu diproses hukum. Kami minta maaf kepada pemerintah dan penumpang yang panik dan cedera. Itu tidak ada suatu barang yang berbahaya. Jadi kami keluarga minta anak ini dipulangkan, apa karena dia orang asing di situ, terus kami dianggap dicurigai, sehingga tidak serta merta menyalahkan adik kami, dengan menggeneralisir persoalan ini bahwa dia aktornya,“ ujar Diaz

Atas kasus tersebut, Diaz berharap Presiden Jokowi dan Kapolri dapat melihat secara jernih persoalan itu, karena memang Frantinus Nirigi tercatat merupakan anak pendiam dan tidak pernah ribut.

"Kami minta Presiden yang selama ini memberikan perhatian penuh ke Papua, ada niat baik untuk bisa melihat persoalan ini secara jernih, Bapak Kapolri juga kami harap dapat melihat persoalan ini secara arif dan bijaksana, karena dia punya masa depan untuk kembali membangun daerah Papua. Bukan ditahan di penjara, karena tidak ada niat untuk itu,“ ucapnya.

1 / 2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini