nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Kapal Tenggelam di Makassar, Distribusi Angkutan Laut untuk Mudik Harus Diperketat

Fakhrizal Fakhri , Jurnalis · Kamis 14 Juni 2018 10:48 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2018 06 14 340 1910323 kapal-tenggelam-di-makassar-distribusi-angkutan-laut-untuk-mudik-harus-diperketat-RnOiu2EbKH.JPG Ilustrasi kapal tenggelam. (Foto: Shutterstock)

JAKARTA – Pengamat kebijakan publik, Agus Pambagio, mengatakan tenggelamnya Kapal Motor (KM) Arista yang menewaskan belasan orang di perairan Makassar, Sulawesi Selatan, disebabkan tidak berfungsinya tugas Dirjen Perhubungan Laut dalam mengawasi laiknya moda transportasi laut saat arus mudik Lebaran 2018.

"Saya sudah katakan mungkin sebulan-dua bulan lalu, bahwa laut itu Dirjen Perhubungan Laut sepertinya tidak berfungsi dengan baik sehingga Anda perhatikan kecelakaan laut seperti tahun ini saja banyak sekali, mungkin hampir seminggu sekali kalau Anda lihat," kata Agus saat dihubungi Okezone, Kamis (14/6/2018).

Menurut dia, Dirjen Perhubungan Laut Agus H Purnomo harus segera membereskan persoalan tersebut. Terlebih lagi kecelakaan KM Arista juga diketahui terjadi akibat kapal tersebut bukan diperuntukkan untuk angkutan umum.

"Jadi di situ ada hal-hal yang mesti dibereskan, saya sudah ingatkan. Jadi kalau ini kejadian ya sudah pasti kejadian," ujar dia.

Agus menilai pemerintah harus memperketat pengawasan moda transportasi laut dengan memastikan setiap kapal yang membawa pemudik dalam keadaan laik jalan. "Apakah kapal itu pelampungnya lengkap, tidak ada yang ngecek. Apakah kapal itu overkapasitas, tidak ada ngecek segala macam itu, kan berbahaya," papar Agus.

Menurut dia, tenggelamnya KM Arista terjadi karena kurangnya pengawasan yang dilakukan pemerintah. Selain itu, tugas pemerintah juga harus mengatur apakah setiap kapal yang akan berjalan laik jalan atau tidak.

"Memang di daerah timur sana tidak sebaik kita di barat atau Pulau Jawa. Pertama, angkutannya itu jarang. Kedua, tidak terkoneksi dengan baik dan harus menunggu bahkan bisa hari," imbuhnya.

Agus melanjutkan bahwa persoalan jarangnya moda transportasi laut di wilayah bagian timur Indonesia harus segera diperbaiki dalam mengantisipasi arus mudik balik yang terjadi setelah perayaan Lebaran. Dengan begitu, tidak akan terjadi lagi kapal tenggelam karena kelebihan muatan saat berlayar.

"Kalau kapalnya ada sehari berapa gitu dan cukup untuk angkut penumpang mungkin dua atau tiga kali sehari ya mungkin akan tertolong penumpang itu. Ini kan orang mau berangkat ya jadinya masuk saja," lanjutnya.

"Sementara Syahbandar pelabuhannya tidak ketat. Harusnya ketat, dan itu tidak bisa harus miliki standar meskipun jarang. Sehingga para penumpang itu harusnya meminta menunggu (bila angkutan kapalnya kurang)," tambah Agus.

Lebih lanjut dirinya mengimbau agar penambahan moda transportasi kapal di perairan timur Indonesia harus terdistribusi dengan baik selama arus mudik Lebaran. Apalagi, penambahan kapal tersebut memang telah diproses pemerintah.

"Kemudian Kepala Syahbandar harus jelas dan itu nakhoda dan awak kapal juga miliki sertifikat yang jelas. Harus tenaga aparat keamanan bertindak tegas. Kalau tidak ya sudah," tandasnya.

(han)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini