nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Polri Tangkap 96 Terduga Teroris, 14 Orang di Antaranya Ditembak Mati

Puteranegara Batubara, Jurnalis · Selasa 05 Juni 2018 15:32 WIB
https: img.okeinfo.net content 2018 06 05 337 1906833 polri-tangkap-96-terduga-teroris-14-orang-di-antaranya-ditembak-mati-UhXgAIb7sh.jpg Kapolri Jenderal Tito Karnavian (Antara)

JAKARTA - Kapolri Jenderal Tito Karnavian menyatakan bahwa jajarannya bersama Densus 88 Antiteror telah menangkap 96 terduga teroris di berbagai daerah pasca-kerusuhan di Mako Brimob, Kelapa Dua, Depok pada 8 Mei lalu. Sebanyak 14 orang di antaranya tewas ditembak karena melawan.

"14 (orang) di antaranya tertembak mati pada saat penangkapan," kata Tito di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Selasa (5/6/2018).

Penangkapan itu, sambung Tito merupakan upaya untuk melakukan pencegahan dini terhadap kelompok terorisme yang berpotensi melancarkan aksi terornya di Indonesia.

Tito menegaskan, kelompok terorisme yang paling diantisipasi dan diburu adalah Jamaah Ansharut Daulah (JAD). Pasalnya, jaringan teroris yang berafiliasi ke ISIS itu terdeteksi sudah menyebar ke hampir pelosok di Indonesia.

 

Penggeledahan di Unri (Antara)

"JAD ada sel aktif dan ada juga tidak aktif. Saya sudah memerintahkan kepala Densus 88 untuk sel-sel tidak terlalu aktif namun potensial agar di share kewilayahan atau Kapolda," tutur mantan Kapolda Metro Jaya itu.

Tito menyebut, telah mengeluarkan perintah kepada seluruh Kapolda untuk membentuk Satuan Tugas (Satgas) antiteror untuk mengawasi dan mendeteksi pergerakan sel-sel tidak aktif dari JAD.

"Para Kapolda juga bekerja sama dengan jajaran intelijen maupun jajaran TNI sel-sel yang dianggap oleh satgas Densus tidak terlalu aktif sehingga mereka tidak monitor," ucap Tito.

 

Penggeledahan rumah terduga teroris di Karanganyar (Bramantyo/Okezone)

Dalam operasi penangkapan teroris, terakhir Densus 88 Antiteror menangkap beberapa orang terduga teroris. Antara lain, tiga orang di Universitas Riau (UNRI) dan beberapa orang di Lampung.

"Penangkapan lain termasuk di Riau di satu Universitas terpaksa dilakukan karena mereka menggunakan fasilitas itu untuk melakukan pembuatan bahan peledak. Terakhir nangkap di Lampung. Kemudian masih ada juga dibeberapa wilayah," tutup Tito.

(sal)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini