nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Asal Usul Halalbihalal, Tradisi yang Hanya Ada di Indonesia saat Lebaran

Salman Mardira, Jurnalis · Kamis 14 Juni 2018 08:57 WIB
https: img.okeinfo.net content 2018 06 14 337 1910300 asal-usul-halalbihalal-tradisi-yang-hanya-ada-di-indonesia-saat-lebaran-pMEhURur7N.jpg Halalbihalal di Kementerian Perekonomian (Okezone)

JAKARTA – Halalbihalal sudah menjadi budaya masyarakat Indonesia yang dilakoni setelah Idul Fitri atau lebaran. Halalbihalal biasanya diisi dengan kegiatan positif seperti berkunjung ke rumah keluarga, bermaaf-mafan, silaturahmi, reuni atau makan-makan. Lalu, dari mana asal usul dan sejarah halalbihalal sebenarnya?

Meski namanya terkesan ‘Arab’, tapi istilah halalbihalal tidak akan ditemukan dalam kepustakaan Islam atau Arab sekalipun. Artinya, halalbihalal hanya ada di Indonesia.

Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa dalam fanpage Facebook resminya menjelaskan bahwa halalbihalal sebetulnya dibentuk dari kata serapan halal dengan menyisipkan bi ‘dengan’ (bahasa Arab) di antara halal. Oleh karena itu, penambahan -al (-l) pada bilhalal tidak tepat. Begitu pula penulisan unsur-unsurnya harus digabung karena ketiga unsur itu dianggap sebagai satu kepaduan.

Halalbihalal tidak dapat diartikan secara harfiah, yakni halal, bi, halal (‘halal dengan halal atau boleh dengan boleh’). Namun, apabila kita lihat makna kata halal, barangkali ada kaitannya dengan istilah itu.

Halal berasal dari halla, yang di dalam bahasa Arab setidaknya ada tiga makna: halla al-habl (‘benang kusut terurai kembali’); halla al-maa’ (‘air keruh diendapkan’); halla as-syai’ (halal sesuatu’). Berdasarkan ketiga makna tersebut, ada benang merah yang dapat ditarik, yaitu kekusutan, kekeruhan, kesalahan yang selama ini dilakukan dapat dihalalkan kembali. Dengan demikian, semuanya lebur dan kembali seperti sediakala.

Makna halalbihalal di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah hal maaf-memaafkan setelah menunaikan ibadah puasa Ramadan, biasanya diadakan di sebuah tempat (auditorium, aula, dsb.) oleh sekelompok orang. Berdasarkan pengertian itu, halalbihalal dapat dipahami sebagai suatu kegiatan yang dilakukan secara bersama-sama selepas bulan puasa dalam suasana Idulfitri pada bulan Syawal, tujuannya adalah sarana bermaaf-maafan sesama orang muslim dan orang yang hadir dalam acara tersebut agar segala kesalahan akan menjadi lebur.

Menurut riwayat, istilah halalbihalal mulanya digagas oleh seorang ulama bernama KH Wahab Chasbullah. Ceritanya berawal saat Indonesia dilanda disintegrasi bangsa pada 1948 di mana para elite politik saling bertengkar dan pemberontakan seperti DI/TII dan PKI di mana-mana.

Pada pertengahan Ramadan tahun 1948, Presiden Soekarno memanggil KH Wahab Chasbullah ke Istana Negara dan minta masukan untuk mengatasi situasi politik. “Kemudian Kiai Wahab memberi saran kepada Bung Karno untuk menyelenggarakan Silaturrahmi, sebab sebentar lagi Hari Raya Idul Fitri, di mana seluruh umat Islam disunahkan bersilaturrahmi,” demikian dikutip dari laman sejarahri.com.

Kiai Wahab lalu menyarankan dipakai istilah ‘halalbihalal’ dan Soekarno manut. Sang Proklamator lalu mengundang semua tokoh politik ke Istana Negara untuk menghadiri silaturahmi bertajuk ‘Halalbihalal’.

Sejurus kemudian, instansi-instansi pemerintah menyelenggarakan halalbihal juga yang kemudian diikuti oleh warga masyarakat secara luas. Dan sampai sekarang halalbihalal terus digalakkan setiap lebaran.

Prof Abdul Malik Karim Amrullah alias Buya Hamka diakui salah satu tokoh yang sangat berpengaruh dalam mempopulerkan halalbihalal ke masyarakat.

(sal)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini