Satai Kerbau Kudus & Sejarah Kerukunan Umat Beragama

Agregasi BBC Indonesia, Jurnalis · Minggu 03 Juni 2018 09:19 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2018 06 03 340 1905891 satai-kerbau-kudus-sejarah-kerukunan-umat-beragama-DzDOQUNhe9.jpg Satai Kudus (foto: BBC Indonesia)

KUDUS - Sunoto sibuk mengipasi arang di atas panggangan satai. Saat itu hanya beberapa tusuk satai yang tersisa.

"Ini satai terakhir, setelah ini habis," kata Sunoto sambil membolak-balik satainya agar matangnya rata.

Ia adalah penjual satai di Kudus, Jawa Tengah, generasi ketiga yang telah berjualan sejak 1950. 

Satai yang dia jual adalah satai kerbau, ciri khas kuliner di Kudus—kota dengan sejarah panjang kerukunan umat beragama sejak masa Sunan Kudus Sayyid Ja'far Shadiq Azmatkhan.

 

Ketua Yayasan Masjid Menara dan Makam Sunan Kudus, Nadjib Hasan, mengatakan saat itu Sunan Kudus melihat masyarakat setempat sudah memeluk agama Hindu yang sangat menghormati sapi.

 

Untuk menghormati pemeluk agama Hindu, kata Nadjib, Sunan Kudus melarang para pengikutnya menyembelih sapi agar tidak melukai hati pemeluk agama Hindu.

Sejak itulah masyarakat yang ingin mengkonsumsi daging memilih menyembelih kerbau sebagai gantinya.

"Ini juga bisa dilihat sebagai strategi dakwah Sunan Kudus yang mengajarkan kedamaian," jelas Nadjib Hasan kepada Furqon Ulya Himawan, wartawan di Yogyakarta yang melaporkan untuk BBC Indonesia.  

"Bahan bakunya daging. Karena adanya daging kerbau, maka masakannya pakai daging kerbau. Dan masakan yang berbasis kerbau ini menjadi khas dari Kudus," kata Nadjib.

Sampai sekarang masyarakat Kudus masih tetap memegang teguh larangan Sunan Kudus untuk tindak menyembelih sapi, termasuk pada perayaan Idul Adha.  

Sikap saling membantu masyarakat, menurut Nadjib, sangat terlihat, antara lain saat peringatan Sunan Kudus pada 10 Muharam dengan ribuan orang ikut memberi sumbangan atau mendapat pembagian nasi, termasuk warga non-Muslim.

"Bahkan yang memberikan sumbangan untuk acara Haul Mbah Sunan Kudus itu juga dari masyakat non-Muslim. Artinya, kebersamaan ini masih terus terjaga sampai sekarang," kata Nadjib Hasan.

 

Sunoto, penjual satai kerbau juga memahami tradisi yang terus dijaga masyarakat Kudus.

"Dulu Kanjeng Sunan Kudus menghormati pemeluk agama Hindu yang mensucikan sapi. Maka untuk toleransinya tidak nyembelih sapi. Biar tidak menyinggung agama lain. Sampai sekarang dilestarikan dan menjadi ikon kuliner Kudus." ujar Sunoto.  

Sajian lain dengan daging kerbau termasuk soto, milik Elis Yudiani, generasi ketiga penjual kuliner ini. Elis juga memahami mengapa kerbau yang dipilih saat kakeknya membuka warung soto ini.

"Sapi kan hewan yang dianggap suci pemeluk agama Hindu. Jadi oleh Sunan Kudus tidak boleh disembelih," kata Elis.

I

Wujud toleransi ini juga terlihat dari bentuk bangunan Menara Kudus yang menjadi bagian dari kompleks makam Sunan Kudus, yang aktif dari abad ke-15 sampai 16.

Menara ini berbentuk seperti candi, sesuatu yang menunjukkan sikap toleransi Sunan Kudus saat Islam menyebar di daerah itu.

(muf)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini